Kaum Quraisy menyiapkan pasukan empat kali lebih besar dari pasukan milik Rasulullah Saw/Detik
Kaum Quraisy menyiapkan pasukan empat kali lebih besar dari pasukan milik Rasulullah Saw/Detik
KOMENTAR

BETAPA terhinanya kaum Quraisy di mata bangsa Arab setelah kekalahan mereka di Perang Badar. Setelah kejadian memalukan itu, musyrikin Quraisy tekun mengumpulkan uang. Mereka menyadari, ongkos perang tidak pernah murah. Dengan dana yang besar, mereka bisa menyiapkan pasukan lebih dahsyat menyerbu Madinah.

Ali Muhammad Ash-Shallabi dalam bukunya Sejarah Lengkap Rasulullah Jilid 2 (2012: 3) menuliskan, maka Abdullah bin Rabi’ah, Ikrimah bin Abi Jabal, Al-Harits bin Hisyam, Huwaithib bin Abdul Uzza dan Shafwan bin Umayyah berkeliling menemui keluarga korban perang Badar.

Mereka berbicara kepada Abu Sufyan dan orang-orang Quraisy yang memiliki harta pada kafilah tersebut dengan mengatakan,

“Sesungguhnya Muhammad telah membuat kamu kehilangan keluarga, membunuh orang-orang yang kamu sayangi, maka bantulah kami dengan harta benda untuk memeranginya. Semoga dengan itu kita bisa membalas dendam atas kematian keluarga kita.”

Abu Sufyan berkata, “Aku adalah orang pertama yang setuju.”

Aroma dendam tercium sangat menyengat dari rencana penyerbuan kaum Quraisy. Di antaranya Jubair yang menjanjikan kemerdekaan kepada budaknya, Wahsyi, dengan syarat harus membunuh paman Nabi, yakni Hamzah. Kematian pamannya di Perang Badar membuat Jubair dendam sekali.

Ali Muhammad Ash-Shallabi (2012: 3) melanjutkan, Jubair bin Muth'im memanggil seorang hamba sahayanya berkulit hitam bernama Wahsyi, di mana ia pandai melemparkan tombak seperti keahlian orang-orang Habasyah.

Jubair berkata kepadanya, "Pergilah bersama pasukan Quraisy, jika engkau mampu membunuh Hamzah paman Muhammad untuk membalas kematian pamanku Thu'aimah bin Adi, maka engkau bebas dari hamba sahaya."

Hindun lebih dendam lagi, karena ayah dan saudaranya tewas di tangan Hamzah pula di Perang Badar. Wanita ini menjanjikan imbalan perhiasan. Wahsyi jadi kian giat berlatih lempar tombak. Terbayang di matanya kebebasan sebagai budak dan sekaligus juga kaya raya.

Pasukan Quraisy kemudian menyerbu Madinah secara besar-besaran. Kaum musyrikin berkekuatan 3.000 prajurit, dilengkapi 3.000 unta, 200 kuda, dan 700 baju besi. Abu Sufyan menjadi komandan tertinggi. Sedangkan Khalid bin Walid komandan pasukan berkuda. Tokoh-tokoh penting Quraisy turut serta dalam perang yang dipersiapkan secara matang.

Tak ketinggalan, laskar wanita juga menyertai pasukan musyrikin. Siapa lagi yang jadi komandannya kalau bukan Hindun, istri Abu Sufyan. Para wanita Quraisy ini bertugas mengobarkan semangat pasukan tempur. Mereka menabuh rebana penuh gelora. Kaum hawa melantunkan syair-syair perang. Nantinya, setelah kemenangan diraih, para wanita inilah yang berperan menggelar pesta besar-besaran.

Segera Nabi Muhammad mengumpulkan penduduk Madinah untuk bermusyawarah. Ternyata, ada dua pendapat cara menghadapi serangan Quraisy. Pertama, penduduk Madinah bertahan di dalam kota. Para lelaki akan berperang di jalanan kota. Sedangkan wanita dan anak-anak melemparkan batu-batu dari atas rumah. Cara ini dipandang lebih menguntungkan, karena seluruh penduduk Madinah bisa berperang bersama.

Kedua, ada yang berpendapat agar musuh dihadapi di luar kota Madinah. Cara ini diusulkan oleh anak-anak muda yang sangat bersemangat. Mereka percaya diri mampu menghadapi Quraisy dalam perang terbuka. Anak-anak muda itu tidak setuju perang di dalam kota, sebab kebun mereka akan rusak oleh kuda-kuda Quraisy. Mereka tidak mau mengalami kerugian harta benda.




Belum Ada Perang Seunik Perang Ahzab

Sebelumnya

Mukjizat Nabi pada Periuk Istri Jabir

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Sirah Nabawiyah