post image
Ilustrasi/ Net
KOMENTAR

PERNAH nggak sih tetangga bilang, "Ih, anaknya laki-laki kok mainnya boneka, sih? Emangnya nggak takut keterusan, ya? Nanti besarnya kayak perempuan, loh!"

Kalau sudah dengar ucapan seperti itu, biasanya orangtua bereaksi mengambil boneka anak, meskipun tidak sedikit yang membiarkannya. Tapi, bener nggak sih anak laki-laki yang suka main boneka akan berperilaku seperti wanita saat besar nanti?

Psikolog anak dan remaja Firesta Farizal, MPsi menjawab, sebenarnya mainan anak tidak perlu diklasifikasikan berdasarkan gender. Pada saat anak bermain boneka (baik laki-laki maupun perempuan), mereka sedang melatih mengembangkan imajinasinya.

Direktur Klinik Psikologi dan Pusat Terapi Anak Mentari Anakku ini menjelaskan, boneka merupakan salah satu mainan yang bisa masuk kategori pretend play (permainan berpura-pura). Misalnya bermain dokter-dokteran dengan boneka sebagai pasiennya, bermain menjadi koki dengan boneka sebagai pelanggannya, atau bermain polisi-polisian.

Untuk anak usia 3-4 tahun, mereka senang mengeksplorasikan banyak hal dengan permainan peran atau permainan imajinatif. Melalui pretend play, anak berlatih dan belajar banyak hal tentang kemampuan komunikasi dua arah juga mengembangkan kemampuan sosialisasi dan imajinasinya.

Dr Lauren Spinner, psikolog perkembangan anak dari The University of Kent, Inggris, mengungkapkan sebuah temuan. Dalam penelitiannya, ketika mainan anak terlalu dibatasi, maka dunia anak-anak menjadi tidak hanya lebih terbagi tapi juga terbatas.

Pandangan tradisional masyarakat menganggap mainan seperti balok-balok dan puzzle adalah mainan maskulin yang boleh dimainkan oleh anak laki-laki. Padahal, permainan tersebut hanya mendorong keterampilan visual dan spasial. Sementara mainan tradisional seperti boneka, masak-masakan, mendorong keterampilan sosial dan komunikasi.

Ada Tahapannya

Sementara menurut psikolog Rika Ermasari, SPsi Ct CHt dari Brawijaya Women and Children Hospital, ada tahapan pengenalan jenis permainan untuk anak-anak.

"Tidak apa-apa anak laki-laki main boneka, ada tahap pelan-pelan melepaskannya. Penyediaan materi sebaiknya diatur sesuai aturan dalam stimulasi tumbuh kembang anak. Saat anak merasa bosan dengan permainan tertentu, sediakan permainan lain sesuai usia dan aturan tahapan tumbuh kembangnya," kata Rika, mengutip Kompas.com.

Kalaupun orangtua masih merasa khawatir, Rika menyarankan untuk memberikan boneka yang bervariasi. Misalnya boneka karakter binatang atau boneka anak laki-laki.

 



Close X

Siapkan Mental Saat Si Kesayangan Beranjak Dewasa, Ini Tips Agar Tetap Dekat Dengannya

Sebelumnya

Masih Menganggap Nilai Akademis Anak Hal Terpenting? Coba Baca Ini, Bunda!

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Parenting