Suasana pelayanan kesehatan di Khan Younis, Palestina/Dok. PMI
Suasana pelayanan kesehatan di Khan Younis, Palestina/Dok. PMI
KOMENTAR

KONDISI terakhir pengungsian di Rafah Gaza dan wilayah lain semakin memprihatinkan. Sebagian besar pengungsi yang sudah beberapa kali pindah lokasi pengungsian karena alasan operasi militer dan perintah evakuasi oleh IDF Israel ini mengalami kelelahan fisik, kesulitan akses air, dan krisis bahan pangan akibat pembatasan suplai logistik dari perbatasan. Selain itu, banyak dari mereka juga menderita sakit dan luka-luka.

Menanggapi situasi ini, sejak awal Februari 2024 lalu, Palang Merah Indonesia (PMI) bekerja sama dengan Lembaga Kemanusiaan lokal di Gaza tetap berkomitmen melanjutkan Layanan Kesehatan Keliling dan memastikan agar layanan ini bisa menjangkau wilayah-wilayah penampungan lainnya.

“Dalam misi kemanusiaan di Palestina ini, selain membantu penyediaan kebutuhan dasar pengungsi, PMI juga berfokus pada layanan kesehatan, layanan dapur umum dan juga penyediaan air bersih. Tiga layanan utama ini akan terus kita lanjutkan dan kita perluas ke berbagai wilayah sesuai dengan pertimbangan prioritas kebutuhan, akses jangkauan, serta keamanan dan keselamatan petugas,” ungkap Sekretaris Jenderal Palang Merah Indonesia, Dr. Abdurrahman Muhammad Fachir dalam keterangan resmi yang diterima Farah.id (14/6).

Lebih lanjut Fachir menjelaskan bahwa Layanan Kesehatan Keliling dilaksanakan dengan perhitungan yang sangat hati-hati. Selain memperhitungkan akses masuk lokasi, PMI harus mempertimbangkan jaminan maupun keselamatan dan keamanan personel.

”Kami tidak ingin tim medis menjadi target serangan. Pembiayaan kegiatan layanan ini menggunakan sumbangan dari donor dan masyarakat Indonesia melalui PMI. Oleh karena itu, atas nama PMI kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada para donor, sehingga layanan ini dapat terlaksana,” katanya.

Salah satu donor dari Indonesia adalah Lifebuoy yang selama puluhan tahun terus mewujudkan komitmennya untuk turut mencegah penyebaran kuman, melindungi kesehatan masyarakat, dan telah bekerja sama dengan berbagai organisasi lokal maupun internasional untuk misi kemanusiaan.

Selanjutnya, Kepala Markas Pusat Palang Merah Indonesia Arifin Muh Hadi yang saat ini berada di Kairo untuk memimpin langsung misi Kemanusiaan PMI di Gaza Palestina memaparkan bahwa Layanan Kesehatan Keliling PMI ini dilakukan untuk menjawab terhentinya layanan dari sebagian besar rumah sakit akibat kerusakan struktur dan infrastruktur.

Pasien dengan kasus berat terpaksa tidak bisa dirujuk ke fasilitas kesehatan karena sistem rujukan pasien terhenti akibat keterbatasan transportasi dan ambulan, serta terhentinya operasional Rumah Sakit dan klinik darurat terdekat.

“Kegiatan Layanan Kesehatan Keliling PMI ini awalnya dilaksanakan di Kamp Pengungsian Rafah, namun karena situasi keamanan tidak memungkinkan akibat serangan beberapa waktu lalu, maka kini layanan tersebut dipindahkan ke Kamp Penampungan di Khan Younis. Banyak warga yang sakit dan terluka yang harus bertahan hidup di tenda-tenda darurat dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Padahal semestinya mereka yang sakit dan terluka parah ini mendapatkan penanganan dengan fasilitas medis standar di rumah sakit,” jelas Arifin.

Terhentinya layanan kesehatan di rumah sakit ini disebabkan oleh hancurnya bangunan rumah sakit dan peralatannya, serta semakin terbatasnya tim medis karena banyak diantara mereka menjadi korban serangan.

Layanan Kesehatan Keliling di lapangan juga kerap menghadapi beberapa kendala, diantaranya karena keterbatasan ketersediaan obat-obatan, dan tidak bekerjanya sistem rujukan pasien.

Selain layanan kesehatan keliling, PMI pada tahap awal operasi kemanusiaannya juga telah memberikan bantuan obat-obatan untuk klinik di El Arish, peralatan kesehatan dan sanitasi pribadi untuk pasien dan anggota keluarganya yang di awat di Rumah Sakit serta peralatan CT Scan untuk mendukungan layanan medis di Rumah Sakit Palestina.

Sebagai catatan, WHO dalam siaran persnya baru-baru ini memberitakan bahwa di Jalur Gaza, serangan udara dan kurangnya pasokan medis, makanan, air dan bahan bakar telah menguras sistem kesehatan yang sudah kekurangan sumber daya.

Rumah sakit telah beroperasi jauh melampaui kapasitasnya karena meningkatnya jumlah pasien serta pengungsi sipil yang mencari perlindungan.

Penyediaan layanan kesehatan penting—mulai dari perawatan ibu dan bayi baru lahir hingga pengobatan penyakit kronis—sangat terkendala. Serangan terhadap fasilitas kesehatan masih terus terjadi di Israel dan wilayah Palestina yang diduduki, termasuk mengambil nyawa dan melukai petugas kesehatan dan pasien, serta merusak fasilitas kesehatan dan ambulans.

Saat ini, kasus kesehatan yang banyak dijumpai di tempat-tempat layanan kesehatan adalah malnutrisi, Insfeksi Saluran Pernafasan Atas, diare, kudis, kutu kulit, ruam ruam kulit, cacar air dan sindroma penyakit kuning.




Hadiri Pertemuan WIPO di Jenewa, Menparekraf Sandiaga Uno: Indonesia Punya Potensi Kekayaan Intelektual yang Sarat Tradisi dan Kearifan Lokal

Sebelumnya

Dari Kampung Zakat Hingga Kota Wakaf, Kementerian Agama RI Terus Optimalkan Pemberdayaan Ekonomi Umat

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel News