post image
Ilustrasi/ Net
KOMENTAR

ANAK usia dini belajar dengan caranya sendiri. Bermain biasanya digunakan sebagai kesempatan untuk mempelajari hal-hal yang kemudian menghasilkan data cilta, imajinasi, dan kreativitas anak yang terus berkembang.

Bermain memang jadi bagian terpenting dalam kehidupan anak. Mainan berpengaruh terhadap pertumbuhan anak. Bahkan kadang anak lebih mementingkan bermain daripada kebutuhan lainnya.

Perlu Bunda ketahui, semakin kecil usia anak makan kebutuhan mereka untuk bermain bebas sangat tinggi.

Dengan bermain, anak dapat menggunakan berbagai inderanya untuk mengeksplorasi, mengekspresikan pikiran dan perasaan, juga mengaitkan apa yang mereka ketahui dengan hal-hal baru.

Bermain juga membangun sikap positif mereka terhadap belajar, termasuk rasa ingin tahu, antusiasme, dan ketekunan. Anak juga akan semakin matang keterampilan dasarnya dan semakin baik performa akademiknya.

Rangkaian Belajar Sambil Bermain

Dalam prosesnya, belajar sambil bermain memiliki rangkaian penting, yaitu:

1. Free play
Dalam rangkaian ini anak memilih dan memimpin permainan. Ini terjadi secara spontan, tanpa intervensi orang dewasa.

2. Guided play
Tahap rangkaian selanjutnya adalah tidak hanya memimpin, anak mulai mengembangkan permainannya. Di sini, orang dewasa mulai terlibat dalam hal pengarahan dan pertanyaan.

3. Games
Pada tahap rangkaian ini, orang dewasa terlibat penuh, terutama dalam hal perencanaan, pengarahan, panduan, hingga aturan.

4. Direct instruction
Kegiatan bermain anak dipilihkan dan diatur sepenuhnya oleh orang dewasa. Bahkan mereka berhak membuat peraturan yang mengikat.

Jenis Permainan yang Bisa Dikembangkan

Menurut Orissa Anggita Anjani, psikolog sekaligus co-Founder @rumah.dandelion, ada beberapa jenis permainan yang bisa digunakan untuk membantu anak dalam proses belajarnya.

• Permainan Fisik

Ada 3 hal yang bisa dilakukan dalam permainan fisik ini, yaitu:
- Motorik kasar: aktivitas yang mendorong anak untuk bergerak aktif, seperti berlari, melompat, memanjat, menari, mengendarai sepeda, tendang/lempar/tangkap bola.
- Motorik halus, yaitu aktivitas yang lebih banyak menggunakan tangan dan jari-jari, seperti menggambar dan menggunting.
- Rough and tumble play, yaitu aktivitas yang melibatkan kontak fisik, emosi, kompetisi, tapi tidak menyakitkan namun menyenangkan. Contohnya bermain pedang bantal.

• Permainan Objek

Tipe permainan ini melibatkan sensori motor, di mana anak mulai memgeksplorasi lingkungan dan objek di sekitarnya. Permainan ini muncul sesaat setelah anak mampu meraih dan memegang benda-benda. Anak melakukan eksperimen dan memanipulasi objek yang mereka temukan dengan cara mengemut, menggigit, memutar, meremas, memukul, menggeser, menumpuk, dan menggoyangkan.

• Permainan Simbolik

Tipe permainan ini mengandalkan kemampuan berpikir simbolik bahwa suatu hal dapat mewakili hal lain. Misalnya, pisang menggantikan telepon genggam Atau tongkat sebagai mic untuk bernyanyi.

Simbol juga mengacu pada bahasa lisan, huruf, angka, gambar, dan simbol musikal. Permainan ini bisa dilakukan saat anak usia 1, ketika anak mampu menggunakan bunyi untuk menyampaikan maksudnya.

• Bermain Peran

Melibatkan situasi imajiner, memberi kesempatan untuk menjadi sosok yang anak mau dan mendalami perannya. Di sini anak belajar peduli dan bertanggung jawab lewat peran yang dimainkannya. Permainan peran ini bisa dilakukan saat anak berusia 2 tahun dan akan semakin kompleks perannya saat usia bertambah.

 • Permainan dengan Aturan

Di sini ada aturan atau instruksi spesifik yang harus dilakukan anak, aturannya bisa dibuat sendiri oleh mereka. Saat bermain dengan yang lain, anak akan belajar berbagi, memahami sudut pandang orang lain, dan bernegosiasi sambil menunggu giliran.




Anak Tetap Bisa Berprestasi Gemilang Meski Orangtuanya Berpisah

Sebelumnya

Waspadai Bahaya yang Mengintai Anak Perfeksionis

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Parenting