post image
Masjid Alserkal Kamboja/ Net
KOMENTAR

PEMERINTAH Kamboja telah mengijinkan kembali umat muslim untuk melakukan praktik keagamaan di masjid-masjid mulai Jumat (11/9).

Hal itu diumumkan Kementerian Kesehatan dalam sebuah siaran pers, yang mengatakan itu adalah langkah pertama untuk melanjutkan praktik keagamaan normal di masjid, dengan ketentuan bahwa langkah-langkah pencegahan penularan Covid-19 yang ketat sudah diterapkan.

Rencana pembukaan kembali itu mendapat persetujuan tertulis dari Perdana Menteri Hun Sen pekan lalu, menyusul permintaan kementerian.
 
“Para pemimpin Islam disarankan untuk memulai proses langkah demi langkah ini dengan menguji coba pertemuan selama empat hari Jumat berturut-turut. Kalau berhasil, maka proses peribadatan di surau bisa dimulai,” ujarnya, seperti dikutip dari Khmer Times, Selasa (8/9).

"Dewan Islam harus memantau pelaksanaan layanan pembukaan kembali selengkap mungkin," tambahnya.

"Jika kasus dugaan Covid-19 terjadi di masjid mana pun, pimpinan setempat harus segera melaporkannya ke otoritas atau puskesmas terdekat," katanya.

Kementerian Kesehatan mengatakan, langkah-langkah protokol kesehatan yang harus dipatuhi masjid di antaranya kewajiban memakai masker, memeriksa suhu jamaah sebelum masuk, mengikuti aturan jarak sosial 1,5 meter dan secara teratur mencuci tangan di stasiun sanitasi wajib.

"Selain itu, jamaah juga diwajibkan untuk membawa sajadah mereka sendiri dan pertemuan akan dibatasi hingga 30 menit, dengan anak-anak dan orang sakit disarankan untuk tidak hadir," kata kementerian dalam rilisnya.

Sementara itu, ketua Yayasan Pengembangan Muslim Kamboja Othsman Hassan mengatakan bahwa pengumuman terbaru telah diterima dengan baik oleh masyarakat, yang dengan senang hati dapat mulai menjalankan ibadahnya kembali di dalam masjid.
 
“Komunitas Muslim sangat senang dengan pengumuman ini dan memulai kembali praktik keagamaan mereka. Tapi, kalau ke depannya ada komplikasi dan kesehatannya, terserah kementerian bagaimana kita jalani, baru tahap pertama," kata Hassan.

"Kami sempat menghentikan layanan sholat di bulan Maret untuk sementara waktu karena kekhawatiran tetapi kami telah meminta izin dari pemerintah untuk perlahan-lahan membuka kembali masjid sesuai dengan pedoman kementerian," katanya.

Him Imrorn, seorang mahasiswa di Universitas Kerajaan Phnom Penh, berharap untuk kembali ke masjid minggu depan setelah berbulan-bulan mempraktikkan ibadah di rumah.

“Kami menganggap masjid sebagai rumah Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Jadi, sebagai seorang Muslim saya merasa tidak lengkap karena tidak bisa hadir,” katanya.

Dewan Tertinggi untuk Urusan Agama Islam di Kamboja telah mengikuti pedoman kementerian dengan melarang pertemuan massal selama Ramadan untuk mengekang penyebaran Covid-19 pada bulan Mei lalu.

Langkah itu dilakukan setelah 23 dari 79 Muslim Kamboja dites positif terkena virus setelah menghadiri pertemuan keagamaan di Malaysia dan setelah kembali ke rumah, menyebarkan virus ke delapan anggota keluarga.

Di tengah penduduknya yang mayoritas beragama Budha, Kamboja memiliki sekitar 780 ribu umat Muslim.(F)

 

Close X

Duh, Ini Keluhan Pemilik Perusahaan Terhadap Generasi Milenial!

Sebelumnya

Gadis Kelahiran Suriah Dinominasikan Sebagai Penerima Penghargaan Perdamaian Anak 2020

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Farah News