post image
Ilustrasi/ Net
KOMENTAR

KEIMANAN seseorang tak dipungkiri akan berada dalam keadaan naik dan turun. Misalnya saja, kita seringkali merasa sulit untuk khusyuk dalam salat atau dalam doa. Sangat sulit menjaga pikiran kita untuk berhenti sejenak untuk khidmat bersujud pada Allah. Namun ada pula masanya kita sangat menghayati detik demi detik salat kita. Menangis dalam doa kita. Seolah kita benar-benar sedang berkomunikasi dengan Sang Khalik.

Demikian pula di saat Ramadhan. Entah mengapa ada saja kesibukan duniawi yang membuat 'jarak' antara kita dengan Ramadhan. Semua yang mengakibatkan pikiran kita tidak terfokus untuk mendulang pahala dan ampunan Allah yang terhampar selama 30 hari. Kesibukan yang menyita waktu bahkan tenaga, hanya menghasilkan kesenangan saat tiba waktu berbuka puasa. "Akhirnya..." begitu kita berkata.

Sementara tak ada satu pun amalan yang melengkapi puasa kita. Bahkan siang-siang kita kerap dilalui dalam pusaran ghibah atau kebohongan. Dan begitu malam, kelelahan terlampau mendera. Mata tak sanggup lagi membuka. Salat wajib ala kadarnya. Tarawih tak pernah dikerjakan. Seolah tak ada sedikit pun gairah untuk meraih ketakwaan yang dijanjikan Allah melalui puasa Ramadhan.

Di antara kita juga ada yang tak terpengaruh kesyahduan Ramadhan.

Ada yang tetap bermaksiat. Ada yang menipu. Ada yang mencuri. Ada yang emosinya mudah meledak lalu menyakiti orang lain. Bahkan ada yang membunuh.

Ada yang merampas hak orang lain. Ada yang menuntut hak tapi melupakan kewajiban. Ada yang menyombongkan diri dan merendahkan orang lain. Ada yang mengejar sensasi hingga mengabaikan moral. Ada yang memelihara suudzan (buruk sangka) dan hasad (dengki) lantas meninggalkan tawadhu (kerendahan hati). Ada juga di antara kita yang dalam hatinya selalu menginginkan keburukan terjadi dalam hidup orang lain.

Lain lagi mereka yang mengaku ingin 'menjaga' puasa, lalu memilih tidur dari pagi hingga sore hari. Padahal waktu tersedia baginya untuk bertadarus atau menambah salat sunah dan ibadah lain. Mereka memilih larut dalam kesia-siaan. Tidak ingin menambah amal saleh. Tidak ingin meningkatkan keimanan. Enggan menjadi Muslim yang beruntung.

Rasulullah saw. bersabda, "Celaka orang yang berjumpa dengan bulan Ramadhan kemudian keluar dari bulan tersebut namun dosa-dosanya tidak diampuni oleh Allah." (HR. Tirmidzi)

Celakalah kita yang berpuasa di bulan Ramadhan hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Sungguh merugi bila dosa-dosa kita tidak diampuni setelah Ramadhan berlalu.

Bertaubat di bulan Ramadhan adalah sebuah keistimewaan. Tak banyak orang yang mampu melepaskan segala atribut dunia, berpasrah, merendah, dan memohon ampun kepada Allah Swt. Padahal beristighfar sepanjang hari di bulan Ramadhan adalah satu jalan untuk mencegah kita menjadi Muslim yang merugi dan celaka selama bulan suci.

Puasa bukan alasan untuk bermalas-malasan. Marilah melihat teladan yang diberikan sahabat Nabi, Abu Thalhah. Ia selalu berdiri paling depan membela Nabi dan memperjuangkan kemuliaan Islam. Tak terbilang berapa besar harta benda yang ia korbankan untuk Islam.

Salah satu keistimewaan Abu Thalhah adalah ia sering berpuasa dan berperang sepanjang hidupnya. Bahkan ia meninggal ketika sedang berpuasa dan berperang di jalan Allah.

Setelah 30 tahun Nabi Muhammad meninggal dunia, Abu Thalhah tak pernah putus berpuasa kecuali saat hari raya. Dan semangat jihadnya tak pernah berkurang meski umurnya memasuki usia sepuh.

Di masa pemerintah Khalifah Utsman bin Affan, ketika umat Islam hendak berperang di lautan, Abu Thalhah pun bersiap untuk berangkat. Anak-anaknya melarang. Memintanya beristirahat karena ayah mereka telah berperang bersama Rasulullah, Abu Bakar, hingga Umar bin Khathab.

Namun apa jawab Abu Thalhah?

Ia membaca ayat ke-41 dalam surah At-Taubah, "Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui."

Abu Thalhah ikut berperang hingga jatuh sakit lalu meninggal dunia. Ia begitu bersungguh-sungguh mengejar rahmat dan ampunan Allah Swt. Puasa menjadikannya seorang yang beruntung, insya Allah.

Tak malukah kita pada Abu Thalhah?

 

 

 

 

Close X

Perempuan, Lebaran, dan 3 Jalan Memaknai Fitri di Tengah Pandemi

Sebelumnya

Sudahkah Kita Kembali ke Fitrah?

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Farah Islam