Ilustrasi/Net
Ilustrasi/Net
KOMENTAR

MAIN cantik. Istilah ini sudah sering kita dengar, terutama jika sedang menghadapi situasi pelik atau genting. Ibarat kata pepatah, seperti menarik rambut dari tepung, rambutnya jangan putus tapi tepungnya jangan berserakan. Begitulah kira-kira gambaran dari urgensi main cantik tersebut.

Dengan main cantik, kita bisa menyelesaikan sesuatu secara bijaksana, tidak ada yang merasa dirugikan. Kita senang, orang lain pun nyaman. Tidak ada yang dikalahkan, semua pihak dapat menikmati kemenangan bersama.

Beruntunglah mereka yang pandai bermain cantik, sebab dengan kehalusan strateginya membuat pihak-pihak lain menuruti dengan senang hati. Berkat kecerdikannya, orang-orang menaati kehendaknya dengan suka cita. 

Main cantik tidak hanya dapat dilakukan oleh perempuan, kaum lelaki pun sangat lihai bermain cantik. Nabi Muhammad Saw pun demikian. Perkembangan Islam meraih kejayaan tidak lepas dari kecerdasan beliau dalam main cantik, sehingga mampu menggandeng para sahabat yang beragam latar belakang, dan merangkul para musuh menjadi pembela agama. 

Contohnya, baru saja tiba di Madinah, beliau dengan pandainya mendamaikan suku Aus dan Khazraj dalam bingkai agama Islam. Beliau juga mampu berada di posisi yang bagus, meskipun kaum Yahudi terus memusuhi dan kaum munafik juga acapkali menggunting dalam lipatan.

Namun, marilah kita sama-sama jujur dengan fakta sejarah, bahwa dalam suatu momentum yang genting Rasulullah justru terkagum-kagum dengan kemampuan istrinya bermain cantik. Beliau mengakui kehebatan Ummu Salamah dalam menghadapi pembangkangan sahabat.

Ummu Salamah dinikahi oleh Rasulullah dengan profil berikut ini, yang diterangkan oleh Muhammad Syafii Antonio pada buku Muhammad Saw The Super Leader, Super Manager.

Ummu Salamah binti Abu Umayyah berumur 62 tahun saat dinikahi Rasul. Janda yang terkenal pandai berpidato ini mahir membentuk opini publik dan mengajar. Allah menyuruh Rasul menikahinya untuk membantu dakwah, terutama mengajar kaum perempuan. Pernikahan ini sebagai wujud dukungan atas peran wanita di ruang publik.

Bukan hanya Rasulullah yang terpesona, sejarah Islam mencatat dengan tinta emas peran main cantik ala Ummu Salamah. Pada kejadian segenting Hudaibiyah, Ummu Salamah menunjukkan kecantikannya yang hakiki di usianya yang sudah teramat renta.

Abdussami' Anis dalam buku Metode Rasulullah Mengatasi Problematika Rumah Tangga (2018: 47-48) mengungkapkan:, dari Miswar bin Makramah dan Marwan bin al-Hakam, keduanya berkata, setelah menuliskan perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah bersabda kepada para sahabat:

“Berdirilah kalian, sembelihlah hewan kurban, kemudian bercukurlah.”

Perawi berkata, tak satupun dari mereka yang berdiri meskipun Rasulullah mengulangi perintahnya hingga tiga kali. Beliau pun pergi menemui Ummu Salamah dan menceritakan apa yang terjadi. 

Ummu Salamah berkata:

“Rasulullah, apakah Anda menghendaki hal itu? Keluarlah dan jangan bicara kepada mereka sepatah katapun sampai Anda menyembelih unta dan memanggil tukang cukur untuk mencukur rambut Anda.”

Rasulullah keluar dan mengikuti saran Ummu Salamah. Setelah melihat apa yang dikerjakan Rasulullah, orang-orang berdiri lalu menyembelih unta dan mencukur rambut mereka bergantian. (HR. Bukhari no. 2732).

Kemudian, muncul ketidakpuasan dari kalangan sahabat atas perjanjian Hudaibiyah, yang disepakati antara Rasulullah dengan kaum Quraisy. Kaum muslimin tidak mau berunding dengan pihak musyrikin dan lebih siap berkorban jiwa raga demi agama.

Akan tetapi Rasulullah telah mendapat bimbingan Allah, kekuatan laskar muslimin tidak sebanding dengan pihak Quraisy yang sangat kuat. Perang bukanlah pilihan yang tepat. Perjanjian Hudaibiyah ibarat mengalah untuk menang.

Namanya kekecewaan, wajar bila muncul dampak yang tidak mengenakkan sehingga para sahabat tidak acuh dengan perintah Rasulullah. Dan, wajar pula apabila Nabi Muhammad marah dengan sikap mereka. 

Syukurnya, ada Ummu Salamah. Meski sudah tua renta, tetapi kecantikan berdiplomasinya luar biasa. Perempuan agung ini menawarkan strategi main cantik kepada suaminya. Rasulullah tidaklah perlu berkata-kata, tetapi cukup melakukan apa yang Beliau perintahkan. 

Hebatnya, Nabi Muhammad menuruti teknik main cantik yang disampaikan istrinya. Betapa rendah hatinya beliau, yang dengan jernih memahami jitunya nasihat istri. 

Itulah sebuah kisah tentang main cantik yang dipentaskan oleh perempuan tua berhati jelita. Ummu Salamah membuktikan kelasnya sebagai istri yang bijaksana.

Konflik merupakan bagian tak terhindarkan dari kehidupan manusia. Baik di tingkat pribadi maupun antar individu. Konflik dapat timbul karena perbedaan pendapat, nilai, atau kepentingan. Namun, sejalan dengan semboyan "main cantik," sebagai perempuan hendaknya memiliki nilai lebih dalam mengatasi sengketa dengan kebijaksanaan dan kecantikan.

Aspek-aspek penting yang berhubungan dengan kegemilangan bermain cantik, di antaranya menjaga ketenangan emosi, fokus kepada sisi persamaan, dan belajar dari pengalaman.

Main cantik cocok sekali dilakukan oleh perempuan yang memang makhluk Tuhan yang berhak atas anugerah kecantikan. Usia pun sebetulnya tidak menjadi halangan. Cantik tidak berhubungan mutlak dengan usia, melainkan berkaitan dengan kapasitas dan kualitas diri.




Apa Hubungan Bersyukur dengan Percaya Diri bagi Seorang Muslimah?

Sebelumnya

Surah Al-Waqiah dan Ketenteraman Jiwa Seorang Muslim

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Tadabbur