post image
Fitria bersama dang suami dan dua anak kembarnya/Istimewa
KOMENTAR

MEMILIKI anak merupakan sebuah anugerah tersendiri bagi pasangan yang sudah mengikat janji suci pernikahan. Namun tidak semua pasangan memiliki jalan yang mulus untuk mendapatkan sang buah hati.

Hal itu juga lah yang pernah dialami oleh seorang wanita bernama Fitria Yuni Puspitasari. Dia dan sang suami baru dikaruniai anak setelah tujuh tahun pernikahan dan setelah melewati berbagai upaya medis yang rumit.

"Saya dan suami menikah pada bulan Desember 2008. Harapannya setiap orang yang menikah umumnya adalah memiliki anak. Namun hal itu tidak terjadi pada saya," kata wanita berhijab berusia 35 tahun itu ketika berbagi kisahnya kepada Farah baru-baru ini.

Bermula Dari Kista

Fitria menuturkan bahwa dia pernah mengalami hamil secara alami, namun berakhir dengan keguguran. Setelah mencari bantuan medis, baru diketahui bahwa dia memiliki kista.

"Setelah diperiksa, diketahui bahwa saya memiliki kista endometriosis di bagian ovarium kiri. Dokter menyebut bahwa kondisi itu membuat produksi sel telur berkurang," ungkapnya.

Dia kemudian melakukan tindakan medis pertama dengan melakukan laparoskopi, yakni pembedahan semacam operasi kecil untuk mengangkat kista.   

"Harapannya, setelah laparoskopi, bisa hamil secara alami," jelasnya.

Harapannya terkabul, dia kembali hamil untuk kedua kalinya. Namun kehamilan keduanya itu hanya bertahan selama enam minggu.

"Saya pendarahan dan flek, saya keguguran," ungkap Fitria dengan nada lirih.

Setelah gagal di rumah sakit pertama, dia dan sang suami mencari rumah sakit lain untuk mencari second opinion. Di rumah sakit ibu dan anak yang kedua, Fitria pun direkomendasikan untuk menjalani proses inseminasi.

"Namun setelah upaya itu saya jalankan, hasilnya pun tetap gagal," kata Fitria.

"Saya sempat istirahat selama beberapa bulan untuk mengumpulkan mental dan kembali mencari bantuan medis," sambungnya.

Setelah kembali diperiksa, diketahui bahwa kista yang pernah bersarang di tubuhnya kembali muncul. Fitria pun kembali menjalani laparoskopi untuk yang kedua kalinya.

"Saya kembali berharap bahwa setelah proses itu, saya bisa hamil. Namun itu tidak menjadi kenyataan. Laparoskopi yang kedua tidak berhasil membuat saya hamil alami," tutur Fitria.

Tetap Ikhtiar

Serangkaian prosedur medis yang dijalaninya selama beberapa tahun itu bukan hanya menguras uang, namun juga tenaga dan emosi. Namun dukungan dari sang suami dan ibunda selalu menguatkannya.

Dengan sisa semangat yang masih ada, Fitria pun mencari rumah sakit ibu dan anak yang ketiga untuk mencari harapan lain.

"Di rumah sakit ketiga ini, saya mengikuti berbagai proses, mulai dari yang alami hingga level tertinggi, yakni bayi tabung," tutur Fitria.

Proses medis yang pertama dia jalani adalah pengecekan sperma suami dan sel telurnya.

"Hasilnya, diketahui bahwa antibodi antisperma (ASA) saya juga ternyata tinggi. Hal ini membuat pembuahan sulit terjadi pada tubuh saya," ungkapnya.

Setelah mengetahui kondisi tersebut, dia menjalani proses medis pertama.

"Prosesnya kalau tidak salah, sel darah putih diambil dari suami saya untuk kemudian disuntikkan ke badan saya. Harapannya adalah untuk membuat ASA saya netral, sehingga proses pembuahan bisa mudah terjadi," jelasnya.

"Namun upaya itu gagal," sambung Fitria.

Untuk Pertama Kalinya ITB Punya Rektor Perempuan

Sebelumnya

Cerita Ibu Dengan Rahim Ganda, Melahirkan Buah Hati Setelah Enam Kali Keguguran

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Women World