Ilustrasi khusyuk dalam salat/Net
Ilustrasi khusyuk dalam salat/Net
KOMENTAR

DICURI. Kata itu hampir dialami banyak manusia yang tinggal di muka bumi ini. Saat harta benda dicuri, manusia bisa menjadi marah dan lepas kendali. Ya, begitulah memang tabiat manusia, yang tidak mau kehilangan, meskipun yang dicuri itu sesuatu yang receh.

Sebetulnya bukan perkara kecil besarnya harga barang, tetapi pencurian itu melukai harga dirinya.

Tapi, tidak demikian jika yang dicuri itu adalah salatnya. Tidak tanggung-tanggung, yang mencuri itu adalah setan. Manusia tidak marah, apalagi hilang kendali. Justru tampak biasa dan tenang-tenang saja. 

Salat adalah tiang agama. Salat menjadi penghubung antara manusia dengan Tuhannya. Salat yang dicuri akan membuat kita kehilangan hubungan itu. 

Mengapa setan bisa mencuri salat?

Jawabnya tidak lain adalah karena manusia lalai. Tanpa disadari, kita justru telah membuka diri agar setan mencuri salat yang tengah ditunaikan. Berhati-hatilah!

M. Khalilurrahman Al-Mahfani pada Kitab Lengkap Panduan Shalat (2016: 210) menulis, berkenaan dengan menoleh ke kanan, ke kiri, atau ke atas ketika shalat, Rasulullah Saw menyebutnya sebagai pencurian yang dilakukan oleh setan.

Dalam hadis disebutkan, dari Aisyah ia berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah Saw tentang menoleh dalam salat. Beliau bersabda, ‘Itu adalah pencurian yang dilakukan oleh setan dari salat seseorang.” (HR. Bukhari, Tirmidzi, Nasa’i, dan Abu Dawud dari Aisyah)

Ya, ketika dalam salat kita menoleh, artinya kita telah memberi peluang bagi setan untuk beraksi mencuri salat yang kita tunaikan. Jelas ini kerugian yang teramat besar! Tiada kerugian yang melebihi dicurinya ibadah kita oleh makhluk yang terkutuk.

Menoleh menjadi bukan perkara sepele, sebab kenyataannya kita sudah keluar dari kekhusyukan salat. Bayangkan, betapa manusia tidak mau menoleh ketika berbicara dengan atasannya, tentunya lebih tidak ada lagi pembenaran untuk menoleh saat kita berhadapan dengan Allah Swt. 

Sebetulnya, kita dapat mengatasi persoalan tersebut dengan tetap menjaga agar kepala tidak bergerak-gerak dan memelihara agar salat tetap khusyuk. Jangan sampai fokus buyar oleh kejadian yang remeh-temeh, hati kita perlu waspada dan terjaga dari godaan sekecil apapun.

Al-Muhaddist Al-Hafidz Qathabuddin Al-Qasthalani dalam buku The Spirit of Shalat (2010: 121) menjelaskan, kalau dia berada dalam satu bacaan (ayat), maka dia berpikir bahwa seolah-olah mendengar dari Allah Azza Wa Jalla. Kalau dia memegang teguh hal seperti ini, maka akan menjadi penjaganya dari setan, penahan agar salatnya tidak dicuri.

Karen, kadangkala dalam salat manusia diserang oleh rasa was-was dengan mengingat surga dan neraka, dosa kecil dan besar, sehingga dia tidak berpaling kepada pikiran-pikiran itu. Karena itu, menyibukkannya dari menghadap dalam salat akan amengeluarkannya dari kondisi tersebut.

Penjelasan ini hendaknya membuat kita insyaf, bahwa setan akan melakukan berbagai cara licik agar manusia menoleh. Setan mengalihkan pikiran atau perhatiannya, bahkan menimbulkan was-was di hati orang yang salat, dengan memberikan gambaran surga atau neraka.

Ketika khusyuk kita sudah terpecah, di sanalah setan mudah memalingkan perhatian kepada hal yang remeh, seperti kucing yang lewat, cicak bersuara di loteng, dan sebagainya.

Dari itu, kendalikanlah diri agar tetap di jalur khusyuk selama salat. Senantiasa pahamkanlah kepada diri sendiri bahwa saat salat, kita sedang berhadapan dengan keagungan Allah Swt. Dalam salat, manusia menemukan ketenangan batin. Upayakanlah tetap khusyuk dan memelihara diri dari pencurian setan.

Pencurian itu tidak mungkin dibiarkan begitu saja. Setan harus dilawan! Mari, ambil kembali salat yang telah dicuri dengan bermodalkan khusyuk.




Anggunnya Keberanian Seorang Asma binti Abu Bakar

Sebelumnya

Memahami Faedah Bertawakal untuk Membebaskan Diri dari Penderitaan Batin

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Tadabbur