Ilustrasi manusia keras hati/UM
Ilustrasi manusia keras hati/UM
KOMENTAR

KERAS hati terkadang dijadikan senjata bagi orang-orang yang hendak memaksakan hawa nafsunya. Sejalan dengan tindakan tersebut, terdapat ancaman serius yang melibatkan tidak hanya diri sendiri, tetapi juga pihak lain. Dalam pandangan agama, kekerasan hati yang terus-menerus dapat membawa seseorang menuju kehancuran.

Surat Az-Zumar ayat 22, yang artinya: “Maka, celakalah mereka yang hatinya membatu dari mengingat Allah”.

Ayat ini dibuka dengan kata fa wailul, yang artinya neraka Wail, bagi siapa? Yaitu, bagi mereka yang hatinya keras membatu. Kemudian diperhalus dan diselaraskan terjemahan ayat ini menjadi, celakalah bagi mereka yang hatinya membatu.

Terjemahan ini dapat dibenarkan mengingat masuk ke neraka Wail adalah celaka yang luar biasa.

Syaikh Adham Syarqawi dalam buku Pesan Cinta dari Langit (2023: 145) menceritakan, Anda melihat orang congkak dan ahli maksiat tertipu dengan kekuatannya dan bertanya, “Mengapa Allah tidak menghukum saya?”

Wahai orang bodoh, hukuman apa yang lebih keras daripada apa yang Anda alami? Jenazah lewat di depan mata, tetapi Anda tidak mengambil pelajaran darinya. Anda mendengar ayat berbicara tentang kematian, tetapi tidak mengambil pelajaran. Anda melihat orang miskin, tetapi hati Anda tidak iba kepadanya.

Lalu masih bertanya, “Di mana hukuman itu?”

Hukuman apa yang lebih berat daripada berubahnya hati seseorang menjadi kuburan? Ibnul Qayyim mengatakan, "Seorang hamba tidak dijatuhi hukuman yang lebih besar daripada kerasnya hati”.

Ungkapan ini bukanlah semata kata-kata bijak belaka, melainkan suatu pandangan mendalam terhadap kondisi batin manusia, yang dapat membawa dampak besar dalam kehidupan spiritual.

Kekerasan hati dapat terwujud dalam berbagai bentuk, mulai dari penolakan terhadap kebenaran hingga ketidakmampuan untuk merasakan dan memahami kepedulian terhadap sesama.

Orang-orang yang keras hati cenderung mengikuti hawa nafsu tanpa memikirkan konsekuensi atau dampak yang mungkin terjadi. Mereka merasa kuat dan tidak tergoyahkan. Namun pada hakikatnya kekerasan hati ini membawa kepada suatu kondisi yang lebih merugikan.

Ada bahaya besar menanti mereka yang memilih untuk membatu hatinya dari mengingat Allah. Dalam konteks ini, mengingat Allah bukan hanya sebatas melakukan ibadah formal, tetapi juga mencakup kesadaran akan kehadiran-Nya, hikmah-Nya, serta tuntunan-Nya dalam kehidupan sehari-hari.

Orang yang keras hati cenderung mengabaikan nilai-nilai tersebut. Karenanya, kehancuran yang mungkin terjadi bukan hanya bersifat pribadi, melainkan dapat merambah ke lingkungan sekitar. Kekerasan hati seringkali menciptakan konflik, ketidakharmonisan dalam hubungan, dan bahkan dapat merugikan masyarakat secara keseluruhan.

Orang yang keras hati seringkali tidak memahami kepentingan bersama dan cenderung bersikap egois. Dalam perspektif agama, kekerasan hati seperti ini dapat menjerumuskan seseorang ke neraka, yakni suatu tempat siksaan yang dijanjikan bagi mereka yang menentang ajaran-Nya.

Neraka bukan hanya sebagai ancaman, tetapi juga sebagai peringatan bagi manusia agar selalu memperhatikan kondisi hati mereka, memelihara kepekaan terhadap nilai-nilai spiritual, dan membangun hubungan yang harmonis dengan sesama.

Langkah pertama dalam mengatasi kerasnya hati adalah dengan introspeksi diri yang jujur. Seorang hamba perlu mengkaji dan merenungkan keadaan hatinya, mengidentifikasi akar penyebab kekerasan hati, dan mengakui ketidaksempurnaan diri.

Kedua, penting untuk memperdalam hubungan dengan Allah melalui ibadah, doa, dan refleksi spiritual. Menerima kebenaran, bersikap rendah hati, dan membuka hati untuk merasakan kasih saying Allah, dapat menjadi obat yang mujarab.

Ketiga, praktik-praktik seperti berbuat baik kepada sesama, memaafkan, dan berusaha menjadi pribadi yang lebih empatik dapat membantu melunakkan hati yang keras. Islam mendorong untuk mengembangkan sifat-sifat mulia seperti kasih sayang, toleransi, dan keadilan, yang semuanya dapat membantu mengatasi kerasnya hati.

Mengakhiri kekerasan hati memerlukan kesadaran diri, keinginan untuk berubah, dan Upaya sungguh-sungguh untuk mendekatkan diri kepada Allah. Menerima kebenaran, merenungkan akibat dari tindakan yang dilakukan, dan membuka hati untuk menghargai kehidupan sesama manusia merupakan langkah awal menuju pemulihan.

Dengan demikian, seseorang dapat menghindari neraka yang merupakan akibat terburuk dari hati yang keras dan jauh dari ingatan akan Allah.




Adab Anak Adalah Tanggung Jawab Orang Tuanya

Sebelumnya

Apa Hubungan Bersyukur dengan Percaya Diri bagi Seorang Muslimah?

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Tadabbur