post image
Ilustrasi/ Net
KOMENTAR

KISAH perempuan dan isi lemarinya. Hampir setiap bulan membeli outfit baru, fashion item baru, aksesoris baru, tapi mengapa setiap ingin keluar rumah atau ‘menghadiri’ online meeting, kita harus menghela napas dalam-dalam sembari mengatakan “God, I have nothing to wear”?

Isi lemari kita terdiri dari beragam model baju dengan berbagai warna. Bahan yang tipis seperti satin silk hingga bahan yang berat macam linen atau wool semua ada. Kemeja, blus, tunik, gaun panjang, abaya, gamis, midi dress, jumpsuit, rok, kulot, jogger pant, hingga skinny jeans, ada. Warna? You name it. Nude pink, pink, fuschia, magenta, ada. Navy, neon blue, turquoise, pavo, smalt, ada. Milo, mocca, fulvous, hingga fallow, ada. Semua ADA.

Oke, lantas apa yang salah? Mengapa kita selalu kesulitan menemukan pakaian yang tepat untuk dikenakan?

Gaya berpakaian kita seringkali dipengaruhi mood. Dan bad mood tentulah menjadi musuh. Misalkan saja bangun kesiangan yang berakibat pada tidak sempat sarapan bahkan bisa saja terburu-buru hingga menyebabkan terpeleset di lantai kamar mandi.

Ketika dalam kondisi kacau tersebut kita membuka pintu lemari, saat itulah biasanya kita kebingungan. Rasanya tidak ada baju yang cocok untuk kita pakai pada hari itu. Kita mengharapkan baju yang mudah dikenakan, santai, longgar, tidak banyak detail, simpel. Kita merasa tidak memilikinya.

Benarkah kita tidak punya? Yang benar saja, baju seperti itu ada di tumpukan dua rak teratas. Hanya saja, bad mood menghalangi kita untuk menemukannya.

Penyebab lainnya bisa jadi tubuh kita kini semakin berisi hingga banyak baju terasa sempit dipakai atau modelnya terasa tidak sesuai bentuk tubuh. Tak heran jika kita sulit ‘menghargai’ apa yang ada dalam lemari pakaian kita.

Bagaimana untuk bisa merasa aman dan nyaman dengan baju-baju yang kita miliki? Kita bisa mengikuti tiga langkah ala Madeline Neufeld dalam tulisannya, Learn to Love the Clothes Already in Your Closet.

#Memikirkan proses kreatif penciptaan baju

Marilah kita mengingat-ingat bagaimana proses kreatif penciptaan baju yang ada di dalam lemari kita. Kain didapat dari petani kapas terus hingga ke perajin kain. Ada desainer, pembuat pola, penjahit, pemasang detail dan aksen, juga butik yang menjualnya. Wow!

Rantai produksi sebuah baju bukan main kompleksnya. Dan itu semua membutuhkan pemikiran mendalam serta keterampilan. Kita membeli hasil karya orang lain, dan kita patut menghargainya dengan menjadikan fesyen sebagai satu cara kita menghargai kehidupan.

Baju yang kita kenakan tidak hanya menjadi pelindung tubuh, tapi juga mempresentasikan sosok terbaik diri kita. Terutama bagi seorang Muslimah, pakaian haruslah menutup aurat dengan baik. Dengan begitu, kita akan bersyukur dengan apa yang ada di lemari pakaian kita.

#Menciptakan fashion style baru

Saatnya membuka pikiran kita bahwa tidak ada batas kreatif dalam memadupadankan fesyen. Kita tidak harus memaksakan diri mengikuti tren, tapi kita bisa melihat di Pinterest, Instagram, atau fashion tutorial dari para fashion blogger tentang mix & match mungkin tidak pernah terlintas di benak kita untuk melakukannya.

Atau kita bisa mencontek gaya berpakaian sahabat yang selama ini memiliki selera fesyen berbeda dengan kita. Mencoba gaya baru akan membuat pakaian-pakaian kita di lemari terlihat lebih hidup, bahkan seakan baru.

#Menyempurnakan isi lemari

Ketika kita merasa beberapa baju kita sudah out of date, tak ada salahnya untuk menyempurnakannya ke penjahit. Ya, kita bisa mengubah model, menambah atau mengurangi detail dan aksen, sehingga kita punya baju “baru’ yang tak hanya lebih trendi tapi juga sesuai dengan bentuk tubuh kita.

Ya, tak ada salahnya kita menjahit baju karena pasti lebih sesuai dengan bentuk tubuh kita. Terlebih bagi kita yang memiliki tubuh dengan proporsi unik, tentu berbeda dari ukuran yang dijadikan panduan para produsen pakaian jadi.

Kita juga bisa membuat closet inventory. Jika memang kita memiliki terlalu banyak varian baju atau banyak baju yang sama modelnya, tak ada salahnya memberikan baju-baju tersebut ke anggota keluarga atau mereka yang membutuhkan. Jangan sampai baju menjadi hal mubazir karena dibiarkan begitu saja.

Sahabat Farah, mari kita melihat lemari pakaian kita dengan pandangan baru. Bagaimana pun, pakaian memengaruhi hidup kita setiap hari. Ingat selalu bahwa tampil baik, layak, dan berkelas tidak harus dengan baju baru serba branded. Jangan ragu mengeksplorasi isi lemari kita dengan lebih kreatif. (F)

 

Close X

Atalia Ridwan Kamil: Berbuat Kebaikan Bisa Menimbulkan Kecanduan

Sebelumnya

Atalia Kamil: Ibu Pegang Peranan Sentral Di Tengah Pandemik Covid-19

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Farah Women