post image
KOMENTAR

KITA kerapkali mengutuk waktu. Kita acapkali merutuk tahun dengan senarai pernyataan yang  memilukan dan atau mengenaskan. "Tahun 2019 adalah tahun malapetaka", misalnya. Atau "Tahun ini benar-benar tahun fitnah," contohnya. Atau bisa juga, "Tahun yang nggak asyik buat bisnis." Dan seterusnya. Dan macam-macam ujaran serupa lainnya.

Di sana, dalam cacian dan rutukan terhadap tahun yang pilu atau tahun yang celaka atau tahun yang nahas itu ada ikhtiar pemakzulan waktu dengan subjek, dengan sosok yang mengalaminya, dengan kita: manusia. Adilkah? Elokkah?

Tahun bencana. Tahun sejahtera. Diworo-woro di penghujung tahun untuk memuluskan langkah dan memastikan arah di tahun sesudahnya. Menjadi bekal untuk melangkah dan menggapai impian dan harapan penuh asa. Dan kala tujuan tak tergapai, kembali kita merutuki zaman. Menyalahkan waktu.

Bila kita merenung, menapak tilas semua kejadian dalam hidup kita, pada akhirnya—semestinya—kita mengerti bahwa tidak ada peran zaman di dalamnya. Bukan zaman yang memilih langkah keliru. Bukan waktu yang berbuat jahat melawan peradaban. Karena zaman diwarnai oleh penghuninya. Manusia. Kita. Masih adilkah menyalahkan waktu?

Kawan, waktu cuma potongan angka, cuma nomor yang tanggal satu per satu dari kalender kita. Ia bukan apa-apa tanpa Anda, tanpa saya, tanpa kita. Zaman yang kita tuding-tuding kelam dan berjelaga itu bakal kosong melompong tanpa kita terlibat di dalamnya. Tahun bisa baik dan buruk tergantung pada laku lampah manusianya. Zaman bisa edan atau waras tergantung penghayatnya.  

Kita, para penghayat zaman, asyik mengutuk zaman tanpa menyadari bahwa apa yang kita perbuat tak jarang menodai dan mengotori zaman. Kita, asyik masyuk dengan segala kepentingan diri sendiri, enggan menoleh dan bertoleransi pada kepentingan orang lain. Kita, berkutat pada bagaimana memakmurkan diri, kepala ditegakkan setinggi-tingginya tanpa menengok kesusahan yang lain. Dan tetap, kita tak jua puas mencela zaman.

Syahdan, Imam Syafi'i dalam kitab Diwan-nya pernah mendedah begini:

"Kita sering mencela zaman, padahal zaman tidak bersalah. Kitalah sesungguhnya yang salah. Kita telah menyalahgunakan zaman. Kita sering mencaci zaman yang tak berdosa. Seandainya zaman bisa bicara, ia pun akan mencaci kita."

Sang imam menulisnya berabad-abad silam. Terpaut jauh dalam hidup kita. Namun, ajaib, petuahnya abadi dan kontekstual hingga kini. Dan bisa jadi, ujarannya itu sampai ke anak-cucu kita kelak saat mereka lahir, bertumbuh dan beranak pinak di masa yang akan datang. Entahlah.

Bahkan, apa yang diterakan Imam Syafi'i pun jauh-jauh hari sudah diwanti-wanti Rasulullah saw. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim, Nabi berpesan: "Janganlah kau caci masa. Maka sesungguhnya Allah adalah masa itu sendiri."

Hadis tersebut dalam penjelasan Imam Nawawi konon turun karena kebiasaan manusia yang suka mengutuk waktu ketika tertimpa bencana dan musibah. Lebih jauh, Imam Nawawi menjelaskan bahwa 'Allah adalah waktu' berarti Allah adalah Sang Pemilik Waktu sejati, Pengelola Waktu hakiki.

Dan rumusnya pun menjadi seperti ini: mengutuk dan mencaci waktu adalah mengutuk dan mencaci Allah. Dan mengutuk dan mencaci Allah adalah... ah, silakan Anda teruskan sendiri. Dalam bahasa agama, sejak dalam batin, ketika kita mengutuk dan mencaci waktu, tanpa kita sadari kita telah berprasangka buruk pada Ilahi, Rabb Azza wa Jalla. Na'udzubillah.

Waktu memang berjalan tanpa kita yang menjalankannya. Tapi kita dapat mengisi waktu dengan beribu kebajikan dan keikhlasan untuk kebaikan diri sendiri dan maslahat sesama manusia. Kitalah, penghayat zaman, yang bisa menghimpun sebanyak-banyak perbuatan baik demi bertambah beratnya catatan amal shaleh kita di penghujung akhir zaman. Kita pulalah, khalifah di muka bumi yang dapat condong kepada kemaksiatan lalu merapat ke api neraka. Kita. Bukan waktu.

Dan sekarang kita tiba di 2020. Namun, kenapa ujaran dan perilaku kita tak kunjung beranjak? Kita masih suka mengumpat waktu lantaran banyak musibah dan malapetaka yang kita jumpai? Lebih aneh lagi, kita mengoarkanya dengan perasaan lebih mulia dan jumawa atas manusia lainnya.  Itu artinya kita berperkara bukan pada soal mengutuk zaman an sich, tapi juga pada mengutuk mahluk lainnya. Adilkah? Elokkah?

Untuk itu, alangkah baiknya, bila tahun ini atau bulan ini atau minggu ini atau detik ini, mari kita berhijrah mulai dari jiwa kita sendiri, mulai dari hati kita sendiri, mulai dari pikiran-pikiran kita sendiri. Periksalah apa sudah berjalan lurus dan jernih. Koreksi dan pilah-pilih kembali mana yang keruh dan bersih di batin kita. Sebab, pasalnya, sikap dan kebiasaan mengutuk dan merutuki apa pun-bukan hanya waktu-bermuara dari sana, bersumber dari jiwa kita sendiri.(F)

 

 

 

Close X

Menunaikan Amanah Meski Langkah Tertatih

Sebelumnya

Ketika Cinta Sirna, Adakah Engkau Tetap Setia?

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Farah Islam