KOMENTAR

KITA berprasangka baik saja, bahwa inilah bentuk kekuatan cinta, sehingga masih saja ada yang bertanya, kelak nantinya di surga apakah masih akan bersama dengan suami atau istrinya?

Sekilas pertanyaan itu terkesan ganjil, jannah yang dijanjikan Allah sebagai ganjaran tertinggi bagi hamba-Nya yang terbaik sudah menyediakan kenikmatan yang tak terbayangkan.

Pantaskah ada orang yang masih bertanya-tanya tentang pasangannya di surga yang sudah sempurna karunia-Nya? Masih diperlukankah suami atau istri yang notabene pasangan di dunia nan fana untuk kembali bersama di kehidupan jannah-Nya Allah yang sudah sempurna?

Sekalipun kita menyaksikan banyaknya kekurangan suami atau melimpahnya kelemahan istri, tetapi keinginan untuk kembali menyatu tetap muncul, bukan hanya di dunia tetapi juga sampai di akhirat. Demikianlah perasaan cinta itu diciptakan Tuhan, sehingga ikatan hati yang teramat kokoh itu tidak goyah dalam keadaan apapun.

Jawaban yang menyentuh hati telah lebih dulu diabadikan Allah Swt. dalam kitab suci, agar para pecinta dapat memahami bahwasanya surga benar-benar tempat yang sempurna, yang juga menghargai gejolak perasaan insan.  

Surah Ar-Ra’d ayat 23, yang artinya, “Tempat kesudahan yang baik itu adalah surga-surga 'Adn; mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang saleh yang beriman dan taat kepada Allah dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya, dan anak cucunya.”

Surga adalah tempat berlimpah cinta. Bahkan surga itu menjadi bukti keagungan cinta Ilahi terhadap hamba-hamba-Nya. Sehingga kehadiran jannah-nya Allah tersebut tidak akan memisahkan para pecinta.

Suami istri yang begitu gagah perkasa menghadapi pahit getir kehidupan dunia dengan bermodalkan cinta, ternyata cinta mereka dapat berlanjutnya dalam ikatan yang lebih kokoh di surga.

Sayyid Qutb dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur`an Jilid 7 (2003: 49) menerangkan:

Mereka dengan kedudukannya yang tinggi itu mendapat tempat kesudahan yang baik, yaitu surga 'Adn sebagai tempat tinggal dan tempat menetap. Di dalam surga ini mereka bergembira-ria bersama orang-orang saleh dari bapak-bapak mereka, istri-istri mereka, dan anak-cucu mereka.

Mereka itu masuk ke dalam surga karena kesalehan-kesalehan mereka sehingga mereka berhak terhadapnya. Di samping masuk surga itu, mereka juga dimuliakan dengan bertemunya kembali dengan orang-orang yang mereka cintai. Hal ini merupakan kelezatan lain yang menambah kelezatan yang mereka rasakan di dalam surga.

Bergembiralah dengan penjelasan ayat tersebut, bahwa kita akan kembali menyatu dengan suami atau istri di surga. Kita akan merasakan kebahagiaan yang lebih menggetarkan hati, sebab cinta itu berpadu di surga yang terbaik.

Bahkan, bukan saja bersama dengan suami atau istri, kita pun akan bersama kembali dengan anak-anak dan cucu-cucu. Sehingga kehidupan keluarga surgawi terasa amat lengkap dalam bingkai mensyukuri anugerah Ilahi.

Dalam kehidupan dunia, rumah tangga kita akan sering dirundung kemalangan, dan acap kali dilanda kesedihan. Hebatnya, berkat kekuatan cinta kita masih bisa mencicipi bahagia dalam keterbatasan yang ada. Lantas bagaimanakah kebahagiaan sekeluarga di surga?    

Sayyid Qutb (2003: 49) menjelaskan: Di samping berkumpul dan bersatunya perasaan mereka dengan pertemuan bersama keluarga ini, malaikat pun turut serta menyambut dan memuliakan mereka, dengan gerak-geriknya yang indah menyenangkan.

Keadaan mereka layaknya sebuah festival atau reuni di mana mereka saling bertemu, mengucapkan salam, dan melakukan perbuatan-perbuatan yang menyenangkan dan menggembirakan serta penuh dengan penghormatan.

Di surga tidak ada kesedihan lagi, segenap anggota keluarga dapat menikmati kebahagiaan yang paling sempurna. Cinta di atas cinta. Cinta yang tidak lagi mengalirkan air mata. Cinta yang tidak akan meremukkan hati.

Bagaikan festival yang diliputi keceriaan yang sempurna, sehingga pertemuan suami, istri, anak-anak,dan cucu-cucu di surga menjadi momen paling mengesankan. Kita saling tersenyum menyampaikan salam, dan melepas rindu setelah berhasil melalui berbagai fase akhirat.

Surah Yasin ayat 56, yang artinya, “Mereka dan pasangan-pasangannya berada dalam tempat yang teduh sambil berbaring di atas ranjang berkelambu.”

Ayat ini menunjukkan bahwa suami istri di surga akan menikmati kenyamanan dan kedamaian bersama-sama. Mereka akan diberi tempat yang teduh dan dapat bersantai di atas dipan-dipan yang nyaman.

Ada pula surah Az-Zukhruf ayat 70, yang artinya, “Masuklah ke dalam surga, kamu dan pasanganmu (dalam keadaan) dibahagiakan.

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah Swt. akan memberikan hubungan suami istri di surga akan penuh dengan kebaikan, keindahan, dan kesempurnaan. Mereka akan hidup bersama dalam keabadian bahagia yang tidak terhingga. Hubungan suami istri di surga adalah hubungan yang kekal dan penuh keberkahan.

Syamsul Rizal Hamid dalam buku 1500++ Hadis & Sunah Pilihan (2017: 518-519) mengungkapkan:

Abu Sa’id al-Khudri ra. mengungkapkan, Muhammad Rasulullah saw. bersabda bahwa Allah Swt. berfirman kepada penduduk surga, “Wahai penduduk surga!”




Kemilau Mutiara Iyyaka

Sebelumnya

Memahami Hamma Biha dan Konsep Ma’shum

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Tafsir