Ilustrasi matahari terbit/Freepik
Ilustrasi matahari terbit/Freepik
KOMENTAR

KETULUSAN Nabi Muhammad justru disalahgunakan oleh sejumlah orang yang hatinya diliputi kejahatan. Salah satunya pada peristiwa Ar-Raji’ yang menimbulkan korban jiwa di kalangan para sahabat.

Rasulullah sangat bersedih atas tragedi ini, tetapi beginilah tantangan dakwah yang tidak pernah membuatnya gentar.

Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam Al-Muafiri pada bukunya Sirah Nabawiyah lbnu Hisyam Jilid 2 (2020: 138-139) mengungkapkan:

Setelah Perang Uhud, delegasi dari Adhal dan Al-Qarah datang kepada Rasulullah saw. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya di kalangan kami orang-orang yang telah masuk Islam, oleh karena itu, kirimkan bersama kami beberapa orang dari sahabat-sahabatmu yang akan mengajarkan agama, membacakan Al-Qur’an, dan mengajarkan syariat Islam kepada kami.”

Nabi Muhammad menyambut baik dan mengutus enam sahabat terpilih yang berangkat bersama delegasi Adhal dan Al-Qarah. Setibanya di Ar-Raji’ -yaitu mata air Hudzail dari arah Hijaz-, tiba-tiba delegasi Adhal dan Al-Qarah berkhianat. Mereka berteriak-teriak memanggil orang-orang Hudzail yang berdatangan dengan senjata lengkap di tangan.

Delegasi Adhal dan Al-Qarah berkata, “Kami tidak ingin membunuh kalian, namun ingin mendapatkan sesuatu dari orang-orang Quraisy dengan kalian. Kalian berhak atas janji Allah bahwa kami tidak akan membunuh kalian.”

Martsad bin Abu Martsad, Khalid bin Al-Bukair, dan Ashim bin Tsabit berkata, “Demi Allah, kami tidak menerima janji atau akad dari orang musyrik selama-lamanya.”

Meskipun dikepung oleh ratusan orang, perlawanan gagah berani dilancarkan oleh enam sahabat Rasulullah ini. Pertempuran yang sangat tidak berimbang itu pun berkecamuk. Akhirnya, tiga orang sahabat mati syahid membela Islam. Tiga orang lainnya tertawan, dibelenggu, dan akan dijual sebagai budak ke Mekah.

Di tengah perjalanan, Abdullah bin Thariq berhasil membebaskan diri dari ikatan di tangan dan punggungnya, dan bersegera pula menghunus pedang. Akan tetapi dirinya dihujani lemparan batu oleh ratusan para pengepung. Dia pun mati syahid.

Dua sahabat lainnya mengalami nasib memilukan karena dijual menjadi budak di Mekah, yakni Zaid bin Ad-Dasinnah dan Khubaib bin Ady. Keduanya pernah membunuh beberapa orang Quraisy pada Perang Badar, lalu dibeli oleh Shafwan bin Umayyah sebagai balas dendam atas kematian ayahnya, Umayyah bin Khalaf.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam buku Kelengkapan Tarikh Rasulullah (2012: 157) menceritakan:

Sebagian besar sahabat Nabi itu dibunuh. Yang masih selamat hanya dua orang saja; yakni Khubaib bin Ady, dan Zaid bin Ad-Datsinah. Sebagai tawanan mereka berdua dibawa pergi lalu dijual di Mekah. Kedua orang sahabat inilah yang telah membunuh para pemimpin suka Hudzail dalam peristiwa Perang Badar.

Sebelumnya beberapa lama Khubaib dipenjara oleh mereka. Dan mereka sudah sepakat untuk membunuhnya. Pada suatu hari mereka membawanya dari Haram ke Tan'im.

Mendengar akan dieksekusi di papan salib, Khubaib berkata, “Tolong beri aku kesempatan untuk shalat dua rakaat terlebih dahulu.”

Dan rupanya mereka tidak keberatan. Mereka membiarkan ia shalat dua rakaat. Selesai salam ia berkata, “Demi Allah, kalau kalian mengira aku merasa takut maka aku akan terus shalat.”

Tragedi Ar-Raji’ menimbulkan keperihan di hati, tetapi yang mengejutkan adalah terbitnya suatu bukti cinta kepada Rasulullah, sehingga tidak ada lagi rasa takut terhadap kematian sekalipun.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam buku Kelengkapan Tarikh Rasulullah (2012: 158) menjelaskan:

Selanjutnya ia (Khubaib) memanjatkan doa, “Ya Allah, tolong hitung jumlah mereka, bunuhlah mereka semuanya tanpa ada satu pun yang Engkau sisakan dari mereka.”

Kemudian ia (Khubaib) melantunkan syair yang memohon kehancuran bagi orang-orang kafir Quraisy. Tiba-tiba Abu Sufyan bertanya, “Bagaimana kalau sekarang ini Muhammad yang menggantikanmu, sementara kamu berada di tengah keluargamu?”

“Tidak. Demi Allah, aku tidak rela berada di tengah keluargaku, sementara Nabi Muhammad di tempatku ini kakinya tertusuk duri saja,” jawabnya.

Abu Sufyan takjub sekaligus heran atas jawaban ini. Ternyata ada manusia yang lebih menyukai kematian daripada kehidupan dunia ini, bahkan rela berkorban nyawa demi melindungi sosok yang dihormati dan dicintainya. Tidak ada terbetik ketakutan saat nyawanya sendiri sedang di ujung tanduk.

“Belum pernah aku melihat seseorang mencintai kawannya demikian rupa seperti sahabat-sahabat Muhammad mencintai dirinya,” ujar Abu Sufyan berdecak kagum.

Tragedi Ar-Raji’ akan terus dikenang sebagai hari kelabu, di mana seluruh utusan Rasulullah mati sebagai syuhada mulia. Dan yang paling mengagumkan adalah kedalaman cinta para sahabat terhadap Nabi Muhammad sehingga mereka rela mengorbankan jiwa dan raga.




Perang Badar Kedua

Sebelumnya

Pengkhianatan Yahudi Bani Nadhir

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Sirah Nabawiyah