post image
Desainer Raizal Rais/ Net
KOMENTAR

DUNIA mode Indonesia kehilangan seorang desainer terbaiknya. Raizal ‘Boeyoenq’ Rais meninggal dunia pada Sabtu (30/01/2021) di usia 66 tahun akibat penyakit diabetes dan komplikasi yang ia derita sejak lama. Om Boeyoenq, biasa ia disapa, meninggalkan istri, Elda Rais, dan dua anaknya, Randy Rais dan Rendha Rais.

Meskipun kondisi kesehatan desainer berdarah Minang ini memang kian menurun dari tahun ke tahun, Om Boeyoenq konsisten untuk tetap berkarya dan berkontribusi bagi perkembangan dunia fesyen Indonesia. Walau membutuhkan bantuan orang lain, ide kreatif dan ciri khas rancangannya tetap bisa dinikmati para pencinta busana etnik.

Tak hanya berkarya, Om Boeyoenq juga tetap menghidupkan dunia mode dengan cara mendidik bibit-bibit muda berbakat yang ingin serius mengabdi untuk seni kreatif Indonesia. Sebagai seorang senior, ia tak pelit berbagi ilmu dan berbagi pengalaman dengan generasi muda.

Om Boeyonq menyadari bahwa tongkat estafet harus dipindahkan ke tangan anak-anak muda agar dunia mode Tanah Air makin berkibar dengan karya yang makin bervariasi dan berkualitas.

Sosoknya dikenal ramah dan tak pelit bicara. Selalu ada topik menarik untuk diperbincangkan bersama Om Boeyoenq, menghabiskan jam demi jam tanpa terasa. Sudah pasti karena wawasannya yang luas dan pengalaman hidup yang berwarna.
 
Putra dari Rais Taing dan Rosma ini pernah hidup di Paris, Perancis dan Brighton, Inggris selepas SMA. Di sana, ia berkenalan dengan dunia kecantikan dan dunia mode. Setibanya di Tanah Air, ia menyempatkan berbakti kepada sang ibu, membantu menjalankan bisnis keluarga sembari kuliah di jurusan akuntansi Universitas Jayabaya.

Namun, Om Boeyonq kemudian memilih menjalani passion sebagai perancang busana. Ia menyebutnya sebagai jalan hidup. Memuaskan jiwa seni yang membara dalam dirinya tanpa kehilangan jati diri sebagai Urang Awak.

Semasa awal perjalanan karirnya, Om Boeyoenq pernah menekuni busana pengantin khas Minang dan sukses. Ia lalu menggeluti busana muslim. Ia menekankan pentingnya memerhatikan kaidah menutup aurat yang benar dengan tetap menampilkan gaya dan keindahan busana. Ia juga mencintai kain etnik Minang.

Setelah lama berkiprah di APPMI, selama lima tahun terakhir ini Om Boeyoenq aktif menginisiasi Komunitas Desainer Etnik Indonesia (KDEI) yang bertransformasi menjadi Indonesia Ethnic Desainer Community (IEDC). Semua karena kecintaannya yang luar biasa untuk kain etnik Nusantara.

Ia menjabat sebagai Ketua Umum  IEDC dan tanpa lelah mengajak sesama desainer pemerhati etnik Nusantara untuk menjadikan fesyen etnik sebagai tuan rumah di negeri sendiri. Belajar dan berjuang bersama untuk selalu kreatif dalam mencipta hingga memasarkan produk para desainer IEDC.

Pada Desember 2020 lalu, Om Boeyoenq masih terlihat sangat bersemangat menyiapkan virtual fashion show menyambut ulang tahun ke-5 IEDC bekerja sama dengan Farah.id, Universitas Negeri Jakarta, dan Wardah Cosmetics. Ia menyampaikan harapannya agar kreativitas para desainer IEDC tidak padam oleh pandemi. Ia menekankan bahwa mereka tetap bisa saling bersinergi untuk bertahan dan berkembang di tengah berbagai keterbatasan akibat pandemi Covid-19.

Lebih dari satu dekade silam, ia  termasuk pionir yang mempopulerkan batik Minang. Menurut Om Boeyoenq, batik Minang unik karena proses pembuatannya memanfaatkan tanah liat sebagai media perendam. Karena itulah batik Minang juga dikenal dengan istilah batik tanah liek (tanah liat).

Selain unik karena tanah liat, batik Minang juga memiliki corak dan motif yang tidak kalah memesona dari batik tanah Jawa yang lebih dulu dikenal luas masyarakat. Om Boeyoenq menggunakan motif berupa flora dan fauna juga ornamen budaya yang populer dan mencirikan masyarakat Minang, seperti Rumah Gadang.

Om Boeyoenq banyak bereksperimen dalam karya-karyanya. Kekayaan budaya Minang tak pernah membuatnya kering ide. Dalam berkreasi, ia pun tak segan melirik kain etnik daerah lain. Dengan pilihan material berkualitas premium, hasil rancangan Om Boeyoenq memang dikenal eksklusif dan memiliki konsumen loyal dari kalangan menengah ke atas.

Sosok Om Boeyoenq identik dengan kerja keras dan kerja tulus. Ia belajar dan mengembangkan diri, terus-menerus, hingga menjelang akhir hayatnya. Keterbatasan fisik tak membatasinya untuk menjadi bermanfaat bagi orang lain karena di kepalanya tersimpan pengetahuan nan kaya yang dibagikannya untuk kemajuan dunia mode Indonesia.

Selamat jalan, Om Boeyoenq. Semoga segala manfaat yang engkau tebarkan selama ini menjadi amal saleh yang tak akan terputus.
 

 

 

 

Close X

Jangan Gunakan Masker Kain Ke ICU Atau UGD! Begini Cara Pakai Dan Pengelolaannya

Sebelumnya

International Fashion Expo, Jembatan Emas Bagi Dunia Mode Italia-Indonesia

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Farah Fashion