post image
Konsultan pernikahan Indra Noveldy dalam webinar PROFFESIONAL WOMEN'S WEEK 2021 bertema "Membangun Keluarga yang Bisa Menjawab Tantangan", Rabu (22/9/21).
KOMENTAR

SALAH satu kunci perempuan untuk bisa profesional dalam keberdayaannya di masyarakat adalah rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Ketika perempuan hanya mengejar keberdayaan secara finansial alias mandiri secara ekonomi, bukan tidak mungkin apa yang dia lakukan justru menghancurkan rumah tangganya.

Bukan tanpa alasan mengingatkan para perempuan yang ingin melebarkan keberdayaan nya di luar rumah. Data terbaru menunjukkan bahwa penggugat perceraian didominasi oleh perempuan. Jangan sampai perempuan berdaya tapi hanyut dengan pencapaiannya. Penting untuk merenungi kembali apa tujuan berbisnis dan apa tujuan terjun ke aktivitas sosial.

Sebab apabila orientasinya hanya untuk membangun bisnis dan mengenyampingkan perasaan orang-orang di sekitarnya, maka kemungkinan di masa yang akan datang dia tidak akan menikmati sama sekali jerih parahnya di masa sekarang.

“Duit banyak, tapi hatinya kosong. Duit banyak, tapi keluarganya berantakan. Bahkan tak perlu menunggu lama,  pernikahan pun bubar jalan. Kenapa bubar? Karena istri yang bekerja ini merasa bahwa kariernya tidak didukung oleh suami, tidak didukung oleh anak-anaknya. Padahal dia merasa melakukan semua ini demi keluarga. Demi membantu perekonomian keluarga,” ujar konsultan pernikahan Indra Noveldy dalam webinar PROFFESIONAL WOMEN'S WEEK 2021 bertema "Membangun Keluarga yang Bisa Menjawab Tantangan", Rabu (22/9/21).

Untuk bisa mengembangkan keberdayaan, perempuan terlebih dahulu harus bisa memiliki surga di bumi yaitu baiti jannati. Hubungan yang baik dengan suami juga anak-anak.

Bagaimana membangun keluarga yang kuat menghadapi tantangan? Usaha tersebut harus dimulai dari komitmen suami istri membangun fondasi pernikahan yang solid.

Menciptakan Kehidupan Bebas Toksik

Tantangan dalam membangun fondasi rumah tangga bisa datang dari dalam diri sendiri (internal) maupun dari lingkungan (eksternal). Satu hal yang menjadi penting adalah menjaga diri dari atmosfer toksik (beracun) baik yang dari sahabat terdekat maupun dari diri sendiri. Terlalu banyak disibukkan melihat kehidupan orang lain di media sosial bisa menjadi toksik dalam pikiran kita. Pun kita dituntut hati-hati memilih teman. Jangan pilih sahabat yang suka menggunjingkan orang lain.

Lingkungan yang sehat salah satunya adalah inner circle yang mampu bersifat netral. Artinya, jika ada masalah dalam rumah tangga kita, mereka akan memihak pada siapa yang benar. Bukan atas dasar kedekatan relasi kekeluargaan atau persahabatan.

"Terlalu banyak toksik eksternal masuk ke tubuh kita mengakibatkan energi kita tak lagi indah saat berinteraksi dengan pasangan," kata Indra Noveldy.

Tidak Menuntut Tapi Aktif Memperbaiki Diri

Menurut Indra Noveldy, untuk bisa menciptakan fondasi rumah tangga yang baik, baik suami maupun istri tidak boleh menuntut. Sebaliknya, kekuatan terbesar untuk bisa mengatasi segala rintangan kehidupan adalah diri sendiri.

Maka perempuan bisa memulai dengan menanyakan hal-hal ini kepada diri sendiri: Sudahkah pasangan merasa dicintai oleh kita? Sudahkah kita menjadi orang yang layak didengar oleh pasangan? Kuatkah kita berkarya di luar rumah jika fondasi di dalam rumah belum solid?

Indra Noveldy juga mengingatkan bahwa rentang usia pernikahan bukan jaminan rumah tangga memiliki fondasi kuat. Berkaca dari pengalaman para klien yang datang padanya, banyak yang sudah mengarungi 20 hingga 30 tahun pernikahan nyatanya merasa 'sendiri' dan hampa.

Ada "4 Fit" yang membentuk fondasi rumah tangga yaitu fisik, spiritual, finansial, dan hubungan (relationship). Banyak orang mengutamakan peningkatan finansial dalam rumah tangga hingga melupakan tiga hal lainnya. Akibatnya, kesejahteraan ekonomi menjadi standar dalam mengejar kebahagiaan. Dan ujung-ujungnya, rumah tangga berantakan.

Kebahagiaan sejatinya adalah hal relatif, tapi yang penting adalah menyiapkan fondasi rumah tangga yang kuat. Modal utama untuk memperkuat rumah tangga adalah cinta. Tapi yang sering dilupakan banyak pasangan, cinta bukan kata benda melainkan sebuah kata kerja. Di dalamnya terkandung usaha dan perjuangan.

"Insya Allah kita siap menghadapi tantangan apa pun di muka bumi jika rumah kita sudah menjadi surga," pesan Indra Noveldy.

Kencan Penuh Makna

Berkaitan dengan perempuan pengusaha yang berpartner dengan suami, kebersamaan 24 jam di rumah maupun di kantor membuat pintu konflik bisa lebih terbuka. Saat itulah menurut Indra Noveldy, penting bagi pasutri untuk berkencan. Menghabiskan waktu berdua menjadi penting untuk menjaga cinta.

"Ingat, saat kencan dilarang membahas urusan kantor, topik finansial, gaji karyawan, bisnis, dan urusan anak. Ngedate dengan pasangan adalah investasi untuk membangun hubungan yang sehat. Ini langkah yang paling mudah dilakukan," kata Indra Noveldy.

Meningkat dan Terus Meningkat

Pada banyak hubungan pasutri, banyak istri mengeluh suami tidak mau mendengarkan perkataan mereka. "Di sinilah pentingnya raising the bar, meningkatkan standar atau level kita sebagai individu baik secara fisik maupun spiritual."

Menjadi bugar dan menarik secara fisik di mata pasangan menjadi satu penyebab munculnya hormon kebahagiaan seperti endorfin. Demikian juga meningkatkan tingkat spiritual yang bisa terbaca saat kita bicara atau menyikapi suatu permasalahan. Dengan meningkatkan standar pribadi, kita menjadi orang yang layak untuk didengar oleh pasangan.
 

Ketua Umum Induk Koperasi Wanita Pengusaha Indonesia (INKOWAPI) Sharmila Yahya: Koperasi Wanita Salah Satu Solusi Pemulihan Ekonomi Bangsa di Era New Normal

Sebelumnya

Tampil Fresh & Glowing dengan Colorfit Matte Lip Ink dan Cream Blush Wardah

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel C&E