post image
KOMENTAR

HENNY Christiningsih mendirikan bisnis batik Rolupat pada tahun 2016. Berawal dari kecintaannya terhadap khazanah budaya Indonesia tersebut, ia tak hanya berupaya untuk melestarikan batik tapi juga membawa batik ke berbagai penjuru dunia.

Ibu Henny menyadari bahwa tongkat estafet pelestarian wastra adati ini harus diserahkan kepada generasi muda. Karena itulah, ia tak segan mengajak para perempuan muda untuk belajar mencanting langsung dari para pembatik berpengalaman.

Seiring perjalanannya, Rolupat tidak hanya memproduksi batik tapi juga menjadi wadah untuk pelaku UMKM batik tumbuh dan berkembang.

Bersama Rolupat, Ibu Henny membawa puluhan UMKM batik ke Korea (2018), juga Hong Kong Fashion Week dan Halal Expo Turki (2019).

Ikut keanggotaan Inacraft dan SMESCO, Ibu Henny sudah membawa ratusan UMKM ke pameran di sejumlah negara. Tentu saja, UMKM yang go global itu sudah lolos kurasi. "Saya minta mereka memiliki packaging yang bagus, kualitas produk yang bagus, dan tak berhenti berinovasi."

Ia juga mengerjakan batik kontemporer dengan metode "smoke" yang mengizinkan pembuatnya mengangkat aneka motif tanpa terikat pakem, juga menggunakan warna-warna cerah untuk menarik minat para anak muda.

Menurut Ibu Henny, agar anak-anak muda bisa mencintai batik, bisa dimulai dari edukasi dan cinta batik yang digaungkan dalam keluarga.

Selain memompa kreativitas para pelaku UMKM, Ibu Henny juga tak lelah menyemangati UMKM meningkatkan kualitas produksi mereka agar daya beli masyarakat makin tinggi.

UMKM yang memiliki produk berkualitas tinggi akan dipajang di Rolupat tanpa dipungut biaya. Ibu Henny bahkan tak segan membeli langsung produk UMKM. Menurutnya, sistem "beli putus" ini menjadikan roda perekonomian terus berputar. Hebatnya, produk yang ia beli dari UMKM selalu berhasil ia jual kembali.

"Harapan saya, UMKM yang ingin menyerah selama pandemi, jangan putus asa, jangan menyerah, karena masa depan masih panjang, terus berkarya, pasti nanti ada hasilnya," ungkap Ibu Henny.

Di Rolupat, Ibu Henny juga memiliki para ahli di bidang branding yang siap memberikan masukan kepada para UMKM untuk "naik kelas".

Ibu Henny juga kerap terjun langsung dalam memberi masukan dengan cara membandingkan dua produk yang berbeda. Kiat itu menurutnya terbilang sukses dalam menumbuhkan kreativitas dan inovasi para UMKM. Pelaku UMKM mempelajari kelebihan produk yang banyak diminati masyarakat. Dari sana diharapkan UMKM bisa bereksperimen untuk bisa menghasilkan karya yang lebih memukau.

Tidakkah Ibu Henny merasa para UMKM yang dibinanya sebagai saingan dari batik Rolupat?

"Saya senang melihat orang tersenyum, senang kalau produknya laku. Apalagi kalau bilang alhamdulillah produknya laku. Rasa syukur itu yang membuat saya bahagia."

"Tidak kata kata bersaing, karena sukses itu lahir dari kebersamaan," tegas Ibu Henny.

Menariknya, Rolupat juga berkolaborasi dengan JakPreneur untuk kurasi makanan. Di Rolupat, pengunjung tak hanya bisa membeli batik, ikut workhop mencanting, tapi juga menikmati lezatnya aneka kuliner Nusantara.

Dedikasinya terhadap kelestarian budaya Tanah Air sekaligus mengembangkan UMKM membuat Ibu Henny terpilih menjadi salah satu Penggerak Literasi Kewirausahaan dalam ajang Ibu Ibukota Awards 2021.

Ibu Ibukota Awards merupakan wadah apresiasi yang mengangkat kisah para perempuan penggerak #AksiHidupBaik di seluruh penjuru kota Jakarta.

Digagas oleh Fery Farhati, istri Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Ibu Ibukota Awards menjadi acara tahunan sejak tahun 2019. Pada tahun 2021, panitia memilih 21 sosok perempuan penggerak literasi dari lima bidang yaitu kesehatan, pemberdayaan, lingkungan, kewirausahaan, dan pendidikan.




Tetap Aktif di Usia 83 Tahun, Ros Yusuf Sekolahkan Anak Yatim Piatu dan Dhuafa Demi Pendidikan yang Adil Merata

Sebelumnya

Roosalina Wulandari: Ciptakan Rumah Aman 'Organik' bagi Korban Kekerasan dengan Memaksimalkan Peran Rukun Warga

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Paras Jakarta