Rindulah terhadap surga dengan rindu yang sebenar-benarnya rindu/Net
Rindulah terhadap surga dengan rindu yang sebenar-benarnya rindu/Net
KOMENTAR

KALAU hanya sekadar rindu, maka setiap orang bisa merasakannya. Rindu saja tidak cukup, tetapi butuh bukti dan aksi nyata dari kerinduan yang benar. Apa lagi jika rindu terhadap surga, yang tidak cukup hanya berhenti sebagai sebuah rasa saja. 

Apabila seseorang benar-benar rindu terhadap surga, maka kebenaran itu akan terlihat dengan munculnya dorongan terhadap kebaikan. Sekiranya ada yang mengaku merindukan surga, tapi dirinya masih saja gemar kemaksiatan, sesungguhnya itulah rindu yang dusta.       

Ibnul Jauzi dalam bukunya Bustan al-Wa'izhin (2016: 184) menulis, diriwayatkan dari Ali ibn Abi Thalib, ia berkata, Rasulullah Saw bersabda:

Siapa yang merindukan surga, maka ia akan bersegera melakukan kebaikan, dan siapa yang takut akan neraka, maka ia akan meninggalkan syahwat. Siapa yang menyadari akan kematian, maka segala musibah akan ringan baginya.”

Hadis ini menggambarkan hakikat rindu yang sebenarnya, yakni bersegera melakukan kebaikan disebabkan saking rindunya terhadap surga. Sebab, surga adalah tempat terbaik yang disediakan Allah untuk hamba-hamba-Nya yang baik-baik. Sekiranya manusia itu malah menghamba kepada syahwat, melakukan perbuatan-perbuatan dosa, itu lisannya saja yang berkata merindukan surga tapi amalannya menggambarkan ahli neraka.

Beratnya rindu tidak akan terasa apabila surga itu diyakini dengan sepenuh iman yang kokoh. Inilah rindu yang paling spektakuler, sebab rindu kepada surga tidak akan membuat manusia merana atau sengsara. Rindu yang indah ini tidak akan menyiksa batin. Karena surga juga merindukan orang-orang yang merindukannya dengan kebenaran.

Terkait dengan hadis merindukan surga ini, Ibnul Jauzi (2016: 184) menyemangati: 

Wahai orang yang menghendaki surga, kau harus menyibukkan hati dan pikiranmu dengan melihat apa yang telah Allah persiapkan untuk para wali-Nya di surga, merindukan kenikmatan yang akan Allah berikan kepada kita semua. Siapa yang sibuk mengingat Allah dan merindukan nikmat-Nya, maka ia akan menjauhkan hasratnya dan mematikan nafsunya terhadap dunia, serta meninggalkan segala hal yang ada di dalamnya.

Betapa dahsyatnya efek dari kerinduan terhadap surga, karena orang yang rindu begini tidak akan diperdaya oleh hawa nafsu. Godaan dunia tidak akan menggoyahkannya, sebab kenikmatan surgawi jauh lebih dahsyat dan abadi. Para perindu surga akan mengabaikan kefanaan dunia dan fokus kepada keindahan di akhirat.

Kuncinya adalah gemar dengan kebaikan. Kerinduan yang benar membuat orang-orang tidak ragu lagi bersegera dalam amal kebajikan.

Apa saja contohnya? 

Musthafa Dib Al-Bugha dalam buku Al-Wafi Syarah Hadits Arbain Imam An-Nawawi (2007: 241-242) menjelaskan, Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Ayyub al-Anshari, bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah Saw:

”Beri tahukanlah aku satu perbuatan yang dapat memasukkan aku ke dalam surga?” 

Rasulullah Saw bersabda: ”Engkau menyembah Allah dan tidak mempersekutukannya dengan sesuatu, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, dan menyambung silaturrahmi.”

Puncak kebaikan adalah menyembah Allah tanpa syirik sama sekali. Surga hanya menerima orang yang tauhidnya sempurna. Lagi pula, surga milik-Nya Allah, mustahil berhak masuk surga orang yang durhaka pada-Nya. Oleh sebab itu, kokohkanlah tauhid dan istikamah dalam beribadah.

Kebaikan selanjutnya adalah pokok utama ibadah, yakni salat sebagai tiang agama dan zakat sebagai pembersih dan penyuci harta. Salat dan zakat seringkali disandingkan dalam ajaran Islam, sebagai pertanda keduanya memang kebajikan yang sangat penting.

Menariknya lagi, menyambung silaturahmi juga disebut oleh Nabi Muhammad sebagai amalan yang menjadi modal masuk surga. Jangan pernah sia-siakan amalan berharga ini, karena berhubungan dengan kasih sayang sesama manusia. Surga adalah tempat yang berlimpah kasih sayang, dan mari berlatih kasih sayang di dunia dengan menjaga hubungan silaturahmi.

Marilah kita sama-sama merindukan surga dengan rindu yang benar. Jangan pernah mengaku rindu tetapi hanya berselimut kedustaan. Bahkan diri kita pun dapat menilai, apakah benar-benar rindu itu tergambar dalam tingkah laku sehari-hari.




Anggunnya Keberanian Seorang Asma binti Abu Bakar

Sebelumnya

Memahami Faedah Bertawakal untuk Membebaskan Diri dari Penderitaan Batin

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Tadabbur