post image
Ilustrasi/ Net
KOMENTAR

HUBUNGAN antarmanusia (hablumminannas) itu betul-betul unik, kendati telah berbeda alam kita pun masih menanyakan kabarnya. Kita yang masih eksis di dunia ini kerap bertanya-tanya keadaan mereka yang telah berpindah ke alam baka.

Sebagaimana seorang ibu bertanya-tanya setelah kematian anaknya, dimanakah kini buah hatinya itu berada? Pertanyaan itu sering diajukannya meskipun dirinya dapat saja sesering mungkin mengunjungi makam anaknya.

Dapatlah ini kita pandang sebagai sesuatu yang positif, sebab sang ibu tidak memandang kubur sebagai muara manusia yang telah tiada, melainkan ada alam lain, yaitu alam yang diselimuti berjuta tanda tanya.

Sudah banyak ulama, pakar, ahli, ilmuan, profesor dan sejenisnya yang meninggal dunia, akan tetapi belum seorang pun yang kembali kepada kita mengabarkan tentang alam baka. Dengan demikian, alam baka dan segala yang meliputinya masih menjadi misteri.

Namun itu bukanlah berarti kita tidak peduli atau tidak mau tahu dengan alam tersebut. Karena dengan mengetahui kondisi alam baka hendaknya kita makin mempersiapkan diri, karena toh diri kita pun cepat atau lambat akan menempuhnya pula.

Segala yang hidup pasti akan mati. Maka Nabi Muhammad berkenan meladeni berbagai pertanyaan umatnya mengenai akhirat, mulai dari alam kubur, Yaumul Hisab, Padang Mahsyar dan lain-lain.

Uniknya, segenap pertanyaan itu diladeni oleh Rasulullah dengan satu tujuan utama, yaitu agar si penanya lebih mempersiapkan dirinya sendiri untuk kelak melaluinya pula.

Oleh sebab itu, semisal seorang ibu yang bertanya-tanya tentang keberadaan anaknya di alam baka, atau seorang pria yang menanyakan dimana posisi ayahnya yang sudah meninggal dunia, maka hal demikian itu hendaknya punya maksud yang lebih tinggi.

Terlontarnya pertanyaan model itu bukan sekadar bentuk dari kecintaan, tetapi juga kesiapan diri si penanya itu sendiri agar lebih mematangkan bekal untuk kehidupan abadi di akhirat kelak.

Dengan demikian, pertanyaan itu bukan hanya butuh jawaban, melainkan yang lebih penting lagi untuk memperoleh hakikatnya. Pertanyaan tentang orang yang telah mati bukan hanya untuk mengetahui keberadaannya. Akan tetapi pertanyaan itu berbalik lagi kepada penanya, siapkah dirinya dengan kematian itu.

Terlebih kematian itu sendiri dipandang berbeda-beda oleh manusia. Sebagaimana yang banyak terlihat, orang-orang relatif bersedih bahkan memandang buruk terhadap kematian.

Mereka melihat kematian itu sebagai pemutus hubungan dengan orang-orang yang dicintainya. Kematian pula yang dipandang sebagai yang menghentikan kehidupan seseorang.

Sebagian lainnya justru memandang positif terhadap kematian. Kok bisa? Karena bagi mereka hanya kematian satu-satunya gerbang berjumpa dengan Tuhan. Sebab mereka ini adalah golongan yang merindukan Tuhannya.

Bagi mereka pula, hanya kematian satu-satunya jalan menuju surga-Nya. Bagaimana caranya kita akan masuk surga tanpa melalui kematian, ya kan?

Kembali lagi kepada judul sebelumnya, lantas dimanakah manusia itu setelah kematiannya?

Fase-fase kehidupan setelah kematian ternyata cukup panjang melebihi episode kehidupan di dunia.

Terlebih dulu kita melalui alam barzakh, dimana di dalam kubur kita akan berhadapan dengan pertanyaan demi pertanyaan dari malaikat Munkar dan Nakir.

Di alam kubur pula siksa mulai ditimpakan kepada bagi manusia pendosa, dan kenikmatan serta kebahagiaan dilimpahkan kepada orang-orang yang beriman.

Kemudian kiamat pun tiba, segala yang hidup akan mati, alam semesta musnah. Sehingga semua manusia yang telah mati itu dibangkitkan lagi di Padang Mahsyar. Kita akan melalui Yaumul Hisab, persidangan agung di hadapan mahkamah Allah atas segala amal perbuatan kita di dunia.

Muaranya telah sama-sama diketahui, kita akan terpisah, ada yang masuk surga dan ada yang terjerumus di neraka. Perpisahan itu akan lebih menyedihkan tatkala anak di neraka sementara orangtuanya di surga, atau suami di neraka lalu istrinya di surga.

Apabila kini perpisahan dengan anak atau orangtua yang telah meninggal dunia terasa amat berat, maka lebih berat lagi kejadiannya di akhirat. Terlebih kalau yang terjadi anak di neraka lalu orangtua di surga atau sebaliknya.

Maka terkait dengan anak atau keluarga yang terlebih dulu meninggal dunia, agenda utama kita adalah bagaimana caranya membersamai mereka kelak di surga, amin.  

Bagaimana kita menyikapi kematian orang-orang terkasih? Bagaimana kita memahami makna kematian itu sendiri?

Pada hakikatnya, yang penting disadari, setelah melalui gerbang kematian itu kita kembali kepada Tuhan. Dan kita akan mempertanggung jawabkan segenap tingkah laku atau pun amal perbuatan kita selama hidup di dunia.

Jangan Pernah Menyerah, Ada Hikmah di Balik Musibah

Sebelumnya

Mendadak Yatim

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Farah Islam