post image
KOMENTAR

SETIAP manusia punya cinta, begitu pun perempuan, termasuk Zulaikha. Karena Nabi Yusuf memang pemuda yang teramat layak untuk dicintai.

Setiap insan dilengkapi dengan nafsu, begitu pula dengan perempuan, tidak terkecuali Zulaikha. Lagi pula daya tarik Nabi Yusuf memang menggetarkan naluri kaum hawa.

Namun, cinta tidak boleh dipertuhankan, dan nafsu tidaklah boleh diperturutkan. Segalanya punya batasan yang menghormati batas-batas kewajaran, tanpa mencederai martabat kemanusiaan, apalagi sampai merendahkan harga diri perempuan.

Agama tidak membinasakan apa yang sudah menjadi bagian utuh manusia, baik itu cinta, nafsu, dan sebagainya. Hanya saja Islam menatanya agar tersalurkan dan juga memelihara jati diri kemanusiaan itu sendiri.

Sehingga Al-Qur’an pun membahas kisah seorang istri bangsawan Mesir (Zulaikha) sebagai ibrah atau sesuatu yang perlu dipetik hikmahnya. Demikan melegendanya kisah ini, maka kitab suci menyajikan kebenaran yang berkaitan dengan perasaan yang menggelora.

Lemah sekali status yang melekat pada diri Nabi Yusuf, dirinya diperjualbelian hingga berada di rumah Al-Aziz, seorang pembesar Mesir yang memperlakukannya dengan baik. Hanya saja Nabi Yusuf adalah pemuda tampan rupawan yang teramat menakjubkan. Sulit mencari tandingan keindahan lelaki yang dimilikinya.

Bukan hanya Al-Aziz yang baik hati, istrinya pun berlaku teramat baik. Kemudian hati perasaan yang menggelisahkan itu tidak mampu ditanggung Zulaikha, sehingga dia pun mengajak pemuda rupawan melakukan sesuatu yang terlarang.

Surat Yusuf ayat 23-24, yang artinya:

Perempuan, yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya, menggodanya. Dia menutup rapat semua pintu, lalu berkata, ‘Marilah mendekat kepadaku.’ Yusuf berkata, ‘Aku berlindung kepada Allah. Sesungguhnya dia (suamimu) adalah tuanku. Dia telah memperlakukanku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang zalim tidak akan beruntung.” (23)

Sungguh, perempuan itu benar-benar telah berkehendak kepadanya (Yusuf). Yusuf pun berkehendak kepadanya sekiranya dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, Kami memalingkan darinya keburukan dan kekejian. Sesungguhnya dia (Yusuf) termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih. (24)

Syaikh Hamid Ahmad Ath-Thahir Al-Basyuni, Kisah-Kisah dalam Al-Qur'an, Jakarta, Pustaka Al-Kautsar, 2008, hal. 365-366.

Zulaikha mencari kesempatan yang tepat untuk melakukan aksinya, yait pada saat kaumnya sedang lengah, maka ia pun menutup pintu istana dengan rapat-rapat, sehingga tidak ada yang tertinggal di istana itu melainkan dia dengan Nabi Yusuf. Dengan harapan dia bisa mmenuhi mimpi dan harapan-harapannya. Hatinya telah rindu akan kehangatan, ia pun memanggil Nabi Yusuf, degan harapan ia akan mau memenuhinya.

Namun, tiada terdengar dari Nabi Yusuf melainkan perkataan, “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memerlakukan aku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung."

Tatkala situasi lagi sepi sunyi, Zulaikha pun menutup pintu-pintu. Kini yang ada hanyalah seorang pemuda rupawan dan perempuan berpengalaman dengan aroma dan gaya menggoda. Jangan lupakan pula makhluk tak kasat mata, yakni setan-setan yang agresif bergerilya menggelorakan insan kepada kenistaan.

Nabi Yusuf seorang pemuda yang normal, punya ketertarikan juga terhadap perempuan. Akan tetapi, dirinya mampu mengendalikan diri bersamaan datangnya petunjuk Ilahi agar segera menjauhi kemaksiatan.

Kemudian, pemuda itu pun lari dari kepungan syahwat yang sesat. Dia lari menuju pintu dan berupaya membongkarnya. Akan tetapi Zulaikha tidak tinggal diam, sehingga terjadi aksi kejar-kejaran. Seorang perempuan yang tengah bergelora nafsunya mengejar pemuda yang berjuang menyelamatkan iman. Saking serunya kejar-kejaran itu sabetan tangan Zulaikha membuat robek pakaian Nabi Yusuf.

Puncaknya tatkala pintu terbuka, dan yang berdiri adalah Al-Aziz, seorang suami yang menyaksikan istrinya bersama Nabi Yusuf, tetapi perempuan ini lihai dalam berkelit.

Hal ini diterangkan pada surat Yusuf ayat 25, yang artinya:

Keduanya berlomba menuju pintu dan perempuan itu menarik bajunya (Yusuf) dari belakang hingga koyak dan keduanya mendapati suami perempuan itu di depan pintu. Dia (perempuan itu) berkata, “Apakah balasan terhadap orang yang bermaksud buruk terhadap istrimu selain dipenjarakan atau (dihukum dengan) siksa yang pedih?” (25)

Syaikh Hamid Ahmad Ath-Thahir Al-Basyuni (2008: 366) mengungkapkan:

Maka tatkala ia mencoba mendekatinya, Nabi Yusuf pun segera lari ke arah pintu. Betapa hebatnya, pemuda itu benar-benar lari darinya, sedangkan wanita itu terus mengejar di belakangnya. Ia terus berlari mengejar Nabi Yusuf, menarik bajunya agar tidak bisa keluar dari istana sehingga bagian belakang baju gamis Nabi Yusuf pun terkoyak, dan pintu istana pun terbuka oleh kekuatann Nabi Yusuf yang berusaha membuka gembok yang mengunci pintu itu. Dan secara tiba-tiba kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu.

Wanita itu berkata, “Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat  serong dengan istrimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?

Tega sekali Zulaikha memutarbalikkan fakta, malahan Nabi Yusuf yang dituduhnya hendak berbuat nista. Tidak cukup dengan aksi lempar batu sembunyi tangan, perempuan itu juga menghasut suaminya untuk menjatuhkan hukuman berat.

“Dialah yang menggodaku,” ucapan Nabi Yusuf itu bagai sebutir debu yang disapu badai.




Memetik Hikmah dari Tragedi Istri Nuh dan Istri Luth

Sebelumnya

Pesan Al-Qur’an: Kunci Menolak KDRT Adalah Ketegasan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Tafsir