post image
Ilustrasi/ Net
KOMENTAR

PEREMPUAN masa kini memiliki fungsi dan peran yang kian beragam terlebih dalam posisinya di masyarakat. Salah satu syarat penting agar perempuan berdaya dalam urusan domestik dan mampu menyeimbangkannya dengan peran di luar rumah adalah memiliki kesehatan mental yang baik.

Namun menjadi perempuan kuat di tengah zaman modern bukan perkara mudah.
Kemajuan yang sangat dinamis dan dibanjiri kecanggihan teknologi informasi kerap memunculkan masalah kesehatan mental yang membahayakan aktualisasi diri perempuan.

Salah satu gangguan psikologi yang banyak dirasakan perempuan adalah mental block (hambatan mental).

Kita mungkin pernah berada di tengah aktivitas atau pekerjaan dan tiba-tiba otak seperti berhenti. Kreativitas membatu. Kita mendadak kebingungan bahkan merasa kewalahan untuk meneruskan apa yang sudah kita mulai. Tujuan tampaknya mustahil untuk dicapai.

Saat itulah kita terkena mental block.

Sage Neuroscience Center mendefinisikan mental block (hambatan mental) sebagai kondisi otak yang terhalang untuk bisa mengakses kreativitas, motivasi, atau produktivitas. Ibarat mesin yang bisa mengalami korsleting dan segalanya berjalan lebih lambat.

Saran mendasar ahli IT untuk mengatasi masalah mesin seperti di atas adalah mengatur ulang (reset).
Pertanyaannya, sudahkah kita me-reset diri kita? Karena ternyata banyak hal yang bisa menyebabkan berkurangnya kemampuan kita berpikir jernih dan memperoses informasi.

Jelaslah bahwa mental block adalah suatu kondisi mental yang menjadi penghambat di segala aktivitas hingga mengganggu produktivitas kita. Mental block merupakan gangguan psikologis yang mesti kita usir jauh-jauh.

Apa saja penyebab mental block?

Banyak hal bisa memicu hambatan mental. Dimulai dari hal sederhana yaitu kurangnya jam tidur, tidak cukup mengonsumsi makanan padat nutrisi, kekurangan vitamin B12, hingga efek samping dari obat-obatan atau penyalahgunaan zat terlarang.

Tidak hanya itu, jika kita kerap menunda sebuah pekerjaan sementara deadline membayangi keseharian kita, hal itu menyebabkan stres berlebihan yang bisa berkontribusi menciptakan mental block.

Kita juga bisa merasakan mental block saat hidup di lingkungan yang memicu kecemasan, dengan orang-orang yang tak segan berbuat kekacauan dan kebohongan. Tanpa disadari, kita akan mengalami mental block akibat terlalu lelah secara mental.

Selanjutnya ada imposter syndrome alias sindrom penipu. Inilah perasaan ketika kita merasa tidak cukup baik untuk berada di posisi kita. Dan kita ketakutan bahwa orang lain akan mengetahui bahwa kita tidak cakap untuk posisi kita saat ini.

Padahal, apa pun profesi dan status yang kita pilih saat ini, orang menghargai kita dengan segala kemampuan kita.

Jika kita adalah seorang karyawan, maka atasan mempekerjakan kita karena suatu alasan. Jika kita adalah seorang pemimpin, bawahan kita menghormati kita karena kemampuan yang kita miliki. Pun ketika kita memilih menjadi ibu rumah tangga, keluarga kita pasti akan melihat ketulusan dan kesungguhan kita mengurus mereka.

Selanjutnya ada decision fatigue alias kelelahan mengambil keputusan.

Bayangkan jika kita dipaksa mengambil keputusan sepanjang hari, mulai dari "baju apa yang akan saya kenakan hari ini?" lalu "apa yang disiapkan untuk sarapan?" juga "haruskah saya menghukum anak saya karena melakukan kesalahan atau membiarkannya?" belum lagi "rute mana yang harus saya ambil untuk menghindari kemacetan?"

Kita mesti belajar untuk 'merampingkan' berbagai hal sederhana agar tidak menambah sempit ruang di otak kita. Jangan sampai kita mengambil banyak keputusan di pagi hari sebelum memulai aktivitas. Kelelahan itu bisa memicu mental block.

Saat dilanda mental block, ada beberapa ciri yang mengindikasikannya. Mulai dari merasa tertekan, tidak memiliki energi, sensitif dan mudah tersinggung, hingga berkurangnya gairah saat berhubungan suami istri.

Kenali jenis mental block

Ada tujuh jenis mental block menurut para ahli psikologi.

1# Self doubt, keraguan terhadap kemampuan diri sendiri. Ini sangat berbahaya karena berkaitan erat dengan depresi, tak peduli sekeras apa usaha kita, selalu saja kita merasa tidak berkompeten.

2# Comparison, tak henti membandingkan diri sendiri dengan orang lain.

3# Tunnel vision, mengurung diri dan bersembunyi dari kenyataan. Ibarat penglihatan di terowongan—yang samar, kita tidak mampu berpikir objektif dan jernih.



Close X

Zhafira Aqyla, Youtuber Muda yang Menginspirasi Generasi Z Lewat Platfom Edukasi Seksual Berbasis Islam

Sebelumnya

Kisah Salama Mohamed: Dari Vitiligo, Self-Love, hingga Keromantisan di Balik Konten Humor Satire

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Women