Ilustrasi/ Net
Ilustrasi/ Net
KOMENTAR

Dengan perhitungan demikian matang yang diracik oleh Rasulullah, makanya Darul Arqam menjelma menjadi madrasah pertama dalam Islam, sekaligus menjalankan peran penting terkait pusat pergerakan dakwah. Darul Arqam bukan perkara cerita tentang sebuah rumah, melainkan tentang suatu strategi cemerlang yang menentukan langkah juang Islam.

Dalam bingkai pemikiran modern, tersingkap pemikiran brilian pilihan atas rumah Al-Arqam. Ali Muhammad Ash-Shallabi pada buku Sejarah Lengkap Rasulullah Jilid 1 (2012: 153) menguraikan:

Darul Arqam dipilih Rasulullah karena alasan-alasan berikut:

a. Keislaman Al-Arqam bin Abi Al-Arqam belum cukup dikenal. Dengan demikian, orang-orang Quraisy tidak akan menyangka bahwa Rasulullah dan para sahabat akan mengadakan pertemuan di rumahnya.

b. Al-Arqam berasal dari Bani Makhzum. Bani Makhzum adalah kabilah yang terlibat konflik dengan Bani Hasyim. Andaipun keislaman Al-Arqam dikenal orang banyak, akan sangat sulit bagi seseorang untuk menduga bahwa pertemuan akan berlangsung di rumahnya, sebab ini sama artinya Nabi Muhammad -yang notabene adalah Bani Hasyim- membuat ulah di sarang musuh.

c. Al-Arqam adalah pemuda berusia 16 tahun yang sudah masuk Islam, dan orang Quraisy pun tidak akan berpikir bahwa Nabi Muhammad dan para sahabat beliau akan mengadakan pertemuan di rumahnya. Bahkan, menurut dugaan mereka, besar kemungkinan pertemuan itu akan diadakan di rumah para sahabat seniornya atau bahkan di rumah beliau sendiri.

Dari rentetan uraian di atas tersibaklah suatu pemahaman tentang betapa cemerlangnya strategi Rasulullah dalam mendirikan madrasah Islam. Di tengah kepungan musuh, beliau menemukan cara aman demi melangsungkan pembinaan bagi pengikutnya.

Khadijah memang ikut menjadi tulang punggung dakwah Islam. Rumahnya memang strategis letaknya dan memberikan kenyamanan. Akan tetapi, tidak melulu segala hal mesti dikaitkan dengan istri.  

Orang-orang musyrikin kecele karena terlanjur mengintai rumah Khadijah. Begitu melihat kediaman Khadijah adem ayem saja mereka pun santai-santai pula. Tidak tahunya cara berpikir Rasulullah lain dari biasa, beliau mampu mengukur cara pikir orang-orang jahiliah, dan bertindak melampaui nalar mereka.




Belum Ada Perang Seunik Perang Ahzab

Sebelumnya

Mukjizat Nabi pada Periuk Istri Jabir

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Sirah Nabawiyah