post image
Ilustrasi/ Net
KOMENTAR

“DI OTAK saya saat ini yang ada hanyalah uang!” ujarnya kepada istri berapi-api.

Dari itu pula tidak ada obrolan yang menarik baginya kecuali uang, uang dan uang lagi. Istrinya mencoba untuk memaklumi, toh suaminya baru saja resign dari tempat kerja, secara psikologis dirinya dalam tekanan.

Selepas menjadi orang kantoran, pria itu bekerja luar biasa keras. Dan fisiknya mulai kepayahan mengimbangi ambisi, dan meski jatuh sakit suaminya tidak memedulikan. Barangkali karena di otaknya hanyalah uang, hingga sakitnya badan tidak terpikirkan.

Akhirnya, ketika dirinya pingsan lalu tergolek tanpa daya, barulah berangsur-angsur pria itu terhenti. Sembari menemaninya terbaring di rumah sakit, istrinya memberitahukan tentang suatu rahasia; resep kaya raya dikejar-kejar harta.

Pria itu tidak sendiran.

Maksudnya, orang yang begitu terobsesi mengejar harta sangat banyak. Orang yang di otaknya hanyalah uang juga bejibun.

Dan apa yang dinasihatkan oleh istrinya perihal dikejar-kejar harta bukanlah ungkapan hiburan, melainkan sesuatu yang patut direnungkan.

Inilah suatu karunia spektakuler yang disediakan agama Islam dan tentu amat disayangkan bila anugerah demikian dahsyat malah terabaikan, yakni rezeki besar dari pintu yang tak disangka-sangka, yang akan mengejar-ngejar kita pula.

Dalam bahasa Al-Qur’an disebut dengan; min haitsu la yahtasib.

Kita sama tahulah, otak manusia cukup imajinatif dalam menghitung-hitung dari sudut-sudut mana saja uang akan mengalir ke rekeningnya. Namun, sehebat-hebat imajinasi manusia jauh lebih dahsyat cara istimewa dari Allah Swt. untuk membuat hamba-hamba-Nya kaya raya melalui pintu-pintu yang tiada terduga.

Sebagaimana dijelaskan dalam surat At-Talaq ayat 3, yang artinya, “Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.”

Khalid Abu Syadi dalam buku Kita Pasti Menang 60 Motivasi Al-Qur’an dan Hadits Bagi Orang Beriman (2022: 118) menguraikan:

Ibnu Sirin berkata, “Aku lebih mengharapkan rezeki yang tidak aku sangka daripada rezeki yang aku sangka. Maksudnya dari arah yang tidak pernah terbersit dalam pikirannya dan terbayang dalam harapannya. Apabila rezeki sampai ke tangan seorang hamba dari arah yang tidak ia sangka maka rezeki tersebut lebih menyenangkan sebagaimana berita menyenangkan apabila datang dari arah yang tidak disangka, maka ia lebih menggembirakan dan apabila kabar buruk datang dari arah yang tidak disangka maka ia lebih mengecewakan. Orang yang bertakwa itu rezekinya datang dari luar perkiraannya sehingga dengan hilangnya persangkaan dari hatinya maka ia tahu bahva ia adalah orang yang bertakwa.”

Kalau mau dikejar-kejar harta pahami dulu kuncinya!

Kuncinya apa dong?

Juga langsung tertera di ayat tersebut, yakni tawakal.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitab Madarijus Salikin (2008: 242) mengungkapkan:
Abu Ali Ad-Daqqaq berkata, “Tawakal itu ada tiga derajat: tawakal itu sendiri berserah diri lalu pasrah. Orang yang tawakal merasa tenang karea janji Allah, orang yang berserah diri cukup dengan pengetahuannya tentang Allah, dan pasrah adalah rida terhadap hukum-Nya. Tawakal merupakan permulaan, berserah diri merupakan pertengahan dan pasrah merupakan penghabisan.
Perlu kehati-hatian dalam memaknai tawakal, karena tawakal bukan berarti kita bersikap pasif. Sebab tawakal itu adalah energi untuk bergerak."

Surat Al-Jumu’ah ayat 10 yang artinya “Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.”

Seusai  shalat maka bertebaranlah di muka bumi carilah rezeki dengan berusaha keras.

Ini jalannya!

Tidak bisa terjadi duduk-duduk santai tiba-tiba rezeki mengejar kita. Buang jauh-jauh imajinasi sekerdil itu!

Allah Swt. yang paling berkuasa menjadikan harta atau rezeki yang mengejar-ngejar hamba-Nya; tetapi tidak berarti kita bermalas-malasan atau bahkan tidak berusaha sama sekali. Cara ini tidak bisa membuat min haitsu la yahtasib akan terjadi; tidak sesuai dengan keadilan dong.

Jadi begini! Ikuti dulu jalannya pembuka rezeki, yaitu berusaha. Kita boleh berusaha di jalur A atau B. Akan tetapi rezeki yang tak disangka-sangka itu atas izin Allah malah dibuka besar-besaran di jalur C, atau D, atau E, atau F, dan lain-lainnya.

Syaratnya ya berusaha dulu!




Aa Gym: Prank Itu Dusta, Haram Hukumnya

Sebelumnya

Menjaga Diri dari Meminta-minta

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Tadabbur