Pada putaran kehidupan, ujian dan cobaan dalam ombak kehidupan merupakan kepastian/ Net
Pada putaran kehidupan, ujian dan cobaan dalam ombak kehidupan merupakan kepastian/ Net
KOMENTAR

SEMUA yang ada di dunia ini tidak ada yang abadi. Pasti akan didapati sebuah akhir dalam setiap proses kehidupan. Apalagi kita sebagai manusia, yang menjadi tempatnya khilaf dan dosa, sudah pasti kehidupan dunia merupakan kehidupan yang sementara.

Pun selama hidup di dunia, ada pasang surut yang mewarnai kehidupan. Kadang suka dan kadang duka, kadang sakit dan kadang sehat. Inilah proses kehidupan yang kita jalani hari demi hari.

Pada putaran kehidupan, ujian dan cobaan dalam ombak kehidupan merupakan hal wajar. Apalagi kita sebagai hamba Allah Swt. mengetahui bahwa Dia akan memberikan ujian dan cobaan sebagai bentuk kasih sayang-Nya kepada kita, untuk melihat sejauh mana kita mampu melewatinya tanpa meninggalkan Allah Swt. Jika kita mampu melewatinya dengan baik, maka kita telah lulus ujian kecintaan yang Allah berikan.

Terkadang karena besarnya rasa cinta kita kepada hal-hal duniawi membuat kita buta mata hati bahwa kehidupan kita bersifat sementara, dan apa yang kita miliki hanya titipan sementara.

Tak jarang kita mendapati diri kita mendekati fase putus asa, seolah dunia ini tidak adil. Padahal di titik inilah ujian berat kita sedang melewati proses penilaian keimanan, proses yang akan membuat kita meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt. Jangan pernah menghadapi dan melewati setiap ujian tanpa menjadikan sujud kepada Allah Swt sebagai tempat bersandarnya.

Ujian yang hadir pada diri kita merupakan ungkapan kerinduan Allah kepada kita hamba yang dicintai-Nya. Allah Swt. merindukan kita untuk bermunajat. Allah Swt. merindukan setiap rintihan dan tetesan air mata doa kepada-Nya. Inilah yang terkadang kita lupakan.

Padahal Allah memberikan solusi atas setiap ujian kita dengan sabar dan salat. “Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu, dan sesungguhnya yang demikian sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al Baqarah: 45).

Pada ayat tersebut dijabarkan bahwa kita perlu melakukan sujud yang artinya kembali kepada Allah Swt. karena ada panggilan kemenangan di ujung sana, seperti panggilan azan hayya alal falah (marilah menuju kemenangan). Hal itu tidak akan berat bagi orang yang benar-benar menjadikan Allah Swt. sebagai pegangan hidupnya.

Besarnya kecintaan kita pada dunia padahal merupakan cara terbaik untuk merasakan kecewa dan  menjauhkan kita dari ketenangan yang sesungguhnya. Ketenangan berisi kedamaian yang tidak akan didapat kecuali kita benar-benar menjadikan salat sebagai penuntun jalan keluar dari masalah yang kita hadapi.

Apa pun yang ada di sekitar kita bukanlah sebuah keabadian, lalu bagaimana kita menyikapinya? Kita akan selalu menghadapi sebuah kehilangan, terlebih kita tahu apa yang ada pada kita hanya titipan sementara. Tetapi sadarkah kita akan hal itu?

Kita terlalu repot berusaha mendapatkan hal yang hanya sementara, tapi kita melupakan hal yang lebih penting. Yaitu bagaimana kita menyadari bahwa dunia hanya sementara dan senantiasa bersiap untuk kehilangan, kapan pun Allah mengambilnya kembali dari kita. Dan kita pun harus selalu siap kapan saja Allah memanggil kita meninggalkan dunia yang fana ini.

Akan ada kehidupan yang abadi selepas dunia. Yang mana bekal menuju kehidupa abadi itu harus dikumpulkan sejak kita hidup di dunia. Bukan bekal tabungan uang dan harta, melainkan kehidupan baik yang senantiasa menjadikan Allah sebagai tujuan akhirnya demi meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

Kita banyak melihat di sekitar kita tentang kematian yang datang tiba-tiba. Semua itu hendaknya menjadi hikmah yang mengingatkan bahwa kita pasti akan sampai pada situasi itu. Situasi yang tidak bisa diprediksi dan tidak bisa ditolak oleh manusia.

Kabar kematian seharusnya membuat hati kita terbuka untuk menyiapkan diri sebaik mungkin. Jangan sampai kita menyesal karena belum bisa memperbaiki diri lalu ajal sudah menjemput. Jangan sampai kita menyesal karena hanya mengejar dunia padahal jauh di lubuk hati kita tahu semua hanya sementara.

Tak hanya menyiapkan diri untuk ‘pulang’, kita pun mesti bersiap kehilangan. Entah itu harta atau orang tercinta. Kehilangan memang bukan perkara mudah. Namun jika kita senantiasa menyertakan Allah Swt. dalam hati, insya Allah akan lebih mudah bagi kita beradaptasi dengan duka dengan ketenangan batin yang dianugerahkan Allah Swt.

Apa yang harus kita lakukan agar tidak terjebak kecintaan terhadap hal-hal duniawi?

Kita bisa memulainya dari bersyukur atas nikmat Allah yang tak terhingga. Walaupun kita kadang melalaikan kewajiban sebagai Muslim, Allah masih memberikan kemudahan bagi kita menjalani kehidupan.

Menyertakan Allah dalam setiap langkah bisa diawali dengan meningkatkan ketakwaan, yaitu menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Itulah cara terbaik untuk menghindarkan diri kita dari cinta duniawi. Kita bisa menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan positif dan ibadah, agar tak hanya mendapat kebahagiaan dunia tapi juga meraih kebahagiaan sejati untuk akhirat kelak.

Marilah kita mulai menyadari dan memahami bahwa semua yang ada pada diri kita adalah ujian dari Allah Swt. Bersiaplah untuk menghadapi kehilangan karena segala yang kita miliki di dunia ini semata adalah titipan-Nya. Kapan pun, Allah bisa mengambil kembali apa yang Dia titipkan. Jangan sampai hubbuddunya (cinta dunia) menutupi kecintaan kita kepada Sang Khalik.

Semoga kita semua senantiasa diberikan kenikmatan iman dan Islam serta dijadikan istiqamah menuju ketakwaan yang sejati. Insya Allah.
 




Anggunnya Keberanian Seorang Asma binti Abu Bakar

Sebelumnya

Memahami Faedah Bertawakal untuk Membebaskan Diri dari Penderitaan Batin

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Tadabbur