Ilustrasi/Net
Ilustrasi/Net
KOMENTAR

DUA garis panjang tercetak di pasir, yang mengarah ke rumah Aisyah. Dua orang sahabat memapah Rasulullah Saw, karena beratnya sakit yang ditanggung Nabi hingga dua kakinya terkulai lemas, sehingga dua garis panjang itu terukir.

Itulah fragmen menjelang sakaratul maut. Nabi Muhammad menyadari detik-detik terakhir dari keberadaannya di dunia nan fana. Namun, beliau menginginkan perpisahan dalam dekapan cinta abadi. Rasulullah meminta pulang ke rumah Aisyah, istri yang dikasihinya, teman hidup sejatinya. 

M. Quraish Shihab pada bukunya Membaca Sirah Nabi Muhammad Saw. (2011: 1083-1084) menceritakan, menurut penuturan Aisyah: “Nabi Saw mengikat kepalanya dengan kain dan berjalan dengan dipapah oleh dua orang, yaitu Al-Fadl putra Abbas dan seorang lagi.”

Seorang lagi yang dimaksud Aisyah itu, menurut Ibnu Abbas adalah Ali bin Abi Thalib.

Penyakit Rasulullah tidak juga reda, bahkan bertambah parah. Akhirnya, Nabi Muhammad menghembuskan nafas terakhir dalam dekapan Aisyah. Tercapailah harapan beliau, meninggalkan dunia bersama teman sejati dan sehati. 

Jangan ditanya lagi seperti apa sibuknya Nabi Muhammad. Beliau adalah Rasul utusan Allah sekaligus kepala negara. Bahkan, beliau adalah pemimpin yang banyak hadir di medan tempur, membela agama dan rakyatnya. Rasulullah bepergian ke sana ke mari, demi tegaknya dakwah agama Ilahi.

Dan nun jauh di lubuk hatinya, Nabi Muhammad menyadari bahwa teman sejatinya adalah pasangan sahnya, yakni istri. Dari itulah, dalam kondisi teramat kepayahan, beliau tetap melakukan segala daya upaya untuk kembali ke pangkuan cinta.

Ada beberapa aspek yang patut direnungkan, di antaranya:

Sejauh-jauh bangau terbang, pulangnya ke kubangan juga

Pepatah ini menarik untuk ditelisik. Bangau bisa terbang jauh. Manusia tidak punya sayap, tapi mampu terbang lebih jauh daripada bangau. Tempat pulangnya ke kubangan. Meskipun bukan tempat yang sempurna, tapi bangau punya tempat untuk kembali.

Manusia pulang ke rumahnya. Tapi yang hakikat dituju bukanlah sekadar pulang kandang, melainkan ada seseorang di rumah itu yang merupakan teman sejati, yang telah mendampingi sepanjang hayat, dan telah banyak berkorban, yang berjuang jatuh bangun, dan dia adalah pasangan kita.

Pada hakikatnya, manusia butuh tempat kembali. Dari itu, cobalah melihat ke rumah sendiri. Di rumah kita menemukan suami atau istri yang harus diakui ketabahannya melintasi waktu yang teramat lama hanya untuk membuktikan sebuah kata setia.

Melibatkan unsur Ilahiah

Kesetiaan yang diikrarkan bersama teman tidak memiliki pondasi yang kokoh, sehingga sering terjadi pengkhianatan terbesar. Ketika kita patah hati, murka, marah, dan sebagainya, akhirnya tempat berkeluh-kesah adalah pasangan. 

Sudah tiba masanya kita menyadari, suami atau istri itulah teman sejati dan sehati yang tak tergantikan oleh siapapun. Pasangan hidup adalah satu-satunya teman sejati yang disahkan melalui ijab kabul, dan atas dasar ketaatan kepada perintah Allah Swt. 

Dan inilah pondasi terkuat yang tidak dimiliki model pertemanan manapun jua. Inilah ikatan suci yang melibatkan unsur Ilahiah.

Menjalin kesepahaman

Namun, peran sebagai teman sejati bukan suatu anugerah yang jatuh dari langit. Optimal atau tidaknya suami istri menjalankan peran teman sejati dan sehati juga membutuhkan kesepahaman, tentang apa saja peran pasangan itu yang menjadi sangat dibutuhkan.

Perlu dialog keterbukaan, sehingga antara suami istri menyibak bagaimanakah cara praktis peran teman sejati itu lebih tepat ditunaikan, dan dalam bentuk apakah supaya peran teman sejati justru tidak menjadi blunder atau terkesan mencampuri terlalu jauh.

Memang, ada orang yang lebih terbuka kepada temannya dan terkesan bersikap tertutup terhadap suami atau istri. Hal ini terjadi disebabkan pasutri tersebut belum merumuskan visi yang jelas dan tegas tentang peran suami istri yang sebenarnya.

Kesepahaman yang belum dibangun itu bisa berujung pada harapan yang terhempas. Pada kondisi yang lebih menyedihkan, kemalangan suami jadi cibiran istri atau kesulitan istri jadi bahan lelucon suami. Nauzubillahi min zalik!

Namun, tidak ada kata terlambat untuk menguatkan kembali peran suami istri. Toh, pada hakikatnya hubungan pasutri sudah kokoh bersama ikatan suci ijab kabul. Berikutnya, kedua insan tersebut bisa lebih banyak berdialog, saling membuka diri, dan terus merumuskan peran teman sejati dan sehati.

Selain ini, jangan lupa untuk bersikap realistis. Suami atau istri juga manusia biasa yang sepaket dengan kelebihan dan kekurangannya. Kita tidak bisa mematok target tinggi terhadap pasangan, karena peran teman sejati itu mestilah terbit dari lubuk hatinya secara tulus ikhlas.

Persahabatan adalah salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia. Kita memiliki teman-teman yang datang dan pergi, memberikan dukungan dan keceriaan dalam berbagai fase hidup. 




Memahami Faedah Bertawakal untuk Membebaskan Diri dari Penderitaan Batin

Sebelumnya

Menjadi Korban Cinta yang Salah

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Tadabbur