Perajin batik sepuh Sawinah melakukan teknis khusus complongan
Perajin batik sepuh Sawinah melakukan teknis khusus complongan
KOMENTAR

INDUSTRI batik memiliki peranan yang amat penting bagi perekonomian nasional. Termasuk melestarikan batik sebagai cermin dari bangsa dan negara Indonesia karena memiliki khas dengan segala keunikan dan identitas daerah asal sesuai dengan penetapan indikasi geografis (ig). 

Hanya saja, bagi kaum milenial atau anak muda sudah tidak tertarik dengan kegiatan membatik. Hal ini dianggap pekerjaan yang membosankan atau kuno kalah saing dengan gadget. 

"Anak muda sekarang tidak tertarik untuk melanjutkan tradisi membatik," kata perajin batik sepuh Sawinah. 

Dia melihat kegiatan membatik di tanah kelahirannya sudah mulai ditinggalkan generasi sekarang. Terutama, menurut dia, masyarakat di Paoman Indramayu jarang menguasai teknis khusus seperti batik complongan karena jarang dilakukan pada umumnya.

"Mulai batik complongan sejak saya SD, kisaran tahun 70 an," ujarnya. 

Motif yang dikuasai, wanita 52 tahun ini khas dari Indramayu. Motif lokca dan iwak Etong. Biasanya dalam pengerjaan batik compolongan ini satu kain ukuran scraf atau kain sarung bisa menghabiskan waktu satu hari penuh. 

Dalam data yang dirilis Kementerian Perindustrian (Kemenperin), di tahun 2022, nilai ekspor batik dan produk batik menembus angka USD64,56 juta atau meningkat 30,1 persen dibanding capaian tahun 2021. Sementara itu, pada periode Januari-April 2023, nilai ekspor batik dan produk batik sebesar USD26,7 juta, dan ditargetkan dapat menyentuh hingga USD100 juta selama tahun 2023.

“Industri batik juga merupakan sektor padat karya yang telah menyerap tenaga kerja hingga jutaan orang. Artinya, sektor industri batik ini telah memberikan kehidupan dan penghasilan bagi jutaan rakyat Indonesia,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita pada acara Pameran Gelar Batik Nusantara (GBN) 2023 dengan tema “Batik, Bangkit!” di Jakarta, Rabu (2/8).

Menperin optimistis, kinerja industri batik akan semakin tumbuh, terlebih lagi setelah lepas dari dampak pandemi Covid-19. Selain itu, sinyal positif menggeliatnya ekonomi juga diberikan oleh IMF yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada 2023 mencapai 3 persen, meningkat dari perkiraan sebelumnya dari proyeksi April lalu (2,8 persen).

 




Menkes Budi: Deteksi Dini Kanker Bisa Dilakukan di Puskesmas

Sebelumnya

Pentingnya Kesehatan Mental Ibu Melahirkan, RS Marzoeki Mahdi & King’s College London Hospital Tanda Tangani Kerja Sama

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel News