post image
Ilustrasi/ net
KOMENTAR

BANYAK kisah tentang orangtua yang memotivasi anak-anaknya untuk menjadi sukses dengan standar kesuksesan khas manusia abad modern: berpendidikan tinggi, karier mapan, keluarga kecil, dan memiliki investasi.

Motivasi orangtua itu memang ada benarnya, namun lebih besar efek fatalnya. Karena nilai-nilai yang diajarkan orangtua menghasilkan orientasi hidup anak terbatas pada perjalanannya di dunia.

Tentang iman, ibadah, dan takwa, banyak orangtua mengatakan itu semua adalah urusan paling personal antara seorang manusia dengan Allah. Iman, cukuplah mengendap di dalam hati.

Tak perlulah 'digembar-gemborkan' dengan ibadah dan amal saleh. Yang terpenting dari semua itu adalah bagaimana menjadi manusia yang baik, bermoral mulia, dan sukses.

Sikap orangtua tersebut biasanya didasari pada "pengecualian" yang banyak ditemui di tengah masyarakat.

Ketika para ustaz, guru ngaji, dai, yang seharusnya menjadi suri tauladan, ada segelintir oknum yang justru memanfaatkan posisi terhormat itu untuk menzalimi anak didiknya.

Ketika para perempuan Muslim yang menutup kepalanya dengan kerudung seharusnya juga menutup mata dan telinganya dari maksiat, ada segelintir perempuan yang kerudungnya justru tak menghalanginya untuk asyik masyuk dengan lawan jenis yang bukan mahram.

Akhirnya kita berpendapat bahwa ilmu agama dan 'atribut' keagamaan tidak serta merta menjadikan seseorang menjadi hamba Allah yang mulia. Jadi buat apa istiqamah di jalan Allah?

Kita lupa bahwa sebagai anak cucu Adam, manusia tak pernah lepas dari bisikan dan godaan syaitan untuk berpaling dari jalan Allah. Yang terjadi adalah, ada yang salah dengan ilmu dan perilaku kita. Bisa jadi, niat menuntut ilmu kita yang salah, atau kita mengamalkan sebagian ilmu tapi meninggalkan sebagian lainnya—demi kepentingan diri sendiri.

Padahal jika kita sejenak memejamkan mata hati dan mengingat kembali hakikat eksistensi kita di dunia, maka kita tak akan ragu mengatakan bahwa dunia adalah godaan semata. Dunia ibarat bunga yang pasti akan layu. Siapa yang mengejar dunia, hatinya tak akan pernah merasa cukup.

Ketika si buah hati dituntun lalu dituntut untuk selalu mengejar dunia, apa yang kelak ia bisa berikan saat orangtuanya meninggal?

Mengingat kematian adalah salah satu cara untuk mengerem hasrat kita untuk terus mengejar dunia. Kita 'mundur' beberapa langkah untuk melihat "grand design" kehidupan manusia, bahwa dunia memang letaknya di depan mata, namun ternyata ada akhirat yang tersembunyi di belakangnya.
Celakanya, akhirat itulah yang abadi.

Sedangkan dunia, seperti yang kita lihat dari sekitar kita, hanya sementara adanya. Karena usia manusia ada batasnya. Kehidupan dunia, sesenang apa pun yang dirasakan, akan tercabut manakala ajal menjemput.

"Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang saleh." (HR. Muslim)

Dalam hadis Rasulullah tersebut tak disebutkan "tabungan senilai ratusan juta rupiah" atau "memiliki gelar pendidikan tinggi" atau "pengusaha sukses papan atas".  Karena pada akhirnya, ketika kita kembali ke tanah, tak ada setitik harta ataupun sanak keluarga yang menemani kita di alam kubur.

Usia manusia, tak ada seorang pun yang tahu. Bahkan seseorang yang diyakini memiliki indra keenam, dianggap indigo, atau memiliki 'kelebihan' untuk memprediksi masa depan, tak bisa tahu kapan malaikat maut akan menjemputnya.

Jelaslah bahwa dunia adalah sesuatu yang fana. 'Rumah singgah' yang sesuai namanya, hanya kita singgahi sekejap saja. Dunia bukan rumah kita sebenarnya. Dunia bukan tempat kita menetap selamanya.

Mari ingatkan anak untuk berpegang teguh pada akidahnya, tidak malu menjalankan syariat Islam, memelihara kemuliaan diri dari segala tipu daya dunia, serta menjalankan hablumminannas seperti yang dicontohkan Rasulullah saw.

Jangan sampai hakikat sukses yang kita tanamkan kepada si buah hati justru menjadi penghalang langkah kita menuju jannah.

 

 




Mengapa Persahabatan Bisa Berakhir? Simak Sebabnya Agar Tak Terjadi Pada Anda

Sebelumnya

Kenali Distimia, Depresi Kronis Jangka Panjang yang Berbahaya

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Family