post image
Semoga di akhirat nanti kita dipandang oleh Allah dengan sepenuh cinta-Nya/ Net
KOMENTAR

BETAPA beratnya beban batin, betapa sesak rasanya dada kalau kehadiran kita tidak dianggap, tak dilihat atau malah tidak dikasih muka oleh orang lain. Dan akan jauh lebih berat, apabila kejadian ini menimpa di akhirat.

Betapa pedihnya hati, kalau di akhirat nanti Allah tidak sudi memandang diri kita, atau tidak lagi menganggap kita ada. Apalagi kemudian kita pun mendapatkan azab yang menyedihkan. Dan sebelum kejadian malang ini melanda, ada baiknya kita meresapi hadis berikut ini:

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, “Tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak disucikan Allah, juga tidak dilihat Allah dan bagi mereka azab yang pedih; orang tua yang berzina, penguasa yang dusta dan orang miskin yang sombong.” (HR. Muslim dan Nasa'i)  

Terkait dengan hadis ini, Khalid Abu Syady dalam buku Dekati Surga, Jauhi Neraka mengutip, hal yang menjadikan kejahatan mereka begitu besar diungkapkan oleh Qadhi 'Iyadh:

“Sebabnya, karena orang tersebut melakukan maksiat padahal mereka tidak perlu melakukannya, dan dorongan untuk melakukannya pun sangat lemah. Pada hakikatnya, memang tidak ada uzur untuk berbuat dosa bagi siapapun. Namun, dalam dosa-dosa ini benar-benar tidak memiliki alasan yang kuat untuk dikerjakan sehingga terkesan ada bentuk pembangkangan dan peremehan terhadap hak Allah, dan ia benar-benar bermaksud mendurhakai Allah, tidak ada tujuan lain.”

Secara logika perbuatan tiga golongan yang dikecam oleh Rasulullah ini memang sulit dinalar; bagaimana bisa orang sudah tua bangka masih berzina? Bukankah dirinya telah uzur dan hasrat seksual telah merosot tajam? Bagaimana pula penguasa perlu berdusta, bukankah kekuasaan telah berada di tangannya? Buat apa dusta baginya ketika rakyat takut padanya? Nah, bagaimana pula orang miskin dapat bertingkah sombong? Apa yang hendak dibangga-banggakannya?

Keanehan sikap tiga golongan ini menarik untuk dikaji. Karena mereka memang orang-orang yang menyalahi nalar yang sehat.

Pertama: zina itu sangatlah buruk, karena yang rusak bukan hanya dua pelakunya, juga menghancurkan tatanan masyarakat. Anak-anak yang tak bersalah akhirnya menjadi korban.

Masyarakat juga berantakan, karena seringkali tidak diketahui nasab hasil dari perbuatan nista itu. Bahkan maraknya aborsi, yang sama dengan pembunuhan itu, juga kerap berpangkal dari perzinaan.  

Dan yang menjadi lebih buruk lagi, apabila orang-orang yang telah berumur, bahkan ubanan, tetapi masih bermaksiat. Bukan berarti anak-anak muda tidak tercela berzina, tetapi jika pelakunya telah tua, maka dirinya amatlah keterlaluan. Seharusnya orang-orang yang tua lebih mampu mengendalikan diri. Pantaslah Allah tiada sudi melihatnya di akhirat.

Pada surat Al-Isra ayat 32, yang artinya, “Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.”    

M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Lubab menguraikan, bahwa ayat ini menegaskan bahwa: Jangan mendekati zina dengan melakukan hal-hal atau dalam bentuk mengkhayalkannya, sehingga dapat mengantar kepada keterjerumusan dalam keburukan itu, karena zina adalah perbuatan amat keji yang melampaui batas dalam ukuran apa pun dan ia adalah jalan yang buruk dalam menyalurkan kebutuhan biologis.

Jangankan melakukan perzinaan, mendekatinya saja telah diharamkan oleh agama. Sehingga khayalan yang menjurus kepada hal itu pun termasuk yang dilarang menurut Quraish Shihab. Sebab dalam jebakan zina ini, banyak sekali setan yang beraksi. Sedikit saja mendekatinya, maka akan mudah bagi setan menjerumuskan manusia ke jurang nista itu.

Maka selingkuh (yang kini sering diplesetkan menjadi; selingan indah keluarga utuh) juga termasuk jalan yang mendekatkan pada perzinaan, maka jauhilah sejauh-jauhnya. Selingkuh bukanlah selingan, melainkan gerbang utama yang dibuka oleh setan menuju jurang perzinaan.

Kedua, penguasa yang dusta, yang terkadang tidak segan memakai sumpah atas nama Allah tetapi kemudian mengingkarinya. Sesungguhnya betapa beratnya pelantikan pejabat, karena ada kitab suci Al-Qur’an di kepalanya saat membacakan sumpah jabatan.

Dan bagaimana bisa dalam bekerja dia malah mengingkari sumpah jabatannya? Maka sungguh dirinya telah berdusta, bukan hanya kepada rakyat tetapi juga terhadap Tuhan.

Dustanya seorang penguasa itu adalah kekejian yang disandingkan dengan buruknya perzinaan. Karena sekali penguasa berdusta, maka banyak sekali orang yang dirugikan. Malangnya lagi, mereka yang dirugikan itu adalah rakyat jelata yang tiada berdaya menuntut haknya yang didustakan itu.

Hajat hidup orang banyak berada di tangan penguasa, lalu dipakainya dusta dalam rangka merampok hak-hak hidup rakyat. Betapa buruknya perilaku tersebut, pantaslah Allah tiada sudi melihatnya di akhirat, dan menyiapkan siksa yang menghinakan dirinya.

Ketiga, orang miskin yang sombong. Apakah ada? Tentulah ada, meski terdengar agak menggelikan, kalau tidak ada mana mungkin Rasulullah membahasnya.

Apa yang dapat disombongkan oleh orang miskin? Banyak. Karena sombong itu memang banyak aspeknya.

Pada QS. Lukman ayat 18, yang artinya, “Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.”

Orang miskin pamer kesombongan dengan cara memalingkan muka (meremehkan) manusia lainnya, berjalan dengan angkuh dan suka membangga-banggakan diri. Dalam praktiknya, kesombongan ini dapat melebar kemana-mana. Berbahaya sekali kesombongan itu!

Lucunya, orang miskin menyombongkan diri dengan sesuatu yang tiada dimilikinya, tidak ada dalam kenyataan. Berlagak kaya tetapi dari timbunan hutang, bergaya keren tetapi dari pinjaman. Biar tekor asal kesohor!

Orang kaya, berpangkat, punya kuasa dan lainnya yang sombong merupakan hal yang buruk, adapun orang miskin yang sombong jauh lebih buruk lagi. Karena mereka ini mengingkari kenyataan, hidupnya di alam khayali yang memabukkan.  

Close X

Makna 'Tangan Allah' di Atas Tangan Mereka

Sebelumnya

Laila binti Abi Hatsmah; Melihat Dengan Cahaya Allah

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Farah Islam