post image
Ilustrasi suntik vaksin pada ibu hamil/ Net
KOMENTAR

VAKSIN Covid-19 yang menggunakan teknologi mRNA dianggap aman dan efektif pada ibu hamil. Hal itu seolah menjawab begitu banyak pertanyaan dan kekhawatiran para ibu hamil tentang keamanan vaksin sejak kampanye vaksin Covid-19 diluncurkan di seluruh dunia. Hal itu dapat dilihat dari observasi awal berjudul Preliminary Findings of mRNA Covid-19 Vaccine Safety in Pregnant Persons yang diterbitkan 21 April dalam New England Journal of Medicine (NEJM).

Menurut data awal dari v-safe Covid-19 Vaccine Pregnancy Registry yang ada di CDC (Centers for Disease Control and Prevention), tampak tidak ada peningkatan risiko kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, keguguran, atau kematian neonatal pada bayi yang lahir dari ibu yang pernah menerima vaksin Covid-19 Pfizer maupun Moderna.

Dilansir Healthline (23/04/2021), Dr. Eran Bornstein, Direktur Center for Maternal-Fetal Medicine di RS Lenox Hill, New York mengatakan bahwa studi tersebut terbilang sangat meyakinkan. Tidak ada sinyal yang menunjukkan peningkatan risiko dibandingkan dengan hasil kontrol sebelumnya. Juga tidak ada sinyal adanya kondisi abnormal yang berbeda dari kondisi kehamilan yang sehat.

Menjawab Pertanyaan Mendesak

Sebagai sebuah jurnal medis terkemuka, NEJM biasanya tidak pernah mempublikasikan temuan observasi awal. Namun mengingat urgensi subjek studi ini, dirasa penting untuk menyebarluaskannya untuk menjawab berbagai pertanyaan mendesak yang diajukan para ibu hamil. "Penting untuk perempuan mengetahui bahwa risiko vaksin ini tampak lebih rendah dibandingkan manfaatnya yang sangat tinggi," ujar dr. Bornstein.

Ia mengharapkan lebih banyak penelitian jangka panjang dan studi terfokus untuk dipublikasikan di masa mendatang. Penelitian selanjutnya juga diharapkan dapat memberi lebih banyak data tentang keamanan vaksin Johnson & Johnson yang tidak dibahas dalam penelitian NEJM tersebut.

Risiko Covid-19 Pada Kehamilan

Dr. Ellie Ragsdale, spesialis maternal & fetal medicine di UH Cleveland Medical Center, Ohio mengatakan bahwa semua penyedia layanan kesehatan memahami keraguan pasien untuk menerima vaksin. Tapi diketahui bahwa Covid-19 sangat berbahaya terutama pada ibu hamil dan perempuan dalam masa nifas. "Saat ini kami belum melihat adanya risiko bahaya dari salah satu dari tiga vaksin di pasaran yang ditujukan bagi ibu hamil," ujar dr. Ragsdale.

Merawat para ibu hamil selama pandemi, dr. Ragsdale melihat banyak kondisi buruk terjadi pada mereka yang terinfeksi Covid-19. Demikian pula ilmuwan CDC menemukan bahwa perempuan hamil lebih berpotensi dirawat di ICU daripada perempuan yang tidak hamil. Perempuan hamil juga lebih mudah terpapar dan lebih berpotensi untuk meninggal karena Covid-19.

Data CDC dan jurnal The BMJ berjudul Clinical Manifestations, Risk Factors, and Maternal and Perinatal Outcomes of Coronavirus Disease 2019 in Pregnancy: Living Systematic Review and Meta-Analysis yang terbit tahun 2020 menemukan adanya peningkatan risiko kelahiran prematur di antara perempuan dengan Covid-19. Vaksinasi tidak hanya mengurangi risiko tertular tapi juga mengurangi tingkat keparahan penyakit.

Mengurangi Risiko Covid-19

dr. Bornstein dan dr. Ragsdale mengimbau para pasien mereka untuk divaksinasi. Demikian pula yang dilakukan dr. Jennifer Thompson, dokter Obsgyn sekaligus profesor bidang maternal-fetal medicine di Vanderbilt University Medical Center, Tennessee. "Saya menjelaskan kepada para pasien bahwa kehamilan dapat meningkatkan risiko Covid-19 yang lebih parah. Dan risiko itu meningkat lebih jauh jika mereka memiliki penyakit penyerta seperti diabetes, obesitas, atau usia yang sedikit lebih tua untuk kehamilan," ujar dr. Thompson.

Mengingat angka penularan Covid-19 masih terbilang tinggi dan jumlah orang yang didiagnosis secara rutin masih signifikan, dr. Thompson menyarankan ibu hamil berdiskusi dengan dokter kandungan mereka tentang risiko Covid-19 juga potensi manfaat dan risiko vaksinasi.

Dukungan Terhadap Akses Vaksin

Sementara pendistribusian vaksin Pfizer dan Moderna terus berlanjut di seluruh Amerika, CDC kembali merekomendasikan penggunaan vaksin Jhonson & Johnson setelah sempat menghentikan sementara pemberian vaksin tersebut karena adanya laporan pembekuan darah di otak (yang sangat kecil proporsinya—terbilang langka). Sebanyak 6 kasus pembekuan darah di otak dilaporkan dari sekitar 7,5 juta orang yang telah menerima vaksin Jhonson & Johnson.

Hampir semua kasus kondisi serius pembekuan darah dengan trombosit rendah melibatkan perempuan dewasa berusia di bawah 50 tahun. Berdasarkan peninjauan terhadap semua data, manfaat dan potensi vaksin Jhonson & Johnson lebih besar daripada risikonya. Perempuan dewasa di bawah 50 tahun diminta waspada dan bisa memilih vaksin lain yang diketahui tidak memiliki risiko tersebut.

American College of Obstetricians and Gyneologists (ACOG) telah menyarankan para dokter Obsgyn mendorong ibu hamil dan pascapersalinan yang ingin divaksinasi untuk menerima vaksin mRNA yaitu Pfizer atau Moderna. ACOG merekomendasikan ibu hamil diberi akses kepada vaksin Covid-19.

 

 

 

Close X

Sembuh dari Covid-19, Kondisi Memburuk Lalu Meninggal Dunia. Mengapa Bisa Terjadi?

Sebelumnya

dr Ade: Ibadah Puasa Adalah Cara Terbaik Untuk Diet

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Farah Health