Ilustrasi kemilau emas/Freepik
Ilustrasi kemilau emas/Freepik
KOMENTAR

PASUKAN Quraisy lari tunggang langgang usai berhasil dipukul mundur kaum muslimin. Mereka melarikan diri meninggalkan medan Perang Uhud. Begitu pula dengan perempuan-perempuan Quraisy yang terus berlari kencang hingga perhiasannya berceceran.

Melihat itu, kaum muslimin terus mengejar. Namun, bukan untuk memburu musuh yang kabur ketakutan, melainkan sibuk memunguti harta yang berserakan ditinggalkan kaum Quraisy.

Di sinilah situasi mulai memburuk. Pasukan pemanah yang semestinya bersiaga di lereng bukit, turun dan ikut memunguti harta yang ditinggalkan musuh. Padahal, Nabi Muhammad sudah mengingatkan agar pasukan pemanah tetap dalam posisi pertahanan.

Syekh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri dalam buku Ar-Rahiq al-Makhtum (2015: 297) menceritakan, Beliau (Nabi Muhammad Saw) membagi mereka dalam beberapa regu, termasuk regu panah istimewa berkekuatan 50 orang dan dipimpin oleh Abdullah bin Jabir.

Beliau menempatkan mereka di bukit utara lembah Qanah, yang di kemudian hari dikenal sebagai Jabal Rumat. Posisinya sekitar 150 meter di tenggara pasukan muslimin. Tujuan penempatan regu panah ini bisa diketahui dari instruksi Rasulullah kepada mereka:

“Hujani pasukan kavaleri musuh dengan panah, jangan sampai mereka menyerang kita dari belakang. Bagaimanapun kondisinya, kita menang atau kalah, kalian harus tetap di tempat agar kami tidak diserang dari arah kalian.”

Sayangnya, kelalaian pasukan pemanah menjadi awal dari petaka. Pasukan berkuda Quraisy kembali menyerbu dari celah bukit. Hanya tersisa 10 pasukan pemanah, yang tidak mampu menghadang serbuan pasukan berkuda musuh.

Posisi pun menjadi terbalik. Giliran pasukan muslimin yang tercerai-berai. Pasukan Quraisy yang tadinya melarikan diri, balik menyerbu secara besar-besaran hingga kaum muslimin terdesak.

Dalam surat Ali Imran ayat 155, Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antara kamu ketika terjadi pertemuan (pertempuran) antara dua pasukan itu, sesungguhnya mereka digelincirkan oleh setan, disebabkan sebagian kesalahan (dosa) yang telah mereka perbuat (pada masa lampau), tetapi Allah benar-benar telah memaafkan mereka. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyantun.”

Kemilau emas Perempuan Quraisy telah membuat mereka tergoda oleh bujuk rayu setan. Para pemanah itu lupa diri. Kemenangan yang sudah di pelupuk mata, sirna sudah.

Riyadh Hasyim Hadi dalam buku Sirah Nabawiyah Riwayat Imam Al-Bukhari (2020: 197) juga menguraikan, Ubaidillah bin Musa menceritakan, hari itu kami bertemu dengan pasukan musyrikin. Nabi menempatkan para ahli panah dengan menunjuk Abdullah sebagai komandan mereka. Beliau berpesan agar tetap di tempat.

“Saat kalian melihat kita mengalahkan mereka pun kalian tetap di tempat, jangan bergeser. Kalau mereka mengalahkan kita, kalian pun tetap, jangan bantu kami.”

Saat kami menang, mereka bergerak. Sampai kaum wanita segera lari ke gunung dengan betis terbuka dan gelang kakinya kelihatan. Maka mereka mulai berteriak, “Ghanimah, ghanimah!"

Abdullah mengingatkan pasukan pemanah akan pesan Rasulullah agar tetap pada pos masing-masing. Tetapi, peringatan itu tidak dipedulikan.

Rasulullah berseru mengingatkan agar pasukan muslimin kembali ke pos masing-masing. Akan tetapi, teriakan itu justri terdengar oleh pihak musuh yang berbalik melakukan penyerangan.

Kemudian Rasulullah bersabda, “Siapa pun yang melawan serangan mereka, akan mendapatkan surga. Dia akan bersamaku di surga”.

Kala itu, hanya Sembilan orang sahabat yang gigih berjuang, Mereka harus menghadapi serbuan pihak Quraisy yang bagaikan air bah, yang sangat berniat menghilangkan nyawa Rasulullah.

Nabi tidak patah semangat, dengan gagah berani memimpin sisa pasukan muslimin. Beliau tidak menyerah atau pun melarikan diri dari medan tempur.

Melihat itu, beberapa sahabat dari kaum Anshar secara berani melindungi Nabi Muhammad. Mereka berjuang mati-matian menangkis serangan musuh. Tujuh sahabat Anshar itu pun gugur satu per satu, hanya tersisa dua sahabat, Thalhah dan Sa’ad.

Pasukan Quraisy lalu melempari Thalhah dan Sa’ad dengan batu-batu sampai mengenai gigi dan melukai bibir beliau. Para prajurit Qurasiy memukul Nabi Muhammad dan berhasil melukainya. Salah satu pukulan mengenai kening Nabi.

Rasulullah terus diserang oleh kaum musyrikin. Namun, mereka tidak berhasil membunuh beliau. Itu semua berkat keberanian para sahabatnya yang melindungi dengan gigih. Meskipun tersisa dua orang saja, serangan bertubi-tubi pihak musuh berhasil diatasi.




Perang Badar Kedua

Sebelumnya

Pengkhianatan Yahudi Bani Nadhir

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Sirah Nabawiyah