Teh kocok banjir SKM yang sedang viral itu/Net
Teh kocok banjir SKM yang sedang viral itu/Net
KOMENTAR

KASUS diabetes, khususnya pada anak, sedang meningkat tajam dan menjadi perhatian serius pemerintah serta praktisi kesehatan masyarakat. Sebuah fakta mengejutkan mengungkap, diabetes pada anak tidak hanya terjadi karena faktor genetik tetapi pola hidup atau lifestyle yang buruk.

Salah satu gaya hidup itu adalah konsumsi fast food yang cukup tinggi. Apalagi baru-baru ini sedang viral teh kocok banjir susu kental manis yang cukup mencuri perhatian para penggemar kuliner. Sepertinya menjadi pekerjaan rumah yang cukup serius bagi pemerintah dan orang tua, khususnya, untuk mencari cara agar kasus diabetes anak tidak kian melambung.

“Kalau ditanya (susu) bagus atau tidak, ya bagus bagus saja. Tapi saya tidak bisa komentar kalau dicampur-campur itu apa niatnya,” kata Ketua Divisi Advokasi dan Legislasi PB IDI dr Ari Kusuma Januarto.

Diakuinya, telur adalah sumber protein penting bagi tubuh begitu pula susu sebagai sumber kalsium. Namun jika tiap hari mengonsumsi lain sementara sumber makanan lain tidak terpenuhi, tidak ada keseimbangan gizi.

“Keseimbangan gizi akan terganggu ketika suatu makanan atau sumber nutrisi dikonsumsi berlebihan atau dikombinasikan tidak sebagaimana mestinya. Kalau semua dicampur-campur, kan belum tentu bermanfaat,” ujar dr Ari.

Diketahui, teh kocok viral itu dibuat dari campuran teh, telur bebek, susu bubuk, dan susu kental manis. Bisa dibayangkan bagaimana nutrisi makanan viral tersebut, bukan?

Dengan jumlah gula yang sangat besar, risiko akan penyakit jantung sangat mungkin terjadi. Dalam sebuah riset disebutkan, tren konsumsi gula tambahan yang sangat besar akan meningkalkan risiko meninggal akibat penyakit jantung hingga 38 persen.

Konsumsi ini dikaitkan pula dengan kondisi aterosklerosis, yaitu penyakit yang ditandai dengan lemak, endapan penyumbatan arteri yang berdampak pada jantung.

Tak hanya jantung, risiko obesitas dan penyakit kanker pun mengintai. Konsumsi gula berlebih akan meningkatkan peradangan yang memicu terjadinya resistensi insulin. Keduanya meningkatkan risiko terjadinya kanker.

Asupan gula berlebih juga berpengaruh pada suasana hati dan kondisi emosional. Pada tingkat ekstrim dapat memicu gangguan kognitif, masalah ingatan, gangguan emosional, hingga kecemasan dan depresi.

Itu setidaknya bahaya asupan gula berlebih pada tubuh manusia. Tidak hanya diabetes, tetapi risiko penyakit jantung, kanker, dan depresi pun bisa terjadi pada pecinta gula. Jadi, waspada!




Din Syamsuddin Jadi Pembicara dalam Sidang Grup Strategis Federasi Rusia-Dunia Islam di Kazan

Sebelumnya

Buku “Perdamaian yang Buruk, Perang yang Baik” dan “Buldozer dari Palestina” Karya Teguh Santosa Hadir di Pojok Baca Digital Gedung Dewan Pers

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel News