post image
Leani Ratri Oktila/ Net
KOMENTAR

LEANI Ratri, atlit Parabadminton lagi-lagi mengukir prestasi dan mengharumkan nama Indonesia di kancang internasional. Tidak tanggung-tanggung, di ajang Paralimpiade di Tokyo beberapa hari lalu, ia meraih 3 medali sekaligus. Dua medali emas dari nomor ganda putri dan ganda campuran dan satu mendali perak di nomor tunggal putri.

Atas prestasi yang diraihnya Ratri dan tim lainnya, Presiden Joko Widodo pun menelepon para peraih medali emas dari cabang olahraga (cabor) para-badminton untuk mengucapkan selamat secara langsung dan mengungkapkan rasa bangganya.

“Saya mewakili seluruh masyarakat Indonesia, seluruh rakyat Indonesia mengucapkan selamat untuk medali emas cabang para-bulu tangkis ganda putri dan juga ganda campuran ya baru saja, untuk Ratri dan Hary untuk ganda campuran, ganda putri Ratri dan Alim,” ujar Presiden di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Minggu (05/09/2021), saat melakukan panggilan video dengan para atlet dan Ketua National Paralympic Committee (NPC) Indonesia, Senny Marbun.

Ucapan selamat tak hanya datang dari orang nomor satu di Indonesia, media sosial @oktila_lr miliknya penuh dengan ucapan selamat dari kawan, rekan dan netizen yang bangga akan prestasi yang telah ia torehkan ini.

Penasaran dengan profilnya, Farah.id mencoba menelusuri dan mencari tahu kegiatan dan sepak terjangnya. Berikut 5 fakta tentang Leani Ratri Oktila :

Bertanding 12 kali

Dalam ajang Paralimpiade di Tokyo ini, Leani bermain sebanyak 12 kali dalam lima hari. Bahkan di tanggal 4 September 2021 ia bertanding sebanyak 4 kali. Apabila diakumulasikan dari 12 pertandingan, Ratri bertanding selama 320 menit, setara dengan 5 jam 20 menit di ajang ini. Di nomor tunggal putri, saat melawan Cheng Hefang, merupakan pertandingan pertandingan terlamanya, 50 menit.

Aktif di bidang sosial dan keagamaan

Mempunyai fisik yang tidak sempurna dan pernah merasakan rasa tak percaya diri, Leani kerap menyambangi para disabiltas untuk berbagi cerita dan menyemangati mereka ke berbagai tempat. Ia pun beberapa kali menjadi motivator untuk anak-anak sekolah.

Berasal dari keluarga atlit badminton

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Leani Ratri Oktila  yang lahir pada 6 Mei 1991. Mempunyai seorang ayah, F Mujiran, yang merupakan atlit badminton di daerahnya, Bersama saudaranya, Leani yang merupakan anak ke dua dari 10 bersaudara berlatih di lapangan bulutangkis yang dibuat ayahnya di rumahnya.

Meski hanya diterangi penerangan seadanya, ia giat berlatih sejak SD selama 6 jam setiap harinya. Leani ikut kejuaran sejak ia kelas IV SD di ajang propinsi. Dari 7 saudaranya yang berlatih badminton, hanya ia yang menorehkan prestasi sampai ke ajang internasional.

Kecelakaan mengubah jalan hidupnya

Manusia boleh berencana tapi Tuhan lebih tahu mana yang terbaik untuk umatNYA. Itulah yang dialami Leani. Ketika sedang senang-senangnya mengukir prestasi di ajang nasional, tiba-tiba saat usianya menginjak 20 tahun (2011)  ia mengalami kecelakaan motor  di Pekanbaru yang membuatnya mengalami cacat permanen dibagian kaki dan tangan.

Salah satu tangannya tak bisa ditekuk dan salah satunya kakinya lebih kecil 7 cm dari yang satunya. Berbagai pengobatan pun dilakukan oleh Leani, hingga dua tahun meski awalnya yak diijinkan oleh kedua orangtuanya, dengan modal nekat dan tak ingin terpuruk ia memutuskan untuk berlatih lagi dan pindah haluan ke atlit penyandang disabilitas dan mendaftarkan diri ke Komite Paralimpiade Nasional Indonesia (NPC) Kampar. Dari sinilah ia semakin berkibar dan mulai mengikuti ajang pertandingan internasional.

Senang membaca buku dan bermain dengan hewan peliharaan

Di tengah jadwal kegiatan latihan dan pertandingan yang cukup padat. Leani mempunyai hobi membaca buku, bermain dengan hewan peliharaan, dan kumpul bersama sahabatnya. Lewat instagram pribadinya ia kerap membagikan kegiatan ini.  Ia pun tengah menyelesaikan pendidikan masternya di Universitas Bantara Sukoharjo.

Dwina Septiani Wijaya, Sosok Penanggung Jawab Percetakan Uang Negara

Sebelumnya

Amal Clooney Terpilih jadi Penasihat Khusus untuk Mahkamah Pidana Internasional

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Women