Ilustrasi Jaya Suprana/Ist
Ilustrasi Jaya Suprana/Ist
KOMENTAR

DI MASSA pageblug Corona, saya berupaya mempelajari berbagai hal, antara lain apa yang disebut sebagai waktu. Ternyata sampai saat naskah ini saya tulis, saya belum berhasil menemukan definisi yang memuaskan, baik secara rasional mau pun emosional.

Tampaknya Kamus Besar Bahasa Indonesia juga kewalahan dalam upaya menjelaskan makna waktu, maka sibuk memberikan bukan cuma satu, namun aneka ragam makna waktu yang saya copas sebagai berikut:

Kamus

1. Seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan, atau keadaan berada atau berlangsung: tidak seorang pun tahu apa yang akan terjadi pada -- yang akan datang; 2. Lamanya (saat yang tertentu): pekerjaan itu harus selesai dalam -- lima hari; 3. Saat yang tertentu untuk melakukan sesuatu: -- makan; 4. Kesempatan; tempo; peluang: sayang sekali -- yang baik untuk mencetak gol tidak dipergunakannya; 5. Ketika, saat: -- engkau datang, saya sedang mandi; 6. Hari (keadaan hari): -- terang bulan;

7. Saat yang ditentukan berdasarkan pembagian bola dunia: -- Indonesia Barat; -- duga berangkat perkiraan waktu berangkat kapal dari suatu tempat; -- duga tiba perkiraan waktu tiba kapal dari suatu tempat; -- garapan jumlah waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan produk tertentu yang dihitung sejak proses produksi dimulai sampai proses produksi berakhir; -- mintakat waktu menengah di suatu tempat dari zona waktu yang merupakan waktu menengah setempat dari derajat tengahnya; -- luncur masa badan perenang meluncur di air akibat tarikan lengan atau tendangan kaki; -- siar waktu yang digunakan oleh sebuah siaran komersial atau nonkomersial di radio atau televisi; berwaktu: mempunyai waktu yang tertentu; dengan waktu yang tertentu; memakai waktu; pewaktuan: yang berkenaan dengan waktu;

Sewaktu: 1. Ketika; saat: ~ engkau lengah, dia akan memukulmu; 2. Sama waktunya; sewaktu-waktu tidak tentu waktunya; kapan-kapan; bilamana saja: kekacauan ~ dapat timbul

Waktu

Keanekaragaman makna membuktikan bahwa waktu memang kompleks, maka menarik untuk dipelajari. Maka Stephen Hawkings menulis buku berjudul The Short History of Time, sementara Albert Einstein menggubah teori relatifitas berdasar fenomena waktu. Kadang kali waktu terasa berjalan cepat seperti ketika saya sedang menikmati nikmatnya makan sate kambing.

Kadang kali pula saya merasa waktu berjalan lama seperti ketika saya menunggu antrean di ruang tunggu dokter. Ketika mendengar seorang berpidato secara membosankan, waktu terasa berjalan lambat. Sementara waktu berjalan amat sangat terlalu lambat ketika kita menunggu saat PSBB dinyatakan usai oleh pemerintah.

Saya belum memperoleh jawaban atas pertanyaan kenapa satu detik disebut sebagai satu detik dan oleh siapa, di samping sejak kapan. Memang kita sudah sepakat bahwa satu detik adalah satu detik yang kini sepakati sebagai satu detik. Namun tidak jelas sejauh mana kesepakatan itu benar-benar merupakan kebenaran bahwa satu detik adalah satu detik seperti yang kini telah disepakati sebagai satu detiknya satu detik. Wallahu’alam bisshawab.

Anugerah

Waktu sangat memengaruhi perasaan manusia seperti penyesalan terhadap masa lalu, kecemasan atas masa depan serta ketidakpastian atas kapan saat akhir hidup di dunia fana. Bahwa kesadaran atas waktu sepenuhnya melekat pada kesadaran manusia memang sudah terbukti waktu saya dibius akibat gusi saya dibedah demi membuang empat gigi bungsu yang kehabisan tempat di dalan mulut saya. Juga empedu saya dibuang sebab mengandung batu di dalamnya ketika saya dibius sehingga kehilangan kesadaran.

Pada saat-saat tidak sadar itu saya tidak merasakan adanya apa yang disebut sebagai waktu. Tidak jelas apakah waktu itu memang benar-benar ada atau sekadar diadakan oleh kesadaran saya. Kesadaran atas waktu sepenuhnya bersifat subyektif maka nisbi.

Pada hakikatnya apa yang disebut sebagai waktu merupakan suatu anugerah Yang Maha Kuasa setara dengan apa yang disebut sebagai kasih sayang, welas asih, bela rasa, kearifan, kepedulian, keimanan, kepercayaan, kemanusiaan serta lain-lain hal yang sebenarnya tidak perlu didefinisikan namun dipelajari untuk kemudian dimanfaatkan sebaik mungkin oleh setiap insan manusia sebagai bekal bersama sesama manusia dan sesama mahluk hidup menempuh perjalanan hidup sarat kemelut deru campur debu berpercik keringat, air mata dan darah di planet bumi ini.
 




Viral, Seorang Terapis Diduga Lakukan Kekerasan kepada Anak Penyandang Autisme

Sebelumnya

Menggratiskan Tes PCR Pasti Mampu Jika Mau

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana