Ilustrasi/Net
Ilustrasi/Net
KOMENTAR

DALAM dua pekan, dunia penerbangan internasional terhenyak oleh dua peristiwa turbulensi. Peristiwa turbulensi Singapore Airlines beberapa waktu lalu menewaskan seorang penumpang asal Inggris dan 104 penumpang lainnya terluka.

Terbaru, hal yang sama menimpa Qatar Airways dalam penerbangan Doha menuju Dublin yag melukai 12 penumpang pesawat.

Lantas, peristiwa turbulensi yang umum dialami penerbangan ini disebabkan oleh apa?

Mengutip Guardian, turbulensi adalah penyebab utama cedera dalam penerbangan pada awak dan penumpang. Turbulensi merupakan hal yang umum terjadi dalam penerbangan. Otoritas Keselamatan Penerbangan Sipil Australia menyebut, turbulensi dirasakan ketika sebuah pesawat terbang melalui udara yang relatif terganggu, yang menyebabkan guncangan ke samping dan vertikal secara tiba-tiba. 

Badan tersebut mendefinisikan delapan jenis turbulensi, termasuk badai petir, termal, frontal, dan "gelombang gunung", yang terbagi dalam enam kategori tingkat keparahan.

Menurut Guido Carim Jr, Kepala Griffith Aviation di Griffith University, umumnya turbulensi diperkirakan terjadi di pegunungan tinggi, lautan, garis khatulistiwa, dan saat memasuki aliran jet. 
Namun, turbulensi udara jernih, yang biasanya disebabkan oleh perubahan arah angin yang sangat mendadak. Hal itu dapat terjadi di mana saja dan kapan saja. 

"Faktor-faktor yang sangat kompleks saling berinteraksi sehingga menciptakan turbulensi," kata Carim yang seorang mantan pilot.

Carim menambahkan, meskipun teknologi radar untuk mendeteksi turbulensi semakin membaik, namun tetap belum ada yang bisa secara akurat memprediksi di mana dan kapan turbulensi akan terjadi.

Dia telah menerbangi rute internasional melintasi Andes yang mengharuskan tanda sabuk pengaman menyala ketika mendekati pegunungan. 

Teluk Benggala selama musim hujan juga terkenal bergejolak, seperti halnya saat terbang di atas Pegunungan Alpen.

"Selain itu, kelembapan dan suhu yang tinggi cenderung membuat turbulensi semakin kuat, jadi terbang dari London ke New York City pada bulan-bulan musim panas kemungkinan akan lebih bergelombang dibandingkan terbang dengan rute yang sama pada bulan Desember," katanya.

Apa saja rute penerbangan yang paling bergejolak di dunia?
Situs prakiraan turbulensi Swedia, Turbli, menggunakan data dari Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional AS dan Kantor Met Inggris menyebutkan bahwa rute paling bergejolak pada 2023 adalah:

1. Santiago, Chili ke Santa Cruz, Bolivia
2. Almaty, Kazakhstan ke Bishkek, Kyrgyzstan
3. Lanzhou ke Chengdu, China
4. Centrair ke Sendai, Jepang
5. Milan, Italia ke Jenewa, Swiss

Menurut situs tersebut, negara-negara yang paling bergejolak untuk terbang di atasnya pada April adalah Polinesia Prancis, Fiji, Pakistan, Namibia, dan Uruguay. Pasifik Selatan juga menduduki peringkat lautan paling bergejolak yang pernah dilintasi.

Adapun, berdasarkan angka Biro Keselamatan Transportasi Australia menunjukkan bahwa secara global pada 2023, terdapat 3.047 insiden pesawat komersial. Dari jumlah tersebut, 236 diantaranya disebabkan oleh cuaca.

Tercatat, sepanjang 2024, telah terjadi 790 kecelakaan pesawat komersial, 52 diantaranya disebabkan oleh cuaca. [F]




Nikmati Libur Sekolah di Plataran Puncak Villas

Sebelumnya

Kementerian Agama Ingatkan Jemaah Agar Tidak Ketinggalan Rukun Haji

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Horizon