Ilustrasi/Net
Ilustrasi/Net
KOMENTAR

LIBAS, secara harfiah berasal dari bahasa Arab yang bermakna pakaian. Istilah libas disajikan Allah secara menawan guna menggambarkan relasi harmonis suami istri.

Mereka (istri) adalah libas (pakaian) bagimu (suami) dan kamu (suami) adalah libas (pakaian) bagi mereka (istri). (Al-Baqarah: 187)

Hakikat libas dalam pernikahan sebenarnya sebagai perlindungan, kesopanan, kehormatan dan kesucian. Seperti disampaikan Syaikh Hasan Ayyub dalam buku As-Suluk Al-Ijtima'i (Fikih Sosial) (2011: 233), Al-Qurthubi berkata, “Asal sebuah pakaian adalah baju, lalu suami istri bersatu dan dinamakan libas (pakaian) karena bertemunya dua jenis kelamin dan menyatunya mereka seperti baju.” 

Ulama lain mengatakan, “Untuk sesuatu yang menutupi sesuatu dan mengikutinya disebut libas. Maka masing-masing dari suami istri layak disebut penutup bagi yang satunya dari hal-hal yang haram sebagaimana disebutkan dalam khabar (hadis).”

Pakaian adalah sesuatu yang melekat dan menempel pada tubuh. Artinya, suami istri pasti saling membutuhkan karena saling menutupi satu sama lain. Dengan semangat libas itulah suami istri saling mengayomi dan melindungi, yang buahnya akan menghadirkan keharmonisan. 

Yusuf Al-Qaradhawi dalam buku Fatwa-Fatwa Kontemporer 2 (1995: 499) mengungkapkan, dengan segala kandungan makna kata libas (pakaian), yang di antaranya bermakna menutupi, melindungi, menghangatkan, menghiasi (perhiasan), yang saling diberikan oleh masing-masing pihak kepada pihak lain (suami dan istri).

Sesungguhnya kebutuhan suami kepada istri dan kebutuhan istri kepada suami merupakan kebutuhan fitriah (naluriah). Allah telah menciptakan mereka dalam keadaan saling membutuhkan antara yang satu dengan yang lainnya. Hal ini sesuai dengan sunnah Allah terhadap alam semesta secara umum, saling berpasangan, mulai dari atom hingga tata surya.

Pentingnya pakaian tidak perlu diragukan lagi. Bahkan suku terbelakang atau primitif pun masih saja berjuang mengenakan pakaian, meski mereka hanya bermodalkan jerami atau dedaunan dan yang berhasil diamankan baru wilayah vital saja. Tetapi satu hal yang perlu dicatat, mereka sudah paham pentingnya pakaian.

Pertanyaan kemudian, seperti apa memaknai libas dalam relasi suami istri? 

Rasulullah sudah mencontohkan dengan indah bersama istrinya. Saat Nabi Muhammad Saw menggigil ketakutan setelah menerima wahyu, Khadijah menyelimuti dengan selimut dan menenangkan jiwanya. Selimut hanyalah benda, tetapi cinta Khadijah adalah libas yang menghangatkan hati suami.

Saat umat Islam diembargo ekonomi oleh kafir Makkah, Khadijah dengan sisa tenaga tuanya mengantarkan makanan ke pengasingan kaum muslimin. Khadijah, memerankan diri sebagai pakaian sebenarnya bagi suami tercinta. Wajar bila setelah wafat, Nabi Muhammad masih menyebut-nyebut nama Khadijah.

Contoh lainnya, tatkala Aisyah difitnah berselingkuh oleh kaum munafik Madinah, Nabi Muhammad Saw murka. Dia membela dan melindungi kehormatan istrinya dalam khutbah. Rasul menjaga kesucian libas dengan membuktikan bahwa Aisyah tidak melakukan kenistaan itu. 

Panas dingin suhu pernikahan dengan masalah yang tiada henti mendera, menjadi terkendali berkat libas yang cocok. Bila mendapatkan pakaian yang bagus kualitasnya, maka kepuasan dan kebahagiaan akan datang. Bila pakaian itu kualitas murahan, banyak noda atau mendatangkan penyakit, dan hidup akan sengsara.

Namun mirisnya, ketika terlanjur membeli pakaian yang mahal tapi kualitasnya murahan. 

Maka, jadikanlah pasangan kalian pakaian yang nyaman, bukan yang enak dipajang dan dinikmati orang-orang lain, sementara Anda menggigil dalam nestapa dan kecewa. Pakaian itu kita yang memilihnya, jadi rawatlah dan rasakan manfaatnya. 

Pakaian dan pengaruh psikologis

Pakaian juga memberi pengaruh psikologis bagi pemakainya. Itu sebabnya, setelah kalah perang, beberapa negara mengubah seragam militernya. Apalagi maksudnya, kalau bukan ingin membangkitkan rasa percaya diri.

Dari itu, teruslah memoles libas agar bangga ketika mengenakannya.

Lantas, seperti apa libas yang terbaik? 

Allah menyebutnya libasu taqwa, surat al-A’raf ayat 26, yang artinya, “Wahai anak cucu Adam, sungguh Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan bulu (sebagai bahan pakaian untuk menghias diri). (Akan tetapi,) pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu merupakan sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Allah agar mereka selalu ingat.

Pakaian takwalah yang paling baik. Riaslah dirimu dan pasanganmu dengan pakaian ketakwaan, niscaya akan lebih membahagiakan nuansa pernikahan. 

Kerjasama apik dalam agenda saling melindungi, itulah hakikat pakaian suami istri. Berlombalah istri menjadi pakaian terbaik supaya suami tampak gagah menatap dunia. Jadikanlah dirimu pakaian yang indah supaya istri anggun melukis cinta. Jangan biarkan setetes noda pun mengotori pakaianmu. Dari itu jagalah suami! Lindungilah istri!  




Memahami Faedah Bertawakal untuk Membebaskan Diri dari Penderitaan Batin

Sebelumnya

Menjadi Korban Cinta yang Salah

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Tadabbur