Para Pembicara dalam forum diskusi “Pimpin Pemulihan, ​Bergerak untuk Merdeka Belajar Kampus Merdeka“ yang diadakan oleh Institut Komunikasi dan Bisnis LSPR/ Foto; Ist
Para Pembicara dalam forum diskusi “Pimpin Pemulihan, ​Bergerak untuk Merdeka Belajar Kampus Merdeka“ yang diadakan oleh Institut Komunikasi dan Bisnis LSPR/ Foto; Ist
KOMENTAR

DALAM rangka Hari Pendidikan Nasional, Institut Komunikasi dan Bisnis LSPR menggelar acara yang terdiri dari Forum Diskusi Inspirasi Kepemimpinan Perempuan, Peresmian Pendirian London School Centre for Leadership dan Peluncuran Buku Wonderful Woman by Ibu Prita Kemal Gani.

Forum diskusi mengangkat tema besar “Pimpin Pemulihan, ​Bergerak untuk Merdeka Belajar Kampus Merdeka“ bertujuan untuk menginspirasi para pemimpin Perguruan Tinggi dan Civitas dalam tata kelola Perguruan Tinggi Merdeka Belajar, Kampus Merdeka.

Dalam sebuah organisasi ataupun institusi, dominasi pria sebagai pemimpin masih menjadi mendominasi beberapa wilayah baik di kota-kota besar terlebih wilayah terpencil. Pada kenyataannya wanita memiliki potensi yang tidak kalah berkualitas dalam hal kepemimpinan, terlepas dari individu yang berperan sebagai pemimpin itu sendiri.

Kepemimpinan juga dapat diartikan sebagai seorang pemimpin mempengaruhi perilaku tim nya agar dapat bekerja sama secara produktif untuk mencapai tujuan bersama. Pimpinan mempunyai pengaruh besar terhadap keberhasilan organisasi ataupun institusi.

Kehadiran perempuan dinilai memiliki kontribusi besar terhadap kesejahteraan masyarakat baik dari sektor budaya, pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Memberikan pembekalan edukasi dan peran penting dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Penekanan pada keterampilan dan penciptaan pekerjaan yang memanfaatkan kontribusi wanita dapat meningkatkan investasi untuk modal manusia direalisasikan sepenuhnya. 

Kontribusi nyata yang dilakukan oleh perempuan dalam hal ini salah satunya direalisasikan dalam dunia pendidikan tinggi.

Semakin berkembangnya jaman, gender sudah bukan merupakan faktor pembeda yang dominan. Hal ini sejalan dengan gerakan emansipasi dan gerakan kesetaraan gender yang menuntut adanya hak wanita dalam berbagai bidang kehidupan. Melalui kesetaraan dalam hal pendidikan dan meniti karir, perempuan juga memiliki kesempatan untuk menduduki posisi tertinggi di perusahaan, pemerintahan dan lainnya.

Melalui ilmu dan kemampuannya dalam pendidikan dan kolaborasi juga menjadi sebuah kesempatan yang baik dalam meningkatkan sumber daya yang mampu bersaing dalam berkualitas. Maka dari itu, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) secara konsisten terus melakukan transformasi pendidikan melalui terobosan Merdeka Belajar.

Dr. Ir. Sri Puji Saraswati Nizam, DIC., M.SC., IPM., selaku Ka DWP Diktiristek yang merupakan pembicara kunci acara ini memaparkan, “Kita perlu membangun generasi emas, cedas berkarakter. 

Pendididkan berkarakter itu harus dijalankan sistematis dan berkelanjutan. Dan, cerdas itu harus komprehensif, mulai dari cerdas spiritual, emosional, sosial, intelektual, kinestetik, dan lingkungan. Ada empat area penguatan pengarus utamaan gender yang harus perkuat, yakni ekosistem sekolah, pembelajaran bermakna, guru sebagai panutan, serta lingkungan keluarga dan masyarakat”.

Kesimpulannya, tumbuhnya generasi cerdas berkarakter tidak hanya membutuhkan pendidikan formal dan non-formal dari PAUD sampai pendidikan tinggi, tetapi membutuhkan kehadiran perempuan yang cerdas, perempuan yang mandiri dengan kemauan kuat dan pengetahuan serta wawasan yang luas.

"Kehadiran perempuan-perempuan yang berpendidikan tinggi akan menjadi tulang punggung bagi tumbuh suburnya generasi cerdas berkarakter yang dimulai dari pendidikan keluarga di rumah.
DWP (Dharma Wanita Persatuan) di kantor-kantor kementerian dan pemda ataupun Paguyuban Perempuan di PTS perlu di dukung sepenuh hati, dihidupkan, ditumbuh kembangkan, karena bersinergi dengan pemerintah dalam pembangunan SDM  dalam keluarga dan ruang publik, ikut kontribusi dalam mensejahterakan anggota dan keluarganya, serta dapat ikut menguatkan program kegiatan dan hubungan sosial budaya di perkantorannya,” tambahnya.


Diskusi Panel pertama mengusung tema Perempuan dan Masa Depan Pendidikan menghadirkan pimpinan wanita, yaitu  Ibu Prita Kemal Gani selaku Founder & CEO LSPR, Ibu Margianti selaku Rektor Universitas Gunadarma dan Ibu Dr. Ir. Paristiyanti Nurwardani, M.P, Kepala LLDikti Wilayah III.

Dalam kesempatan ini, Ibu Prita Kemal Gani MBA, MCIPR, APR membagi pengalamannya dalam merintis LSPR hingga sekarang. ”Dalam memimpin LSPR, saya melakukannya  seperti memimpin di dalam rumah. Oleh karena itu, suasana yang dihadirkan seperti keluarga. Di LSPR, di tengah dinamika dan kendala, pendekatan yang kami utamakan adalah persuasif dan kekeluargaan. Selain itu, ada prinsip entrepreneurialship yang kami usung dalam membangun LSPR demi kemajuan LSPR. Dan, entreprenerialship inilah yang harus kami terus tularkan,” ujar Prita.

Lebih jauh ia menerangkan, mengusung prinsip entrepreneurialship, maka seluruh staf harus melakukan yang terbaik. Selanjutnya, tugas saya membuat semua staf, termasuk dosen dan mahasiswa, senang di LSPR seperti di rumah sendiri. Selain itu, persahabatan juga yang menjadikan  LSPR ini kuat hingga sekarang.

"Untuk menciptakan pemimpin perempuan, maka perempuan harus kuat lebih dulu. Mulai dari kemampuan mengurus diri sendiri, contohnya membersihkan kamar tidurnya sendiri; mengurus keluarganya; selanjutnya ditempa menjadi pemimpin. Umumnya, pemimpin perempuan yang berhasil adalah mereka yang berhasil di dalam rumah tangganya,” tambahnya.

Margianti selaku Rektor Universitas Gunadarma, memaparkan  “Sebagai pemimpin perempuan, ada berbagai prinsip pengembangan yang kami ke depankan di Gunadarma. Pertama, kami semua tumbuh bersama (we all grow together). Kedua, saling win win, saling asah, saling asuh. Ketiga, damage control. Keempat, trouble conviyer.”

Panel pertama ditutup dengan paparan menarik dari ibu Dr. ir. Paristiyanti Nurwardari, M.P., selaku Ketua LLdikti Wilayah III.  “Ada tiga tugas utama Kepala Lembaga Layanan  Pendidikan Tinggi (LLDIKTI). Pertama, meningkatkan mutu layanan PTN dan PTS di wilayahnya. Kedua, peningkatan mutu dosen. Ketiga, penyiapan lima klinik mutu untuk memperhatikan setiap individu dosen dan  mahasiswa untuk mempercepat implementasi kampus merdeka belajar,” ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, perempuan harus adaptif, inovatif, dan berdaya. Saat ini, mahasiswa perempuan di Indonesia 56%. Lalu,  38% pemimpin PTS di Jakarta adalah perempuan.  "Saya yakin, ke depan, perempuan akan berpotensi untuk menjadi pemimpin. Yang penting, perempuan harus inovatif dan kolaboratif. Selanjutnya, be the best with your uniqueness,” tambahnya.

Diskusi panel kedua membahas tema Kepemimpinan Perempuan dalam Tata kelola Merdeka Belajar, Kampus Merdeka dengan menghadirkan Rektor Perempuan. Prof. Dr. Amany Lubis, MA -Rektor UIN, Prof. Sofia A. - Rektor Universitas Bakrie, dan Dr. Illah Sailah - Rektor Universitas Binawan.




Rakerkesnas 2024, Presiden: Indonesia Harus Bisa Manfaatkan Bonus Demografi

Sebelumnya

Tak Lagi Berstatus Ibu Kota, Jakarta Siap Melesat Jadi Pusat Perdagangan Dunia

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel News