post image
Pandemi telah lama melanda, pola kehidupan manusia berubah dramatis, tapi peran ibu sebagai madrasah utama tidak tergantikan, malah menemukan kekuatannya tersendiri/ Net
KOMENTAR

JELAS sekali, tidaklah dapat disamakan kondisi ibu-ibu di zaman unta tunggangan andalan menjelajahi padang pasir, dengan ibu-ibu yang kini mengarungi era milenial. Tantangan setiap zaman pastinya berbeda, dan kalau tidak bijaksana dalam bersikap, kita bisa ditelannya hidup-hidup.

Namun saripati ummul madrasah atau ibu adalah pendidik utama tetap akan terus aktual, mengiringi perputaran waktu. Pandemi telah lama melanda, pola kehidupan manusia berubah dramatis, tetapi peran ibu sebagai madrasah utama tidak tergantikan, malah menemukan kekuatannya tersendiri.

Peran guru atau malah fungsi sekolah makin beralih ke pundak ibu, karena anak-anaknya belajar dari rumah. Mau tidak mau, suka atau senang, ibulah yang kini jadi guru utama, pilar pendidikan bangsa. Dahulu ibu yang  membantu tatkala anak di rumah mengerjakan tugas dari sekolah, kini ibu yang mengajarkan dari hulu hingga hilir. Guru-guru hanya memberikan bahan berikut tugas-tugasnya secara online, berikutnya ibu yang berjibaku.

Dari itu, tema ibu sebagai madrasah kian menunjukkan kebenarannya di masa yang begini berat. Maka ulama kharismatik, Yusuf Al Qaradhawi memberikan sanjungan dalam bukunya Fatwa-Fatwa Kontemporer Jilid 2, semoga Allah memberi rahmat kepada penyair Sungai Nil, yaitu Hafizh Ibrahim, ketika ia berkata: 

Al-Ummu madrasatul ula,

iza a’dadtaha

a’dadta sya’ban thayyibal a’raq.

Ibu adalah madrasah, lembaga pendidikan

jika Anda mempersiapkannya dengan baik

maka Anda telah mempersiapkan bangsa yang baik pokok pangkalnya.

Namun, tidak akan tiba-tiba saja seorang ibu akan langsung sukses sebagai pilar utama pendidikan. Tentunya diperlukan berbagai aspek pendukung, terlebih di masa pandemi yang lagi mengganas ini.        

Berikut ini akan menjadi indikator dari kesuksesan seorang ibu yang menjadi madrasah bagi anak-anaknya, di antaranya:

Indikator pertama, pahami dulu hakikat ibu adalah pendidik, bukan sekadar pengajar.

Di sini ibu bukan hanya transfer knowledge melainkan lebih penting lagi transfer value. Bahkan, keberhasilan anak-anak menyerap ilmu pengetahuan, tidak terlepas dari value atau nilai-nilai utama yang ditanamkan ibu tatkala mendidik anak-anaknya.

Sebelum ibu mengajarkan matematika, kimia, fisika dan sebagainya, lebih penting bagi ibu mendidik anak-anaknya terlebih dulu menyerap nilai-nilai utama dalam belajar atau dalam kehidupan itu sendiri, seperti mulianya perjuangan, pentingnya kerja keras, terhormat ilmu, berharganya kejujuran, keutamaan mandiri dan lain-lain.

Apabila nilai-nilai ini berhasil ditanamkan, maka pendidikan itu akan membuahkan hasil yang manis. Karena akan mengobarkan semangat anak-anak untuk lebih proaktif sekaligus mandiri dalam belajar; sehingga anak tidak menunggu disuruh ibu, melainkan mengerjakan dengan kesadaran; meski ibunya tidak memahami materi, anak akan mencari alternatif lain untuk mengetahuinya; bahkan ketika ibunya sedang tidak ada pun anak-anak tetap berkobar semangatnya dalam menuntut ilmu. Itulah pentingnya peran ibu sebagai pendidik yang menanamkan nilai-nilai utama nan mulia di sanubari anak-anaknya.

Apabila seorang ibu hanya mengajarkan ilmu tanpa menanamkam nilai-nilai utama, sang ibu akan capek sendiri, ya karena seolah-olah berjuang sendirian. Dan model pengajaran itu sama halnya seperti menempa besi yang dingin, hanya berujung kesia-siaan. Jadi tanamkanlah nilai-nilai utama sebagai pelajar sejati hingga anak-anak itu sendiri yang keranjingan ilmu.

Indikator kedua, pentingnya membekali diri.

Dalam perjalanan sehari dua hari saja kita butuh bekal, apalagi dalam menempuh dunia pendidikan yang amat panjang masanya dan rumit seluk-beluknya ini. Kini ibu-ibu dituntut lebih cerdas, lebih cepat memahami banyak sekali cabang ilmu dan mampu segera mencarikan solusi dari persoalan pembelajaran. Bahkan ibu-ibu milenial juga wajib melek teknologi informasi, maklum segalanya sudah berlangsung secara digital.

Bagaimana caranya?

Ya, pastinya dengan membekali diri. Makanya sebelum mengajar kita perlu belajar, sebelum mendidik kita telah terlebih dulu terdidik. Ingatlah demonstrasi yang ditujukan oleh emak-emak kepada Rasulullah di masa lalu!

Begini kejadiannya:

Dari Abu Sa'id al-Khudri, dia berkata, seorang perempuan datang kepada Rasulullah saw. dan berkata, “Wahai Rasulullah! Kaum laki-laki senantiasa menyimak hadismu, maka sediakanlah waktu khusus untuk kami agar dapat belajar ilmu agama kepadamu.”

Rasulullah kemudian bersabda, “Berkumpullah kalian pada hari ini dan ini, di tempat ini.”

Close X

Istikharah Itu Erat Hubungannya Dengan Husnudzan

Sebelumnya

3 Enggan Yang Merusak Jernihnya Hati

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Farah Islam