post image
KOMENTAR

SUNGGUH senang bila kita punya teman yang suka mengatakan “biar saya yang bayar” atau “kali ini saya yang traktir”. Bagaimana tidak menyenangkan, kita bisa makan dan minum gratis tanpa harus mengeluarkan uang sepeser pun.

Begitu pun bagi yang memiliki kelebihan rezeki, mentraktir menjadi sebuah tindakan yang membahagiakan sekaligus membanggakan. Ada kepuasan manakala kita bisa bisa membuat orang lain senang dan menikmati hidangan yang tersaji dengan penuh syukur.

Banyak dari kita mungkin tidak mengetahui bahwa mentraktir adalah salah satu anjuran Islam yang mendatangkan pahala besar.

Dalam sebuah hadis riwayat Muslim, Nabi Muhammad ditanya tentang apakah perbuatan dalam Islam yang besar pahalanya selain ibadah wajib. Nabi saw. menjawab “memberi makan kepada siapa pun dan memberi salam kepada siapa pun, baik yang dikenal maupun yang tidak dikenal”.

Dalam riwayat lain, disebutkan juga bahwa seorang Muslim yang menyebarkan salam, memberi makan orang lain (mentraktir), menyambung silaturahim, dan salat di malam hari saat yang lain tidur, akan mendapat balasan berupa surga dengan sambutan yang meriah.

Mentraktir, dalam pengertian memberi makan orang lain, termasuk dalam ihwal sedekah. Dan kita tahu bahwa bersedekah adalah amal jariyah yang keuntungannya tak hanya bisa kita rasakan di akhirat kelak (mendatangkan pahala) tapi juga di dunia dalam bentuk rezeki yang kian bertambah dan berkah. Bahkan, sedekah merupakan peredam murka Allah. Masya Allah.

Dr. Khalid Basalamah, MA menjelaskan bahwa pahala mentraktir tak ubahnya pahala seorang ayah yang memberi makan anaknya dari kerja kerasnya. Juga seorang ibu yang telah memberi ASI bagi bayinya hingga tumbuh sehat dan cerdas. Selama seorang anak hidup, maka pahala orangtuanya akan terus mengalir. Begitu seterusnya.

Rasulullah gemar mentraktir para sahabat. Beliau juga memotivasi para sahabat untuk tak pelit mentraktir orang lain. Para ulama mengatakan bahwa hikmah terbesar dari mentraktir adalah adanya berkah Allah dalam makanan yang dihidangkan. Sekali pun memberi makan orang gila yang tidak mengerti nilai makanan yang kita berikan.

Seorang tabi’in yang dikenal dengan kesalehannya yang luar biasa, Rabi bin Khaitsam, mengatakan bahwa tidak penting apakah manusia mengetahui nilai pemberian kita karena Allah yang Maha Mengetahui niat dan nilai pemberian kita.

Mentraktir tidak mesti memberikan makanan yang mahal di restoran bintang lima atau restoran milik koki ternama. Pahala niat dan nilai pemberian tidak tergantung pada steak wagyu premium level A5 seharga ratusan ribu per potong atau nasi bungkus padang seharga dua puluh lima ribu rupiah. Lubuk hati terdalam yang menyimpan rahasianya: lillahi ta’ala atau bercampur riya.

Namun ada hal yang harus diperhatikan. Meskipun kita diperkenankan mentraktir siapa saja, entah itu teman atau bukan teman, saudara atau bukan saudara, juga miskin maupun kaya, jangan sampai kita mentraktir sembarang orang.

Islam menganjurkan agar orang yang memakan makanan atau meminum minuman yang kita berikan adalah orang-orang bertakwa. Dengan demikian, makanan yang kita berikan akan menjadi penyemangatnya untuk makin banyak beribadah dan meningkatkan takwa.

Sebaliknya, jika kita memberi makanan kepada penyuka maksiat, maka makanan yang kita berikan akan menjadi bekal untuknya makin banyak bermaksiat. Naudzubillah.

Jadi, jika kita mempunyai kelebihan rezeki, tak peduli besar atau kecil jumlahnya, segeralah mencari ‘target’ untuk kita traktir. Tak ada yang lebih indah dari berbagi kebahagiaan sekaligus menjaring pahala besar. Kita tak perlu ragu mengatakan “biar saya yang bayar”.

Boleh saja sesekali kita merasa gembira karena ditraktir teman. Tapi ingat, jangan sampai kita memilih untuk lebih sering mengucapkan terima kasih karena bisa makan gratis atau bahkan seringkali ‘merayu’ teman untuk ditraktir. Karena Rasulullah mengatakan, “Barang siapa meminta-minta padahal ia tidak fakir, maka ia seakan-akan memakan bara api.” (HR. Ahmad). (F)

 

 

 

Close X

Asma' Binti Yazid, Jubir Handal di Zaman Rasulullah

Sebelumnya

Rezeki Terbesarmu Adalah Anakmu

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Farah Islam