post image
KOMENTAR

TIDUR sudah lazim kita lalui setiap harinya. Malam hari pun menjadi waktu yang didambakan agar dapat terlelap. Tubuh memang butuh istirahat, dan tidur menjadi cara alamiah dalam memulihkan kondisi.

Tidur itu perlu lho, bahkan termasuk yang dianjurkan dalam agama. Pernah juga Nabi Muhammad saw. melarang seorang perempuan yang tidak tidur semalaman hanya demi menunaikan berbagai rangkaian ibadah. Peringatan dari Rasulullah itu menggambarkan pentingnya memperhatikan hak-hak tubuh.

Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr dalam buku Syarah Syama'il Nabi Muhammad (2016: 403) menceritakan:

Dari Aisyah, ia berkata, Rasulullah datang kepadaku sementara di sisiku ada seorang perempuan.

Beliau bertanya, “Siapakah ini?”

Aku menjawab, ”Fulanah tidak tidur malam.”

Rasulullah saw. bersabda, “Hendaklah kalian melakukan amal sesuai dengan kemampuan kalian. Demi Allah, Allah tidak bosan hingga kalian bosan. Ibadah yang paling disukai Rasulullah adalah yang dilakukan seseorang secara kontiniu.”

Perkataannya, “Rasulullah datang kepadaku, sementara di sisiku ada seorang perempuan.”  Dikatakan bahwa namanya Al-Haula dan bahwa ia termasuk keluarga Ummul Mukminin Khadijah. Perempuan tersebut menghabiskan malamnya untuk beribadah kepada Allah tanpa tidur.

Demikian karena tubuh meskipun giat dalam beribadah akan mengalami kelelahan dan kepayahan sehingga membutuhkan istirahat. Maka hendaklah manusia tidak membebani tubuhnya di luar kemampuannya.

Bahkan terus-terusan berjaga sepanjang malam demi menuaikan ibadah malah dilarang oleh Rasulullah. Karena tubuh juga butuh istirahat, itu pula hak yang perlu ditunaikan kepada diri sendiri.

Nah, bayangkan, betapa tidak terpujinya orang yang begadang semalaman untuk hal-hal yang tidak berguna. Dan betapa menyedihkan orang-orang yang mengorbankan waktu tidurnya justru untuk perkara yang menambah dosa.  

Tidurlah, karena tidur itu juga berlimpah keberkahan!

Kok bisa?

Ya, bisa saja asalkan kita mengikuti panduan dari amalan yang dikerjakan oleh Rasulullah saw.
Ibnul Jauzi pada bukunya Al-Wafa Kesempurnaan Pribadi Nabi Muhammad (2018: 521) menguraikan:

Diberitakan dari Aisyah, “Pada setiap malam, ketika Nabi saw. hendak pergi ke tempat tidur, beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya dan meniupnya lalu membaca surat al-Ikhlas, al-Falaq, dan an-Nas. Kemudian, dengan kedua telapak tangan tersebut, beliau mengusap seluruh badannya sebisa jangkauan tangan. Beliau memulai dari kepala, wajah, lalu bagian depan tubuh lainnya. Beliau melakukan hal itu sebanyak tiga kali.” (HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majah dan Abu Dawud)

Al-Bara’ bin Azib berkata, jika Rasulullah saw. merebahkan diri di tempat tidur, beliau mengambil posisi di sebelah kanan. Kemudian beliau berdoa, “Ya Allah, aku serahkan diriku kepada-Mu, aku hadapkan wajahku ke arah-Mu, dan aku pasrahkan punggungku kepada-Mu, karena takut dan berharap kepada-Mu. Tak ada tempat berserah diri dan tempat berlindung kecuali hanya pada-Mu. Dan, aku beriman kepada kitab yang telah Engkau turunkan kepada Utusan-Mu.”

Nabi saw. bersabda, “Siapa yang membaca doa tersebut lalu ia meninggal dunia pada malam itu, maka ia meninggal dalam keadaan fitrah (suci).” (HR. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi)

Tidur bukanlah suatu kesia-siaan, bukan pula buang-buang waktu yang demikian berharga, karena dari tidur itulah kita akan memperoleh banyak keberkahan. Asalkan tidur dengan melakukan amalan kebajikan seperti yang diajarkan Rasulullah.

Dalam kondisi tidur manusia sudah kehilangan daya upaya, dan tidak ada lagi perlindungan kecuali dari Allah Swt. Makanya tidur adalah kondisi penyerahan diri secara total kepada perlindungan Ilahi.

Seandainya tidur itu menjadi momen terakhir di dunia, insyaallah kita melaluinya dengan keberkahan melalui amalan-amalan yang dicintai agama.  

Setiap makhluk hidup butuh istirahat tidur, demikianlah hukum alam menggariskannya. Janganlah sampai tidur kita hanya menjadi rutinitas yang tanpa makna atau pahala. Oleh sebab itu, hiasilah tidur-tidur indah kita dengan meneladani amalan-amalan suci dari Nabi.

        

 




Raja yang Menolak Hadiah

Sebelumnya

Jalan Berliku Hijrah ke Habasyah

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Sirah Nabawiyah