Ilustrasi/Net
Ilustrasi/Net
KOMENTAR

PROSES mencari jodoh bukanlah urusan pribadi belaka, melainkan ada tanggung jawab masyarakat. Maksudnya, dalam mencari jodoh kita akan dibantu oleh banyak pihak, mulai dari orang tua, kakak atau adik, sanak famili, karib kerabat, handai tolan, para sahabat, ustaz atau ustazah, rekan-rekan sejawat, dan sebagainya. 

Banyak jalan menuju jodoh!

Meskipun perjalanannya amat berliku, tapi ikhtiar mencari jodoh memang sebaiknya melibatkan banyak pihak yang mumpuni. Semakin banyak peluang, semakin banyak pula kesempatan. Peluang dapat memberikan informasi tentang kemungkinan keberhasilan, sedangkan kesempatan menciptakan situasi di mana keberhasilan dapat terjadi.

Solusi Islam  

Dalam Islam, kewajiban mencarikan jodoh anak perempuan adalah tugas ayah atau walinya. Hendaknya ayah yang berjuang keras mencarikan laki-laki yang saleh sebagai suami yang cocok dengan putrinya. Jika ayah atau wali tidak bisa melakukan kewajiban itu, maka tugas negara mengurusinya sesuai hukum syariat yang berlaku. 

Di tengah kesibukannya memimpin negara Islam dan menjaga harmonisnya kehidupan beragama para umat, Nabi Muhammad masih mengurusi perjodohan, karena yang demikian itu juga salah satu tanggung jawab sebagai pemimpin sejati.

Kampanye perjodohan Rasulullah dimulai dengan menanamkan nilai-nilai luhur yang terangkum dalam hadis, “Wanita itu dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, karena kebaikan keturunan atau kedudukannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Pilihlah karena faktor agama, karena dengan demikian itu engkau akan berbahagia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Setelah umat menyerap nilai-nilai suci perjodohan sesuai ajaran Islam, kemudian Rasulullah bertugas sebagai mediator. Kemudian, terjadilah perkawinan yang mencengangkan, seperti Zaid bin Haritsah yang seorang mantan budak menikah dengan Zainab binti Jahsy putri bangsawan. Dalam keluarganya, Nabi Muhammad berperan dalam perjodohan putrinya, Fatimah, dengan ksatria saleh bernama Ali bin Abi Thalib.

Plus Minus

Meskipun pernikahan melalui perjodohan sudah berlangsung sangat lama, bukan berarti tidak relevan lagi di masa sekarang. Terbukti, tidak jarang gadis atau bujang dengan sukarela meminta dijodohkan, entah melalui mediasi orang tua, sanak saudara, teman-teman atau lainnya. 

Bagaimanapun juga, menikah karena perjodohan memiliki plus dan minus yang perlu dipertimbangkan. Beberapa kemungkinan kekurangan dalam perjodohan yang mungkin terjadi adalah ketidakcocokan. Meskipun perjodohan bertujuan untuk mencocokkan pasangan yang dipandang serasi, tapi tidak ada jaminan bahwa pasangan tersebut akan memiliki kesesuaian yang sempurna. 

Kehidupan pernikahan yang bahagia tidak hanya bergantung pada faktor-faktor yang dibahas dalam perjodohan, tetapi juga kepada dinamika pribadi dan kemampuan komunikasi pasangan. Ketidakcocokan juga bisa terjadi bila suami atau istri tidak mau menurunkan ego masing-masing. 

Faktor lainnya adalah keterbatasan pilihan. Dalam perjodohan, pilihan pasangan seringkali dibatasi oleh preferensi keluarga atau kriteria yang ditentukan oleh pihak lain, bukan sesuai dengan keinginan pribadi.

Tekanan sosial ikut memengaruhi. Menikah karena perjodohan seringkali melibatkan tekanan sosial dari keluarga atau masyarakat. Tekanan ini dapat membuat individu merasa terpaksa atau tidak memiliki kontrol atas keputusan pernikahan mereka sendiri.

Dalam beberapa kasus, perjodohan dapat menghambat kesempatan untuk menemukan cinta sejati atau pasangan yang sungguh-sungguh dicintai. Keputusan pernikahan mungkin lebih didasarkan pada pertimbangan praktis daripada ikatan emosional yang mendalam. Sehingga, butuh waktu yang panjang untuk menumbuhkan cinta di hati keduanya.

Di satu sisi, kita tidak bisa menampik betapa banyak pernikahan dengan perjodohan yang bahagia. Alasannya, ketika menikah melalui perjodohan, calon pasangan telah dipilih berdasarkan penilaian yang cermat dari pihak yang terlibat. Ada upaya yang dilakukan untuk memastikan bahwa pasangan memiliki kesesuaian dalam hal agama, budaya, nilai-nilai, dan tujuan hidup. 

Kompatibilitas atau kesesuaian itu bukan dari diri sendiri, melainkan dari pertimbangan berbagai pihak. Sehingga, perjodohan yang melibatkan pemikiran berbagai orang diharapkan semakin mendekatkan jodoh yang lebih sesuai. 

Dukungan keluarga mengambil peranan penting. Dalam beberapa budaya, dukungan keluarga dapat memberikan stabilitas dan dukungan emosional dalam kehidupan pernikahan. Tidak ada rumah tangga yang terbebas dari terpaan permasalahan. Namun, suami istri yang dijodohkan tersebut akan mendapatan dukungan kuat dari kedua belah keluarga tatkala mengalami topan badai kehidupan.

Perjodohan juga seringkali memiliki tujuan untuk menciptakan pernikahan yang stabil dan harmonis. Pasangan diharapkan memiliki kesamaan nilai-nilai dan visi hidup, yang dapat memberikan rasa aman dan stabilitas dalam hubungan.

Penting sekali bagi siapapun yang menjalani perjodohan untuk mempertimbangkan plus dan minus ini, sehingga dirinya dapat membuat pertimbangan yang matang dalam memutuskan apakah menikah karena perjodohan adalah pilihan yang tepat bagi dirinya. 

Oleh sebab itu, perlu mendengarkan hati nurani dan memastikan bahwa kita merasa nyaman dan bahagia dengan pasangan yang dipilih, terlepas dari cara jodoh itu ditemukan.




Innallaha Ma'ashobirin

Sebelumnya

Sebutlah Tuhanmu dalam Jiwamu

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Tadabbur