Ilustrasi perbukitan batu/Freepik
Ilustrasi perbukitan batu/Freepik
KOMENTAR

ABU Bara’ Amir bin Malik diseru oleh Rasulullah agar memeluk agama Islam, tetapi cahaya hidayah belum menyapa hatinya. Akan tetapi tokoh berpengaruh di kawasan Nejd ini menunjukkan perhatian terhadap syiar Islam. Pria yang dijuluki Mula’ibul-assinnah, sang pemanah yang mahir ini, meminta diutus pengajar Al-Qur’an ke kampung halamannya.

“Aku menjamin keamanan mereka,” ucap Abu Bara’.

Jaminan itulah yang membuat Nabi Muhammad mengutus 70 huffaz atau para penghafal Al-Qur’an. Al-Munzir bin Amr dari Bani Sa’idah yang bertindak sebagai pemimpin rombongan dan langsung bergerak dari Madinah menuju Nejd.

Rombongan para penghafal Al-Qur’an tiba di Bi’r Ma’unah. Haram bin Milhan bertugas mengantarkan surat Rasulullah kepada Amir bin Thufail. Tanpa membaca isi surat tersebut, Amir bin Thufail langsung menyuruh anak buahnya menikam utusan Nabi, sehingga tombak itu tembus dari arah belakang hingga bagian depan tubuhnya.

Di penghujung hayatnya, Haram bin Milhan berseru, “Allahu akbar! Sungguh, aku beruntung, demi Tuhan Pemilik Ka’bah.”

Ibnu Hisyam pada bukunya Sirah Nabawiyah (2019: 490) mengisahkan:

Rombongan bergerak sampai tiba di Bi'r (sumur) Ma’unah. Letaknya di antara tanah Bani Amir dan daerah bebatuan Bani Sulaim. Kedua wilayah ini saling berdekatan, tetapi Bi'r Ma’unah lebih dekat ke wilayah Bani Sulaim yang berbatu-batu.

Sementara singgah di daerah itu, mereka mengutus Haram bin Milhan untuk menyampaikan surat Rasulullah kepada musuh Allah, Amir bin Thufail. Lelaki itu tidak membaca dulu isi surat tersebut, melainkan langsung menyerang Haram bin Milhan dan membunuhnya.

Ia mengajak Bani Amir untuk menyerang utusan-utusan Rasulullah, tetapi mereka menolak. Mereka berkata, “Kami tidak akan mengkhianati perjanjian Abu Bara’.” Sebagaimana diketahui, Abu Bara' sudah mengadakan perjanjian dengan Bani Amir untuk melindungi utusan-utusan Rasulullah.

Amir bin Thufail beralih ke kabilah-kabilah Bani Sulaim seperti Ushayyah, Ri'il, dan Dzakwan untuk mengajak mereka menghabisi duta-duta Rasulullah. Kabilah-kabilah itu menyambut seruannya. Mereka keluar dan mengepung.

Para utusan Rasulullah itu hanyalah para penghafal Al-Qur’an dan bukan pasukan yang terlatih secara militer. Jumlah mereka pun hanya 70 orang yang harus berhadapan dengan banyak suku Arab yang dihasut oleh Amir bin Thufail. Dari semula menjalankan misi mengajarkan Al-Qur’an, mereka justru berhadapan dengan pembantaian massal.

Husain Mu'nis dalam bukunya Quraisy Dari Kabilah Makkah Ke Peradaban Dunia (2022: 351) mengungkapkan:

Para pemuda yang berangkat untuk menyebarkan dakwah Islam, yang tergabung dalam brigade Bi’r Ma’unah belum pernah belajar sedikit pun tentang seni berperang dan strateginya dari nenek moyang mereka.

Akan tetapi kita mendapati masing-masing dari mereka bersikap layaknya anggota pasukan militer yang terorganisir dengan rapi. Mereka tabah dan memilih salah seorang dari mereka sebagai pemimpin. Lalu bermusyawarah ketika terkepung.

Mereka meyakini bahwa tiada tempat bagi mereka untuk menghindarkan diri dari syahid. Mereka pun menyongsong kematian dalam keagungan dan kebesaran jiwa.

Para penghapal Al-Qur’an berperang mati-matian dengan senjata seadanya menghadapi musuh yang datang bagaikan banjir bandang. Bi’r Ma’unah lebih tepat disebut sebagai pembantaian terhadap duta-duta yang dalam hukum apapun dilindungi nyawanya.

Seluruh utusan Rasulullah mati syahid dalam misi mulia. Tidak ada yang selamat selain Ka’ab bin Zaid dan Amr bin Umayyah Adh-Dhamari. Ka’ab terkapar bersama tumpukan mayat dan dikira sudah mati di antara seluruh rekannya. Setelah situasi aman, Ka’ab pun menyelinap pergi dan dia berumur panjang hingga syahid dalam Perang Khandak.

Masih ada dua orang lagi yang sempat memisahkan diri dari rombongan, yakni Amr bin Umayyah Adh-Dhamari dan Mundzir bin Uqbah bin Amir. Setelah melihat banyak burung beterbangan, keduanya pun menyusul ke lokasi dan berperang gagah berani. Mundzir akhirnya mati syahid. Sementara Amr bin Umayyah Adh-Dhamari ditawan oleh Amir bin Thufail tapi kemudian berhasil lolos.

Abdul Mun’im al-Hasyimi pada bukunya Sirah Nabawiyah (2015: 288-289) menceritakan:

Akhirnya, seluruh Qurra’ gugur sebagai syuhada kecuali Ka’ab bin Zaid. Karena ia berhasil mengelabui musuh dengan berpura-pura mati di tengah tumpukan jasad para Qurra’ yang syahid. Ka’ab masih bertahan hidup hingga akhirnya gugur sebagai syahid di perang Khandak.

Lantas pertanyaannya adalah bagaimana Rasulullah saw. mengetahui berita tentang para Qurra’ yang telah gugur sebagai syuhada?

Ketika itu juga, datang kabar dari langit lewat Jibril As. Kemudian Rasulullah saw. keluar dengan mengucapkan puji syukur kepada Allah Swt. dan kemudian berkata, “Sesungguhnya saudara-saudara kalian telah berhadapan dengan orang-orang musyrik. Mereka telah dibunuh dan berkata Tuhan kami, sampaikanlah berita kepada kaum kami bahwa kami telah menemui Tuhan kami. Kami telah rida kepada-Nya dan Ia juga rida kepada kami.”

Rasulullah sangat bersedih atas tragedi Bi’r Ma’unah, terlebih peristiwa memilukan ini terjadi berdekatan dengan tragedi ar-Raji’. Kedua peristiwa pengkhianatan itu terjadi dalam waktu yang berdekatan (bulan Shafar tahun keempat Hijriyah). Bisa kita bayangkan betapa berat beban kesedihan yang menimpa batin beliau.

Abu Bara’ sebagai pihak yang mengundang para penghapal Al-Qur’an sangat dihantui rasa bersalah. Dia pun mengutus putranya bernama Rabiah yang langsung membunuh Amir ibn at-Thufail karena melanggar perjanjian damai dengan membunuh para utusan Nabi.




Belum Ada Perang Seunik Perang Ahzab

Sebelumnya

Mukjizat Nabi pada Periuk Istri Jabir

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Sirah Nabawiyah