post image
KOMENTAR

TIBALAH masanya orang-orang musyrikin itu hendak menggoyahkan pendirian Rasulullah, atau setidaknya menjebak sehingga terlihat oleh masyarakat Mekah beliau hanyalah pembual, bukan nabi yang sebenarnya.

Maka bertubi-tubi permintaan dan tuntunan mereka ajukan kepada Rasulullah, yang semuanya bukan hanya tidak masuk akal tetapi juga mengandung jebakan. Mereka menuntut tidaklah berdasarkan kebutuhan melainkan untuk merendahkan dan menghinakan.          

Ibnu Hisyam dalam buku Sirah Nabawiyah (2019: 133) menceritakan:

Mereka berkata, “Sesungguhnya engkau tahu bahwa tak ada orang yang paling sempit negerinya, paling sedikit airnya, dan paling sengsara hidupnya dari kita. Maka mintakanlah kepada Tuhan yang telah mengutusmu untuk menggeser gunung-gunung ini agar negeri kita terasa lebih lapang, pancarkanlah untuk kami sungai-sungai seperti sungai-sungai di Syam dan Irak, dan bangkitkanlah nenek moyang kami termasuk Qushay bin Kilab, seorang tua yang jujur, agar kami bisa bertanya kepada mereka tentang apa yang kau katakan, apakah hak ataukah batil.”

“Kalau mereka membenarkanmu dan engkau bisa melakukan apa yang kami minta, kami akan membenarkanmu, kami yakin akan kedudukanmu di sisi Allah, dan bahwa Dia telah mengutusmu sebagai seorang rasul sebagaimana kaukatakan.” 

Rasulullah menjawab, “Aku diutus kepada kalian bukan untuk urusan ini. Sesungguhnya, aku diutus Allah kepada kalian untuk membawa ajaran-Nya. Aku sudah menyampaikan ajaran itu kepada kalian. Kalau kalian menerimanya, itu berarti keberuntungan bagi kalian di dunia dan akhirat. Kalian akan menolaknya, aku akan bersabar di atas perintah Allah sampai Dia menetapkan keputusan antara aku dan kalian.”

Pihak Quraisy sebetulnya hanya memperolok-olok dengan mengajukan permintaan yang tidak masuk akal dan juga tidak berfaedah. Apa gunanya memindahkan gunung-gunung atau memancarkan aliran sungai? Sekalipun itu mudah bagi Allah Swt. tetapi Tuhan juga menetapkan hukum alam yang menjaga keseimbangan semesta. Tidak ada urgensinya bagi Tuhan mengabulkan permintaan mereka, sebab kondisi alam gurun pasir juga suatu karunia Ilahi.

Lebih parah lagi permintaan mereka agar Tuhan menghidupkan kembali nenek moyang yang telah lama tiada. Dengan alasan mereka akan bertanya tentang kebenaran Nabi Muhammad. Meskipun mudah bagi Allah menghidupkan orang mati, tetapi permintaan itu tidak ada faedahnya. Kerasulan Nabi Muhammad sudah pasti dijamin Allah dan tidak butuh pengakuan dari nenek moyang mereka.

 Sampai di sini Nabi Muhammad selamat dari jebakan mereka dan tidak terjerumus dalam kekonyolan. Namun, orang-orang musyrikin mengganti permintaan kepada yang lebih pribadi.

Ibnu Hisyam (2019: 133) mengisahkan:

Orang-orang Quraisy berkata, “Kalau engkau tidak mau melakukannya, mintalah untuk dirimu sendiri agar Tuhanmu mengutus seorang malaikat bersamamu untuk membenarkan ucapan-ucapanmu dan menjelaskan kepada kami tentang dirimu.”

“Mintalah agar Dia membuatkanmu taman, istana, simpanan berupa emas dan perak, yang dapat mencukupi kebutuhanmu. Sebab, engkau sendiri masih pergi ke pasar seperti kami dan mencari penghidupan seperti kami. Dengan begitu kami mengetahui keutamaan dan kedudukanmu di sisi Tuhanmu, bahwa engkau benar-benar seorang Rasul sebagaimana kauakui.”

Rasulullah menjawab, “Aku tidak akan melakukannya. Aku bukanlah orang yang bisa meminta hal-hal seperti itu kepada Tuhannya. Bukan untuk itu aku diutus kepada kalian. Sesungguhnya, Allah mengutusku sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan.”

“Jika kalian menerima apa yang kubawa, itu merupakan bagian kalian di dunia dan akhirat. Jika kalian menolaknya, aku akan bersabar terhadap perintah Allah sampai Dia memutuskan perkara di antara aku dan kalian

Kembali pihak Quraisy menyebutkan standar kenabian versi hawa nafsu mereka sendiri, yang bergelimang emas perak dan bertakhta di istana serta dikawal oleh para malaikat. Mereka sengaja melupakan bahwa Allah Swt. mengutus Rasulullah sebagai Nabi bukan seorang raja diraja.

Selaku nabi maka beliau pun akan hidup layaknya manusia biasa, sehingga Nabi Muhammad masih berbelanja atau berniaga di pasar, melakukan pekerjaan rumah bersama istrinya, dan lain sebagainya. Nabi Muhammad adalah suri tauladan bagi umatnya, dan tidak membutuhkan kemegahan duniawi.

Patahnya cara-cara licik itu membuat tokoh-tokoh Quraisy naik pitam. Mereka geram hingga menantang diturunkan azab Tuhan. Mereka berani menantang kebenaran Ilahi. Bahkan, Abu Jahal pun tega merancang cara keji dalam menyingkirkan beliau.

Ibnu Hisyam (2019: 134-135) menguraikan:

Pembesar-pembesar Quraisy itu berkata, “Kalau begitu, turunkanlah azab dari langit kepada kami sebagaimana perkataanmu bahwa Tuhanmu berbuat menurut kehendak-Nya. Sebab kami tidak akan beriman kepadamu, kecuali engkau melakukannya.”

Rasulullah bersabda, “Hal itu terserah Allah. Kalau Dia berkehendak, Dia akan melakukannya."

Tatkala Rasulullah bersujud, Abu Jahal mengangkat batunya dan bergegas mendekati beliau. Saat jarak sudah dekat, tiba-tiba ia mundur dengan wajah pucat pasi. Batu yang digendongnya terlepas dari pegangannya.

Orang-orang Quraisy buru-buru mengerumuninya dan bertanya-tanya, “Apa yang terjadi, Abul Hakam?”

Abu Jahal menjawab, “Aku menghampirinya untuk melakukan apa yang kukatakan kepada kalian tadi malam. Tiba-tiba seekor unta jantan muncul menghalangiku. Tak pernah aku melihat kepala, leher, dan taring unta seperti itu! Sungguh unta itu hendak melumatku!”

Ibnu Ishaq berkata, “Disebutkan kepadaku bahwa Rasulullah bersabda, ‘Itu adalah Jibril. Seandainya Abu Jahal mendekatinya, tentu ia akan meremukkannya.”




Raja yang Menolak Hadiah

Sebelumnya

Jalan Berliku Hijrah ke Habasyah

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Sirah Nabawiyah