Ilustrasi cinta orang tua/Cusson Kid
Ilustrasi cinta orang tua/Cusson Kid
KOMENTAR

KETIKA berbicara tentang anak, bukan hanya hanya postur tubuh yang mungil dan suaranya yang lembut, namun mereka juga tidak memiliki kemampuan dalam melindungi diri. Karenanya, orang tua menjadi harapan utama anak-anak untuk menangkis gangguan fisik maupun verbal dari mana saja.

Rasulullah menunjukkan perhatian sangat besar terhadap aspek ini. Salah satunya berhati-hati menjaga lisan yang dapat membuat hati anak terluka.

Ibnu Hamzah Al-Husaini Al-Hanafi Ad-Damsyiqi dalam buku Asbabul Wurud Jilid 2 (2011: 156) menerangkan, sesungguhnya Rasulullah mengunjungi Utsman bin Mazh’un. Utsman ditemani seorang anak yang masih kecil yang sedang dicelanya.

Maka Nabi bertanya kepadanya, “Apakah bocah ini anakmu sendiri?”

Utsman menjawab, “Benar.”

Beliau bertanya lagi, “Tidak cintakah engkau kepadanya?”

Utsman menjawab, “Demi Allah, wahai Rasulullah, sungguh aku mencintainya.”

Beliau bersabda, “Apakah engkau tidak tambahi kasih sayangmu kepadanya?”

Utsman menjawab, “Tentu saja, demi ayah dan ibuku.”

Beliau bersabda, “Sesungguhnya barang siapa meridai anak kecil yang berasal dari keturunannya sendiri, sampai anak itu rida pula, Allah akan meridainya di hari kiamat sampai dia rida.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dari Watsilah ibnu Asqa’)

Luka di tubuh bisa lekas sembuh dengan pengobatan, tapi percayalah luka di hati anak lama sekali sakitnya dan entah kapan bisa sembuh. Dengan mudah kita mendapati orang-orang yang beranjak dewasa, bukan saja masih teringat dengan luka lama di masa kecil, bahkan rasa sakit itu malah berujung menjadi trauma.

Betapa indahnya cara Rasulullah menegur Utsman bin Mazh’un yang kedapatan mencela anaknya sendiri. Sehingga Nabi menegurnya dengan pertanyaan demikian menyentuh, “Tidak cintakah engkau kepadanya?”

Tetapi sering kali atas nama cinta kepada anak, tidak sedikit orang yang justru menyakiti buah hatinya. Amarah di dada orang tua sudah padam, sementara anak-anak mengalami perih di sudut hati.

Tidak ada cinta dengan bingkai mencela, cinta itu mengandung kemuliaan dan keagungan. Apabila orang tua mengaku betapa mencintai putra-putrinya, maka renungkanlah pertanyaan Rasulullah berikutnya, “Apakah engkau tidak tambahi kasih sayangmu kepadanya?”

Betapapun besarnya rasa cinta ayah bunda kepada anak-anak, jangan dulu berpuas diri. Teruslah menambah rasa cinta itu, karena anak-anak bisa segera memahami bahasa cinta.

Berbeda dengan kata-kata celaan yang tidak dipahami anak, justru melukai hati. Bahasa cinta langsung menyentuh jiwa mereka.

Sesuai petunjuk Rasulullah, apabila orang tua ingin berkomunikasi yang baik dengan anak, terus menambah cinta. Tidak hanya anak yang ingin mendapatkan rida orang tua, tetapi orang tua juga memerlukan rida anak.

Dan untuk mencapainya, tentu saja ridalah terhadap anak-anak kandungnya. Apapun kondisi mereka, cintailah dengan setulus-tulusnya. Upayakan tidak mencela. Dari keridaan anak itulah, Allah Swt memberikan rida-Nya kepada orang tua.

Ya, begitulah cara Nabi memberikan pengertian tentang bagaimana mencintai anak untuk mendapatkan rida Allah. Salah satunya, menghindari ucapan yang menyakiti hati anak.




Adab Anak Adalah Tanggung Jawab Orang Tuanya

Sebelumnya

Apa Hubungan Bersyukur dengan Percaya Diri bagi Seorang Muslimah?

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Tadabbur