KOMENTAR

Dengan demikian, berbagai gambaran masa depan  harus diajukan sebagai alternatif yang benar, bukan sebagai skenario "tinggi", "rendah", atau "menengah" di sekitar saja. Karena “masa depan” tidak dapat “diprediksi”, maka “masa depan yang lebih disukai” dapat dan harus dibayangkan, ditemukan, diterapkan, terus dievaluasi, direvisi, dan direvisi.

Tugas utama lainnya dari studi masa depan adalah untuk memfasilitasi individu dan kelompok dalam merumuskan, menerapkan, memantau, dan membayangkan kembali masa depan pilihan mereka.

Dator mencatat bahwa “masa depan pilihan” bukanlah "utopia" yang mustahil atau yang tidak mampu dicapai. Tentu juga “masa depan pilihan” bukan “distopia” yang buruk, menakutkan, dan sama sekali tidak diinginkan.

Masa depan yang lebih disukai adalah “eutopia” atau dunia nyata terbaik yang dapat kita bayangkan saat ini, dan dapat dicapai melalui usaha dan keberuntungan kita. Tidak ada “cetak biru” masa depan yang lebih disukai untuk diikuti secara membabi buta dan pasti.

Apabila seorang futuris berharap upaya yang dilakukannya dalam menyusun gambaran masa depan akan berguna, maka ia harus bersiap untuk diejek dan ditolak. Ide yang berguna tentang masa depan dapat saja diejek karena berada di luar ide, keyakinan, dan pengalaman siapa pun yang belum memikirkan masa depan dengan serius.

Dengan demikian, para pembuat keputusan, dan masyarakat umum, jika menginginkan informasi yang berguna tentang masa depan, harus mengharapkannya menjadi tidak konvensional dan seringkali mengejutkan, ofensif, dan tampak “menggelikan”, kata  Jim Dator lagi.

Futuris, bagaimanapun, memiliki beban tambahan untuk membuat ide yang awalnya konyol menjadi masuk akal dengan menyusun bukti yang sesuai dan menenun skenario alternatif dari kemungkinan perkembangannya yang pada akhirnya masuk akal dan dapat ditindaklanjuti oleh orang-orang di masa sekarang.

Menyongsong Masa Depan

Kendati masa depan belum eksis, uniknya Allah melalui firman-Nya justru mendorong hamba-hamba-Nya mempersiapkan masa depan sejak sekarang. Memang masa depan yang belum eksis itu tidak dapat dipelajari, tetapi Al-Qur’an menginspirasi kita supaya bergiat dalam mempelajari gambaran tentang masa depan (images of future).

Menariknya, kitab suci tidak menginginkan umat Islam dalam kondisi pasrah atau tiada berdaya dalam membayangkan masa depan, malahan mereka didorong untuk memandang masa depan sebagai harapan yang indah, sehingga kita dapat menyongsongnya dengan perjuangan yang terencana dan tertata.

Harapan dan perencanaan menjadi dua hal penting yang ditanamkan Al-Qur'an dalam menyongsong masa depan. Dengan memiliki pandangan positif tentang masa depan dan merencanakan kehidupan dengan baik.




Kemilau Mutiara Iyyaka

Sebelumnya

Memahami Hamma Biha dan Konsep Ma’shum

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Tafsir