post image
Pernikahan akan terasa sempurna justru di saat pasangan mampu mengatasi berbagai perbedaan dan mengolahnya menjadi sikap saling menghargai dan saling melengkapi/ Net
KOMENTAR

TAK ada kehidupan rumah tangga yang sempurna tanpa sekali pun terjadi perbedaan pendapat dan perdebatan. Sebaliknya, pernikahan akan terasa sempurna justru di saat pasangan mampu mengatasi berbagai perbedaan dan mengolahnya menjadi sikap saling menghargai dan saling melengkapi.

Pernikahan adalah sebuah jalan untuk sepasang insan menemukan versi terbaik diri mereka. Masing-masing tidak terpaksa untuk berubah hanya demi menyenangkan pasangannya, namun berubah karena mereka menyadari peningkatan kualitas diri sejatinya adalah kebutuhan setiap manusia. Seseorang harus memiliki kualitas diri yang baik untuk bisa menjalani kehidupan yang baik.

Tantangannya adalah, upaya memperbaiki diri bagi pasangan yang menikah harus dilakukan berbarengan. Selaras. Dengan demikian, frekuensi keduanya akan selalu sama. Apa yang dianggap baik oleh suami, dipandang baik oleh istri. Apa yang tidak menjadi prioritas di mata istri, tidak dirasa penting oleh suami.

Jika hanya satu yang berusaha berbenah diri sedangkan yang satu lagi menolak untuk beradaptasi dan memperbaiki diri, maka pernikahan menjadi timpang. Menjauh dari sempurna. Sekali pun mereka mencoba mengobarkan toleransi, itu tak akan bertahan lama.

Karena rumah tangga bukan melulu tentang cinta, maka memertahankan keutuhan pernikahan membutuhkan energi yang besar. Harus ada effort berisi sinergi antara niat mulia, kesadaran, kesabaran, kesungguhan, dan kasih sayang.

Mengapa kita mesti berjuang untuk bertahan dari amukan badai rumah tangga? Berikut ini beberapa alasan yang bisa kita renungkan bersama.

#1 Cinta bukan sekadar menikahi orang yang sempurna. Pada kenyataannya, kita juga menginginkan hidup bersama dengan orang yang mampu menikmati ketidaksempurnaan kita.
Maka kekurangan pasangan tidak sepantasnya dijadikan alasan untuk berpisah. Daripada membenci kekurangannya, lebih baik jika kita membantunya berubah ke arah positif.

#2 Pernikahan membentuk diri kita menjadi pribadi yang tidak egois. Bagaimana pun, menikah membentuk kita menjadi seseorang yang bisa menempatkan kebahagiaan orang lain di atas kebahagiaan kita.

Ketika kita menyerah dalam pernikahan, kita seperti menyesali ketidakegoisan dan kebaikan yang kita lakukan.

#3 Pernikahan mengajarkan kita tentang terluka dan bangkit dari luka. Ketika mencintai seseorang, kita bisa saja dibutakan oleh cinta. Atau kita bisa terluka karena tidak bisa menerima ketidakidealan dalam diri orang tersebut.

Menikah mengajarkan kita untuk bisa hidup berdampingan dengan orang tercinta yang mungkin dalam perkataan dan perbuatannya akan melukai hati kita. Kita belajar untuk tidak mudah terbawa perasaan. Seiring waktu, kita dan pasangan seharusnya bisa saling memahami hingga tak lagi saling melukai.

#4 Pernikahan membuat kita belajar memandang segala sesuatu dari sudut pandang orang lain (pasangan). Kita belajar untuk memahami pemikiran dan perasaan pasangan tentang berbagai hal yang pada akhirnya akan menumbuhkan empati dalam diri kita.

Di atas semua alasan tersebut, penting bagi kita mengingat kembali bahwa pernikahan bukan semata janji kita kepada sesama manusia melainkan sebuah janji agung di hadapan Sang Khalik.

Selama suami istri masih memiliki itikad baik dan tidak ada nilai syariah yang dilanggar, jangan lelah berjuang untuk bertahan. Mencurahkan segala daya untuk menyelamatkan bahtera rumah tangga agar tak karam. Bersama-sama menyatukan hati yang mungkin telah terpisah. Sambil tak lelah berdoa agar tetes keringat dan air mata kita mendapat ridha-Nya.

 

 

Close X

5 Tipe Ibu Mertua, Ada Apa di Balik Sikap Mereka?

Sebelumnya

Pandemi Malah Bikin Kecanduan Belanja? Begini Cara Mengatasinya, Bunda!

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Farah Family