MENTERI Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi mengajak generasi muda—khususnya mahasiswa—untuk lebih berani melawan berbagai bentuk kekerasan, baik fisik maupun verbal, termasuk perundungan dan kekerasan seksual yang kerap muncul di lingkungan kampus. Ia menegaskan, sikap berani melapor adalah langkah awal penting demi terciptanya kampus yang aman dan bermartabat.
Dalam acara Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Selasa (26/8), Menteri Arifah menyampaikan bahwa pencegahan kekerasan di kampus tidak bisa hanya ditanggung oleh satu pihak. Dibutuhkan kerja sama antara perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat, hingga keluarga.
“Kita semua harus membangun budaya kampus yang menghargai harkat dan martabat manusia serta menjunjung nilai kesetaraan,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa masa studi di perguruan tinggi adalah fase strategis untuk membentuk karakter, kapasitas, serta jiwa kepemimpinan. Perempuan muda, khususnya mahasiswa, didorong untuk tidak hanya fokus pada pencapaian akademik, tetapi juga aktif mengembangkan diri melalui organisasi, kegiatan sosial, maupun kepemimpinan. Bekal ini menjadi kunci untuk ikut mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045.
Senada dengan itu, Menteri Agama Nasaruddin Umar yang hadir secara daring juga menekankan pentingnya mahasiswa berprestasi sekaligus peka terhadap masyarakat yang majemuk.
Menurutnya, PBAK adalah ruang untuk belajar berorganisasi, melatih integritas, dan mengasah kepedulian sosial. “Mahasiswa harus hadir sebagai rahmat dan solusi bagi masyarakat,” pesannya.
Rektor UIN Jakarta Asep Saepudin Jahar menambahkan bahwa kampus merupakan gerbang penting yang mengasah pengetahuan sekaligus kepribadian. Ia berpesan agar mahasiswa menjaga karakter dan membangun pertemanan berdasarkan cinta kasih tanpa membeda-bedakan suku, agama, golongan, maupun gender.
Bagi kaum perempuan, pesan ini memiliki arti yang lebih dalam: kampus bukan hanya ruang belajar, tetapi juga arena untuk memperkuat keberanian, solidaritas, dan kepemimpinan. Dengan melawan kekerasan, menjaga integritas, dan mengutamakan kesetaraan, mahasiswa perempuan dapat menjadi agen perubahan menuju masa depan bangsa yang lebih adil, aman, dan beradab.
KOMENTAR ANDA