post image
Ilustrasi/ Net
KOMENTAR

SARAH memang perempuan cantik jelita. Buktinya, raja yang punya banyak koleksi wanita di istananya, tapi masih saja berhasrat merebut Sarah dari suami sahnya. Syukurlah kecerdikan Nabi Ibrahim dalam diplomasi dapat menyelamatkan kehormatan istrinya itu.

Sarah memang pernah cantik jelita, tentunya di usia muda belia, seiring bertambahnya usia kecantikan itu makin memudar. Hal itu pula yang tak dapat dipungkiri oleh siapapun perempuan saat menapaki usia senja.

Lantas apakah dengan kerentaannya itu Sarah tidak lagi jadi pusat perhatian?

Pada kenyataannya justru sebaliknya, malah di usia amat tua yang menjadikan daya tarik Sarah tercantum dalam Al-Qur’an. Nenek-nenek diekspose dalam kitab suci, apa tidak ada perempuan cantik yang muda dan lagi ranum-ranumnya?

Kesimpulannya, perempuan muda cantik jelita tidaklah menjadi lakon dalam Al-Qur’an. Kesimpulan lainnya, kecantikan itu hakikatnya bukanlah pada fisik, dalam usia senja pun perempuan dapat memancarkan pesonanya.     

Di antara peran agung yang diemban Sarah pada usia senja adalah hamil dan melahirkan putera bernama Ishak, yang kemudian menjadi salah seorang nabi Allah. Tuhan mengutus malaikat untuk mengabarkan keajaiban ini.

Surat Hud ayat 71-72, yang artinya, “Dan istrinya berdiri lalu dia tersenyum. Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishak dan setelah Ishak (akan lahir) Yakub. Dia (istrinya) berkata, “Sungguh ajaib, mungkinkah aku akan melahirkan anak padahal aku sudah tua, dan suamiku ini sudah sangat tua? Ini benar-benar sesuatu yang ajaib.”

Tentunya hamil di usia tua bukanlah perkara gampang, tanpa diterangkan pun semua orang tahu ada berbagai risiko yang mengintai. Sarah pun terheran-heran dengan kabar gembira yang sungguh ajaib ini. Nenek-nenak hamil, apa kata dunia?

Di episode inilah dapat kita tangkap hikmah mengenai kecantikan hati seorang perempuan tua, di mana Sarah menunjukkan kematangan diri yang menakjubkan, dia tidak takut atau gentar, tetapi menerimanya dengan senyuman, karena itu sebagai amanah yang memuliakan dirinya dan keluarganya.

Ada lagi perempuan yang tak kalah spektakulernya, yang mematahkan logika manusia biasa, yang juga meraih sanjungan Al-Qur’an. Dia adalah istri dari Nabi Zakaria.

Surat Maryam ayat 7, yang artinya, “(Allah berfirman), ‘Wahai Zakaria! Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki namanya Yahya, yang Kami belum pernah memberikan nama seperti itu sebelumnya.”

Surat Maryam ayat 8, yang artinya, “Dia (Zakaria) berkata, ‘Ya Tuhanku, bagaimana aku akan mempunyai anak, padahal istriku seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai usia yang sangat tua?”

Surat Maryam ayat 9, yang artinya, “(Allah) berfirman, ‘Demikianlah, Tuhanmu berfirman, ‘Hal itu mudah bagi-Ku; sungguh, engkau telah Aku ciptakan sebelum itu, padahal (pada waktu itu) engkau belum berwujud sama sekali.”

Istri Nabi Zakaria lebih menakjubkan lagi. Dirinya yang dicap mandul tidak mengurangi husnuzan dirinya atas karunia Ilahi. Bersama suaminya, perempuan itu terus memanjatkan doa agar dikaruniai anak.

Tidak kendor sedikit pun semangatnya untuk menjadi seorang ibu, kendati secara logika manusia itu dapat dikatakan mustahil, bahkan suaminya pun sempat tercengang terkait dengan usia yang teramat tua.

Akhirnya, istri Nabi Zakaria pun membuktikan keajaiban itu, dirinya hamil dan melahirkan seorang anak yang kelak menjadi nabi, yang mana Allah yang langsung memberinya nama, yakni Yahya.

Kita mungkin ikut berimajinasi, bagaimanakah situasi kebatinan dari istri Nabi Zakaria ketika mendengar kabar kehamilan dirinya, yang disampaikan melalui malaikat-Nya.

Ahmad Khalil Jam'ah dan Syaikh Muhammad bin Yusuf Ad-Dimasyqi dalam buku Istri-Istri Para Nabi menceritakan, Zakaria as. memandang istri beliau, Isya', dengan pandangan iba dan simpati.

Beliau melihat sinar terlukis indah di wajahnya dan senyuman ridha di kedua bibirnya, karena hatinya berhubungan dengan Allah Ta'ala dan tenang. Ibnu Abbas berkata, “Anak laki-laki itu dinamakan Yahya, karena dengannya, Allah menghidupkan kemandulan ibunya.” Memang, Yahya dari sudut bahasa Arab bermakna hidup.

Sikap positif yang dirawat oleh istri Nabi Zakaria ini tidak pudar hingga dirinya menapaki usia senja. Perempuan ini luar biasa mentalnya, teramat tangguh bagaikan karang di lautan. Tidak pernah dirinya patah semangat, dan tidak berkurang sedikit pun keimanannya terhadap keajaiban dari Tuhan.    

Dari kisah perempuan-perempuan tua dalam Al-Qur’an, dapatlah kita petik kesimpulan, di antaranya:

Pertama, perkara kecantikan yang terpancar dari kematangan diri.

Baik Sarah maupun Isya', istri Nabi Zakaria, sama-sama menunjukkan kecantikan batiniah di usia yang tidak muda lagi. Ibarat buah kelapa, makin tua kian pekat dan kental santan yang dihasilkannya. Perjalanan panjang kehidupan telah mengasah diri mereka menjadi teramat matang dalam memandang kehidupan.

Dengan demikian, usia senja bukan berarti perempuan kehilangan kecantikannya, bahkan mampu lebih bersinar. Asalkan perempuan mampu melakukan transformasi makna kecantikan menuju yang hakiki, yang batiniah.

Close X

Saring Sebelum Sharing; Kiat Terhindar dari Dosa Medsos

Sebelumnya

Rebutan Hak Asuh, Apa Motifnya?

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Tadabbur