Ilustrasi seorang muslimah bersedih/Freepik
Ilustrasi seorang muslimah bersedih/Freepik
KOMENTAR

BULAN Ramadan baru saja melewati 10 hari pertama. Hari-hari yang dipenuhi rahmat Allah, yang tentu saja kemuliaannya diimpikan oleh setiap muslim.

Sejak awal bulan puasa, ghirah ibadah begitu menggelora. Sahur dan berbuka dijalankan dengan penuh suka cita. Bangun sahur tanpa kendala. Lauk pauk tersaji lengkap di meja mekan. Apalagi di kala berbuka. Segala takjil dicoba.

Salat sunnah rawatib tak ketinggalan dilakukan mengiringi salat lima waktu. Menempati shaf terdepan saat salat Tarawih di masjid. Salat tahajud pun masih bisa dikerjakan sebelum masuk waktu sahur. Sedekah di kotak amal tak pernah lupa. Belum lagi sedekah secara online.

Tadarus tak ketinggalan. Terbaca sebuah unggahan di media sosial, siapa yang ingin 3 x khatam Al-Qur’an selama Ramadan, maka dia harus membaca 12 halaman (6 lembar) Al-Qur’an setiap selesai salat fardhu.

Namun, baru juga 10 hari berlalu, entah mengapa ghirah itu perlahan-lahan melemah. Jumlah halaman ayat Al-Qur’an yang dibaca setiap hari tak sampai setengah dari target.

Sedekah mulai berkurang nominalnya. Salat sunnah rawatib hampir tak pernah dilakukan. Tarawih mulai bolong-bolong, Tahajud pun seringkali terlupa.

Bangun sahur mulai terlambat, hingga makan harus terburu-buru berkejaran dengan waktu imsak.

Pekerjaan kembali menyita waktu. Belum lagi ‘kesibukan’ untuk mulai memikirkan keperluan Lebaran. Para ibu sibuk menulis daftar: baju lebaran yang tak cukup satu potong, lauk-pauk istimewa untuk kumpul keluarga, hingga kue kering yang wajib ada di atas meja.

Jangan sampai kita larut dalam kelemahan itu. Niatkan untuk kembali istiqamah. Seperti firman Allah Swt. dalam surah Fussilat ayat 30-32 yang artinya:

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surge yang telah dijanjikan kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya (surga) kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh apa yang kamu minta. Sebagai penghormatan (bagimu) dari Allah Yang Maha Pengampun Maha Penyayang.”

Hanya dengan istiqamah-lah, kita bisa meraih rida dan perlindungan Allah. Tanpa istiqamah, ibadah kita bisa jadi tak berarti.

Maka saat ghirah ibadah kita melemah, berdoalah. Kita harus memperkuat doa agar Allah memudahkan kita untuk istiqamah. Berdoa dengan sepenuh hati agar Allah mengembalikan ghirah ibadah kita untuk menetap di jiwa kita.

Dan di sinilah kita memerlukan circle  yang terdiri dari muslim-muslim yang taat. Jangan ragu untuk meminta pertolongan mereka untuk menyemangati kita. Karena ukhuwah yang hakiki sejatinya saling menyerukan kebaikan demi mendekatkan diri kepada Allah Swt.




Adab Anak Adalah Tanggung Jawab Orang Tuanya

Sebelumnya

Apa Hubungan Bersyukur dengan Percaya Diri bagi Seorang Muslimah?

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Tadabbur