post image
Ilustrasi/ Net
KOMENTAR

PEREMPUAN itu memang indah, apalagi kalau dipandang-pandang, kian lama memandangnya makin mendalam pula kesan tentang keindahannya. Perempuan itu juga makhluk yang tercipta memang untuk dicintai, demikianlah kitab suci menyebutkan.

Surat Ali Imran ayat 14, yang artinya, “Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.”

Tetapi, bukan hanya perempuan saja yang sedap dipandang, bukan perempuan saja yang dapat menimbulkan cinta. Hal-hal yang demikian menebar pesona juga bisa terjadi pada anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang.

Namun, ayat di atas dengan terhormat memosisikan perempuan di urutan pertama sebagai sesuatu yang indah, yang diinginkan, yang diharapkan dan yang dicintai.

Kisah berikut ini moga berguna:

Puluhan tahun sudah berlalu, jangankan anak-anak kandungnya yang telah mulai besar, kepada orang-orang lain pun lelaki tersebut mengungkapkan secara terbuka tentang keajaiban cinta tiga detik.

Ya, tiga detik saja!

Di sore hari yang terik, dengan isi kepala yang kusut oleh tumpukan masalah, lelaki muda itu disapa oleh seorang gadis manis. Percakapan berlangsung singkat, lebih mengarah kepada basa-basi belaka.

Lelaki itu melihat kepada gadis yang berdiri di sebelah gadis manis itu. Hanya kira-kira tiga detik dipandang mata, dikarenakan malu, gadis itu pun bersembunyi di balik tubuh temannya. Nah, kepada temannya itulah lelaki tersebut menanyakan siapa sih gadis misteri.

Kalau jatuh cinta pada pandangan pertama, ah itu biasa! Jika tertarik dijumpa pertama, ah itu lebih biasa lagi! Lelaki muda itu malah langsung mengutarakan niatnya melamar gadis tersebut, ya tentunya disampaikan melalui temannya si gadis manis.

Aneh bin ajaib, gadis misteri itu bukannya berkata, “Saya pikir-pikir dulu ya!” Dia malah langsung menerima lamaran tersebut tanpa keraguan.

Konyol! Ngawur! Berbahaya!

Terserahlah! Karena memang akan beragam pendapat orang terkait kisah di atas.

Tapi, ya, sesederhana itu sebuah kisah menuju jenjang pelaminan. Dan hingga kini keduanya masih berstatus suami istri dengan beberapa anak yang menyejukan hati.

Itulah ajaibnya pandangan! Begitulah kira-kira yang diterangkan terkait penafsiran ayat Al-Qur’an di atas, tentang indahnya perempuan.

Terkait dengan ayat di atas, Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir Jilid 2 (2021: 201) mengungkapkan, sesungguhnya laki-laki mencintai wanita dan sangat tertarik kepadanya. Wanita adalah objek pandangan dan perhatian laki-laki, dan kepadanyalah, jiwanya merasa tenang dan tenteram. Karena wanitalah, seseorang rela mengorbankan harta kekayaannya.

Dalam hal ini, wanita disebutkan pada peringkat pertama, hal ini dikarenakan fitnah akibat wanita jauh lebih besar, seperti yang disabdakan oleh Rasulullah saw. di dalam sebuah hadis sahih, beliau bersabda, “Setelahku tidak ada fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki dari fitnah wanita.” (HR. Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah dari Usamah bin Said)   

Ketertarikan terhadap perempuan itu luar biasa magnetnya, melebihi berbagai pesona lainnya yang berserakan di dunia. Betapa banyak lelaki yang merasakan kebenaran ini, cukup dengan pandangan pertama saja bisa merasakan magnet keindahan kaum hawa.

Itulah anugerah, yang dapat pula menjadi ujian (fitnah) apabila tidak dikelola dengan bijaksana. Baik perempuan yang indah dipandang atau pun laki-laki yang terpesona dengan keindahannya, hendaknya sama-sama menjaga dengan baik hati masing-masing agar lulus ujian yang unik ini.   

Lebih jauh Wahbah az-Zuhaili (2021: 2010) menerangkan, disini, wanita didahulukan daripada anak padahal kecintaan kepada seorang wanita terkadang bisa hilang sedangkan kecintaan orang tua kepada anak-anaknya tidak akan hilang, hal ini dikarenakan cinta orang tua kepada anak biasanya tidak terlalu berlebihan, tidak seperti halnya kecintaan seseorang kepada wanita.

Adapun jika maksud dari kecintaan seorang laki-laki kepada wanita adalah bertujuan untuk menjaga diri dari hal-hal yang tidak baik serta untuk mendapatkan keturunanan maka hal ini justru dianjurkan oleh agama.

Rasulullah saw. sendiri tidak melarang mencinta wanita, namun secara wajar dan proporsional. Beliau bersabda, “Dijadikan dicintai olehku dari dunia dua hal, yaitu wanita dan parfum, dan dijadikan kesenangan serta kesejukan hatiku di dalam shalat.” (HR. Ahmad, Nasa’i, Al-Hakim dan Al-Baihaqy dari Anas bin Malik)

Begitulah yang perlu diwaspadai, sebab cinta kepada wanita bisa saja berlebihan, dan segala yang berlebihan itu ujungnya petaka.

Tidak ada yang salah perkara keindahan yang dimiliki perempuan dan juga lelaki yang mencintai keindahan tersebut. Namun, yang terbaik itu adalah keindahan yang mampu membimbing kepada penjagaan diri. Dan pernikahan adalah lembaga yang halal agar keindahan itu dapat dinikmati dengan aman dan nyaman.




Memahami Kaidah Tuntunan Al-Qur’an Tentang Bersuara Lembut

Sebelumnya

Keteguhan Asiyah

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Tafsir