Ilustrasi kumpul keluarga/ Net
Ilustrasi kumpul keluarga/ Net
KOMENTAR

MENARIKNYA, perintah menjalin silaturahmi selaras dengan perintah bertakwa pada Allah. Karena ternyata ada rahasia besar di balik dahsyatnya silaturahmi tersebut.

Pada hari raya Idul Fitri, silaturahmi kembali menjadi kosa kata favorit. Umat Islam malang melintang di bumi Allah menemui berbagai sanak keluarga, handai tolan, karib kerabat serta kolega.

Keluhuran silaturahmi memang mengalir hangat di nadi kehidupan masyarakat Nusantara. Kita masih berada di bulan Ramadan, tetapi kini demi menyukseskan agenda silaturahmi pula jutaan muslimin Indonesia tengah berjuang mudik hingga ke pelosok-pelosok negeri.

Pada hari raya, silaturahmi seperti menemukan energinya kembali, dan sepertinya bulan-bulan terdahulu silaturahmi kurang populer. Bukan! bukan karena silaturahmi itu lemah. Energinya tetap ada, justru kitalah yang barangkali abai menggelorakan saripatinya.

Padahal, bagi siapapun yang sukses ibadah Ramadannya akan mudah menemukan urgensi silaturahmi. Bahkan rangkaian Ramadan yang mulia ini sepatutnya berakhir dengan jadi berseri berkat investasi silaturahmi.

Dahsyatnya Kata

Silaturahmi berasal dari akar kata bahasa Arab; shilah atau hubungan dan rahim atau kasih sayang. Silaturahmi itu menjadi agung karena terkait dengan interaksi bernuansa kasih sayang.

Kata Rahim jika dilekatkan pada Tuhan akan bermakna Allah yang Maha Penyayang. Jika dilekatkan pada perempuan –khususnya ibu--, rahim bermakna kandungan. Kenapa kandungan perempuan disebut rahim? Sebab hamil merupakan proses alamiah yang berat. Dalam istilah Al-Qur’an, hamil itu adalah wahn ‘ala wahn alias kepayahan yang tiada tara. Hanya dengan kekuatan rahim atau kasih sayanglah para perempuan kuat melalui kehamilan hingga melahirkan.

Semua model pemakaian kata rahim mempunyai korelasi, seperti silaturahmi merupakan jalinan yang berlandaskan kasih sayang. Hanya dengan kekuatan kasih sayang kita bisa mempertahankan hubungan harmonis dengan berbagai watak manusia yang beragam macam. Kasih sayang membuat kita toleran dengan perbedaan. Kasih sayang itu membangun jalinan hati.

Silaturahmi pantas menjadi budaya bersama. Soalnya dalam silaturahmi terdapat sifat mulia Allah, yaitu Rahim. Jadi, terbukti silaturahmi merupakan amalan mulia yang patut dicintai manusia, karena mengandung nilai Ilahiah.

Dan yang terpenting, perempuan punya ikatan khusus dengan kata dan aktivitas silaturahmi. Bukan hanya karena kata rahim sama-sama dimiliki oleh perempuan dan silaturahmi berakar dari kata yang sama, juga --secara psikologis dengan kehalusan yang dimiliknya-- perempuan lebih potensial melebarkan sayap silaturahmi.

Amalan Agung

Mungkin kita pernah heran melihat orang yang mau berkorban demi silaturahmi. Lihatlah para pemudik yang pening kepala mencari biaya mudik. Tapi mereka tak pernah kapok dan selalu menikmati ritual tahunan itu.

Kenapa rela habis-habisan? Mereka adalah orang yang rela berkorban harta demi kekayaan hati. Ya, karena insan sejati membutuhkan tali jiwa, yaitu silaturahmi. Apalagi, harga silaturahmi melebihi angka-angka rupiah.

Dengan silaturahmi dalam arak-arakan mudik misalnya, kita menyadari ternyata ikatan keluarga sangatlah besar, dan perjumpaan itu menciptakan kebahagiaan yang tak tergantikan. Tak perlu dipusingkan biaya besar yang habis untuk silaturahmi. Anggaplah itu investasi!

Investasi model begini sering dipuji Rasulullah. Nabi Muhammad mengingatkan, “Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhirat, hendaklah ia bersilaturahmi!”

Allah juga memberi penekanan tentang investasi silaturahmi, “Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan mempergunakan nama-Nya, kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi.” (terjemahan Surat an-Nisa ayat 1)

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya Al-Qur’an al-Adzim menjelaskan potongan ayat itu memuat dua pesan yang selaras: Pertama, pesan bertakwa kepada Allah sebagai satu-satunya tempat kita bergantung. Kedua, pesan untuk memelihara hubungan silaturahmi. Sebab silaturahmi adalah modal membangun hubungan dan berbuat kebaikan.

Pada ayat itu Allah menyuruh manusia untuk saling minta tolong. Dalam tataran vertikal, manusia minta tolong semata-mata pada Allah. Hanya Allah kekuatan yang bisa berbuat apa saja dan tak tertandingi oleh apapun. Pada tataran horizontal, manusia saling tolong menolong dengan sesama manusia dan modalnya adalah silaturahmi.  

Silaturahmi bukan sebatas ucapan maaf dan bersalaman belaka. Hakikat silaturahmi terletak pada aspek kejiwaan yang ditempa selama Ramadan. Seluas apakah hati kita menjalin hubungan kasih sayang juga dipengaruhi oleh tempaan bulan puasa.

Mega Proyek

Para rekanan bisnis sanggup ngobrol dalam waktu lama. Mereka tak membicarakan proyek apapun, hanya mengobrol asyik. Mereka tetap tersenyum saat berpisah, meski proyek tidak ada. Padahal kebanyakan pebisnis menganut mazhab time is money. Lantas kenapa mereka rela mengorbankan time dan money itu demi sekadar ngobrol?

Istilah mereka; sedang membangun relasi!

Islam memperkenal sesuatu yang disebut silaturahmi. Bedanya, membangun relasi dalam bisnis sering berorientasi pada keuntungan materi. Kelak di masa mendatang akan ada proyek yang diguyurkan karena telah terbangun kepercayaan sebelumnya. Ya, lewat ngobrol panjang sebelumnya yang berlangsung riang gembira. Cara ini sah-sah saja, selama tidak memakai jalan-jalan haram.




Anggunnya Keberanian Seorang Asma binti Abu Bakar

Sebelumnya

Memahami Faedah Bertawakal untuk Membebaskan Diri dari Penderitaan Batin

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Tadabbur